Babak Satu – Journey
Babak Satu (1/3)
cw // myth
Dini hari setelah istirahat semalaman di posko pendakian, semua orang yang bergabung dalam tim pencarian bunga Reksa sudah bersiap. Mereka akan naik sebentar lagi, setelah semua administrasi selesai dilakukan dan setelah semuanya menghabiskan sarapan masing-masing di warung Indomie dekat posko. Mereka semua saling bercengkrama sembari menikmati makanan yang hangat. Beberapa ada yang mengirim sanak keluarga kabar kalau mereka akan mendaki sebentar lagi, tak terkecuali, Eren. Setelah ia sudah menyempati mengirim kabar pada Zeke dan sahabat-sahabatnya, Eren kemudian menghabiskan kopi hangat yang masih tersisa sedikit di gelasnya.
Semua persiapan telah selesai begitu pun masalah administrasi pencatatan data pendaki dan sarapan mereka. Setelahnya, mereka bergerak naik mendaki Gunung Koral. Gunung ini merupakan gunung yang masih asing untuk dijadikan ajang pendakian bagi pendaki, belum menjadi pilihan favorit. Sejauh mereka menginap dari semalam tidak ada pendaki lain yang datang, meskipun hari ini hari Sabtu, yang jika biasanya gunung lain sudah antre berjejeran para pendaki yang ingin menaklukan gunung tersebut hingga sampai puncak.
Masing-masing anggota tim Reksa telah menggendong tas carrier nya sendiri, bersiap untuk melangkah maju menuju pos satu. Perjalanan kali ini, Reiner menjadi navigator yang mana bertugas untuk berjalan paling depan, kemudian Levi di belakang Reiner yang bertugas sebagai leader dalam tim ini, kemudian di belakang Levi secara berurutan yaitu, Eren, Historia, dan Pieck. Porco berjalan di belakang Pieck dan Berthold sebagai logistik berjalan di belakang Porco. Berthold membawa carrier terberat dan terbesar. Dengan begitu, Floch menjadi orang yang berjalan paling belakang sekaligus bertugas sebagai sweeper. Untuk pendakian menuju pos satu, mereka berada di jarak yang dekat satu sama lain, tak lebih dari dua meter.
Sejauh mereka melangkah, sudah sekitar 30 menit, pendakian dari basecamp belum terlalu melelahkan, karena jalanan terbilang landai walaupun penuh bebatuan. Di sekeliling track pendakian terlihat jelas perkebunan teh yang menyejukan mata dan semakin menuju atas, pemandangan berganti menjadi perkebunan sesayuran dan pangan khas dataran tinggi, seperti kol, kentang, wortel, brokoli, dan sebagainya. Beberapa kali saat berjalan, mereka bertemu dengan warga sekitar yang sudah pagi buta menuju ke lahan mereka untuk mengurus tanamannya.
Sampailah mereka di sebuah gerbang yang ditandai dengan dua menara gagah saling berhadapan. Hal ini seperti tanda kalau mereka sudah memasuki dunia Gunung Koral, tanah yang mereka akan lalui benar-benar tanah langsung dari gunung ini. Eren memeriksa jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 06.30 hal ini berarti sudah sekitar satu jam mereka berjalan dari basecamp. Semakin memasuki gunung, nyanyian nyaring dari sekelompok serangga menemani perjalanan mereka. Cicada, jangkrik, dan siulan burung bersahutan keras dan tanpa henti, sesekali terdengar merdu, tetapi kadangkalanya menyakitkan telinga. Gunung Koral termasuk gunung yang tertutup, vegetasi-vegetasi cukup tinggi dan rute pendakian sudah terbilang sempit untuk perjalanan ke pos satu, karena kira-kira hanya bisa cukup untuk dua orang saja yang berjalan berdampingan.
Regu Reksa memutuskan untuk tetap berjalan seperti formasi awal, tetapi jarak antar anggota yang dilebarkan. Untuk saat ini, jarak mereka sekitar lima meter satu sama lain. Terus berjalan dengan fokus, Eren memerhatikan setiap langkahnya dengan pasti. Aura gunung ini cukup mampu membuatnya sedikit bergidik ngeri. Namun, ia hiraukan saja. Selama masih ada teman-teman yang lain, ia hanya memikirkan hal yang bagus-bagus menghipnotis diri sendiri agar terus berpikiran positif. Sugesti itu cukup berguna untuk dirinya untuk sampai di pos satu.
Sesampainya di pos satu mereka beristirahat sejenak atas perintah Levi, setelah ia melihat Historia yang cukup kepayahan. Mereka pun saling membantu untuk menggelar alas duduk. Reiner mengeluarkan termos berisi kopi panas yang tadi ia isi di warung dan menawarkan ke semuanya.
“Ayo, kita jalan lagi.”
Perintah Levi disambut persetujuan oleh semuanya. Setelah kurang lebih setengah jam beristirahat, mereka kembali bergegas melanjutkan perjalanan. Perjalanan mereka ke pos dua hampir mirip dengan perjalanan ke pos satu. Jalanan masih landai, meskipun terbilang licin; sedikit lebih menantang. Mereka harus berhati-hati dalam melangkah. Di sekeliling rute pendakian sangat terasa asing, penuh hijauan, dan lumut khas hutan hujan tropis. Pohon-pohon berkambium tebal menjulang sangat tinggi ke atas dengan daun-daunnya sangat lebar dan lebat hingga menghalangi penetrasi cahaya matahari untuk sampai ke tanah secara utuh.
Cahaya yang menyinari mereka seperti lingkaran-lingkaran dari atas ke bawah yang saling menyambung dan tersebar acak seperti cahaya lampu jalan di malam hari yang diberi corong. Tidak jarang juga, mereka mendapati pohon kayu raksasa yang tumbang di sekelilingnya. Namun, dari suasana yang terasa misterius itu, bau alam tanpa polusi sangat terasa memanjakan paru-paru mereka. Bau tanah, bau pohon, bau air yang bercampur tanah dengan suhu udara yang terbilang dingin bercampur menjadi satu dengan sangat seimbang. Tidak pernah Eren rasakan udara sebersih ini dan seringan ini. Hidungnya seakan dicuci total. Kalau bisa, ia bahkan ingin menyimpan udara di sini untuk ia bawa pulang nanti. Akan tetapi, otaknya tiba-tiba langsung bersiaga khawatir memikirkan untuk mencari tanah yang cukup lapang bagi mereka untuk tidur di malam hari, karena pohon-pohon yang sangat rapat dan besar tersebar sangat merata seperti ini.
Jarak antara pos satu dengan pos dua terbilang dekat, kurang dari tiga puluh menit mereka sudah sampai di titik ini. Levi kemudian berkata untuk berhenti sebentar. Setelah mengatakan itu, semua berkumpul mendekat. Terasa dia memandang satu persatu anggota, fokusnya terlihat untuk melihat Historia terlebih dahulu. Perempuan itu di mata Eren juga tidak nampak merasakan letih, tidak seperti sewaktu di pos satu. Terlihat Levi mengecek secara sekilas yang lain dan yang terakhir Eren. Levi memandang Eren cukup lama, ia mengecek Eren secara penuh, dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Setelah itu, ia langsung memerintahkan mereka lanjut berjalan ke pos tiga. Sebisa mungkin ia memangkas waktu agar proyek ini bisa selesai lebih cepat.
Perjalanan dilanjutkan dan masih sama dengan formasi awal. Terasa berjalan semakin atas, rute pendakian semakin-semakin menantang. Jalanan tidak lagi landai, tetapi mulai terjal dan menaik. Jalanan juga licin dan banyak pohon tumbang di tengah jalan yang sudah lapuk, cukup membahayakan dan menguras fokus mereka. Dari rute ini, terasa juga sudah jelas jurang-jurang yang semakin mendekati rute.
“Perhatikan jalan, hati-hati. Fokus.” Levi berkata cukup keras hingga seperti dapat didengar semua anggotanya. Eren akui ia sedikit kepayahan untuk menyusuri rute ini. Sebisa mungkin ia mempertahankan fokusnya seratus persen. Jalanan yang terjal itu, menjadikan jarak antara mereka kurang dari lima meter karena mereka sangat hati-hati.
Reiner dan Levi terutama, tidak berjalan terlalu jauh dan cepat. Ketika ada tanjakan terjal, mereka akan membantu yang lain untuk naik. Sama seperti keadaan sekarang ini, nampak di depan mata, tanjakan yang cukup membuat Eren menciut. Levi mengulurkan tangannya, Eren ragu menerima, karena dia takut jatuh ke jurang di sebelah kirinya. Badannya ia tempelkan ke tebing yang menjulang tinggi di sebelah kananya. Jurang itu seakan terasa sangat dekat sekali dengannya, menarik tubuhnya.
“Eren. Fokus, jangan perhatikan jurangnya. Perhatikan saya saja, cukup saya saja.” Mata Levi membius tepat di kedua matanya. Seakan mengalirkan rasa aman yang luar biasa. Ia kemudian menggapai tangan Levi dan menggenggam erat, mencoba naik. Susah payah, carrier yang digendongannya terlalu berat untuk bisa ia angkat ke atas. Levi, walaupun begitu, tidak nampak kepayahan. Lelaki itu sangat kuat sekali.
“Eren, ayo.”
“Berat Pak, saya tidak bisa.”
“Bisa, saya kuat narik kamu.”
“Tidak Pak. Carrier, saya gak kuat ngangkatnya.”
“Turun Eren, balik sebentar.” Eren pun menurutinya, ia balik dan menapak ke tempat semula, dengan Historia dan Pieck yang sudah menunggu seperti sedang mengantre untuk naik. Levi melepaskan tangan Eren, begitu pun juga dengan carrier yang digendongnya. Secara tiba-tiba ia turun ke bawah, menyuruh Eren melepas carrier miliknya. Dengan cepat ia kemudian mengangkat carrier milik Eren dan mengopernya ke Reiner untuk ia bawa ke atas. Levi kembali turun, dan sekarang ini Reiner yang mengulurkan tangannya pada Eren.
“Ayo Eren naik,” ucap Reiner. Eren segera menggapainya dan berusaha untuk naik ke atas. Ia kemudian menggendong kembali carrier merah miliknya itu. Terlihat dari atas tanjakan, Levi yang sedang memindahkan carrier Historia dan Pieck secara berurutan sendirian. Tidak ada kendala setelahnya. Untuk Porco bahkan dia bisa naik tanpa melepas carrier. Kecuali saat Bertold akan naik, tas carrier nya yang besar itu sangat menyusahkan. Memindahkannya ke atas pun Levi tak kuat mengopernya seorang diri pada Reiner dan Berhtold pun kepayahan jika sendirian. Untuk Floch, tidak ada kesulitan yang berarti.
Setelah kejadian tanjakan yang cukup memakan waktu, rute pendakian tidak sesulit sebelumnya. Walaupun begitu jalanan masih licin dan mereka harus tetap fokus menapak. Sekitar satu jam setelahnya, mereka sampai di pos tiga. Levi memutuskan untuk beristirahat sejenak. Eren kembali mengecek jam tangannya, sampai di pos tiga ini sudah menunjukkan pukul 09.18.
Mereka kemudian menggelar tikar tipis dan Floch mengeluarkan bekal logistiknya. Ia mengeluarkan gula merah, biskuit, dan protein bar.
“Silakan dimakan, di hutan seperti ini jangan sampai perutnya kosong dan energinya juga kosong.” Semua orang mengangguk paham. Masing-masing memilih satu yang ditawarkan oleh Floch dan memakannya segera. Mereka beristirahat cukup lama kali ini karena memang perjalanan melewati dua pos cukup melelahkan.
“Oh ada info, usahakan minum secukupnya. Jangan terlalu banyak dan sedikit. Harus menghemat logistik terutama air, untuk jaga-jaga saja.” Reiner berkata seperti itu setelah ia melihat Eren yang minum dengan rakusnya. Sebagai orang yang memang boros minum, terlebih melakukan perjalanan yang melelahkan, Eren harus minum dalam jumlah yang banyak agar kembali bugar. Akan tetapi, nasihat Reiner memang masuk akal dan dia pun tidak mau beragumen dengan Reiner.
“Iya, Ner.”
“No hard feeling ya, Ren.” Reiner berkata seperti itu sambil tersenyum setelah ia merasa khawatir jika nasihatnya menyinggung Eren.
“Santai,” balas Eren ikut tersenyum.
“Pak Levi, rencananya masih sama? Langsung summit hari ini?” Porco yang tiba-tiba menanyakan timeline perjalanan mereka saat semuanya sedang sibuk mengunyah makanan.
“Sejauh ini begitu rencananya, karena sampai sekarang masih sesuai perkiraan.”
“Baik Pak.”
“Kita jalan 10 menit lagi,” ucap Levi setelah menilik jam tangannya.
“Baik Pak.” Historia yang mewakili untuk menjawab, sedangkan yang lain hanya mengangguk paham.
Pukul 09.45 mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, mereka mengalami perubahan formasi. Hanya posisi Floch dan Reiner saja yang berubah. Floch menjadi navigator berjalan paling depan dan Reiner menjadi sweeper yang berjalan di paling belakang. Jarak mereka antar satu sama lain cukup jauh sekitar 10 meter. Rute ke pos 4 tidak seekstrem tadi sehingga lebih memudahkan mereka berjalan, tetapi jalannya berlika-liku.
Meskipun begitu, perjalanan ke pos 4 mulai terasa berat, bukan medannya saja, tetapi hawa yang dirasakan juga semakin berat. Entah kenapa Eren merasa lelah, sangat lelah hingga jalannya sangat pelan. Jarak ia antara Levi semakin jauh, sedangkan jaraknya dengan Historia semakin dekat. Hingga Eren berhasil disusul oleh Historia.
“Eren, are you okay?” Historia bertanya dengan ekspresi khawatir. Sekilas Eren memandang Historia dan nampak sekali dia bahkan masih bugar. Padahal bisa dibilang fisik paling lemah diantara mereka semua ialah Historia. Hal ini membuat dirinya berpikir ada yang salah.
“I’m okay,” balasnya singkat.
“Istirahat dulu?” tawar Historia. Eren mengangguk dan mengambil bekal gula merah miliknya, memotongnya sedikit dan segera memakannya. Tidak terasa Pieck juga telah menyusul mereka, kemudian Porco, Berthold, dan bahkan Reiner.
Mereka semua menunggu Eren membaik. Semuanya menatap khawatir padanya.
“Bisa lanjut jalan lagi, Ren?” tanya Porco. Eren mengangguk.
“Ok,” balasnya.
“Pelan-pelan aja jalannya.” Saran dari Pieck. Eren pun kembali berdiri dibantu oleh Reiner dan Porco. Mereka pun kembali berjalan dengan formasi awal. Langkah Eren sangat terasa berat sekali. Walaupun ia baru melangkah belum terlalu jauh seakan dia sudah melakukan lari marathon 10 kilometer.
“Sebentar,” ucapnya meminta waktu sambil terengah-engah tak wajar. Semua yang di sana seakan memikirkan hal yang sama. Ada yang tidak beres berdasarkan apa yang dialami oleh Eren, tapi tentu mereka memendamnya sendiri.
“Ya sudah, istirahat dulu aja.” Saran Porco. Mereka semua pun mencari tempat yang landai dan duduk saling dekat satu sama lain.
“Eren, fokus. Pikiran hal positif aja. Oke?”
“Iya, gue paham Ner.” Rasa lelah Eren seakan sangat lama menghilang. Hingga, terlihat Levi dan Floch yang kembali lagi menyusul, mendekati mereka. Raut panik dan khawatir sangat terlihat jelas di wajah keduanya.
“Kenapa kok kalian malah istirahat? Gue sama Pak Levi khawatir nyariin kalian.” Tanya Floch dengan lirh secara cepat meminta penjelasan kepada Reiner dan Berthold. Reiner hanya memberi cue untuk melihat ke arah Eren. Seketika Floch terdiam, karena jelas, amat jelas Eren sangat terengah-engah mengambil napas.
“Eren, kamu kenapa?” kali ini Levi yang bertanya.
“Reiner, ada masalah?” lanjutnya bertanya pada Reiner.
“Tidak Pak, Eren hanya butuh istirahat.” Sebisa mungkin Reiner tidak menyebut kata-kata sakral yang sudah kondang dihindari untuk diucapkan di kalangan pendaki, seperti lelah contohnya dan kata-kata lain yang bermakna untuk mengeluh. Mereka dengan sabar menunggu Eren hingga merasa lebih baik. Kali ini Levi memutuskan untuk mengganti formasi. Floch tetap di depan, sedangkan Levi akan bertukar tempat dengan Eren, selebihnya tetap sama, dan jarak mereka yang tidak boleh terlalu jauh antar satu dengan lainnya.
Semuanya dengan cepat setuju. Dengan dibantu Levi, Eren berdiri dan mulai berjalan. Floch berjalan dengan sangat lambat kali ini, ia tidak akan meninggalkan timnya lagi. Begitu pun yang lain, sudah mengerti ada suatu hal yang aneh dan mereka tidak bisa menghiraukannya begitu saja.
Eren berjalan dengan sangat amat pelan, ia bahkan membutuhkan tracking pole untuk membantunya melangkah. Terasa presensi Levi yang sangat dekat dengannya mengamati dari belakang secara intens. Ia merasa cukup membaik, paling tidak, dekat dengan Levi membuatnya tenang dan merasa aman.
Hasilnya, perjalanan ke pos empat sangat lama, jauh dari perkiraan dan info yang mereka dapat dari petugas basecamp. Mereka menghabiskan waktu dua jam untuk sampai ke pos 4. Padahal untuk normalnya, hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam dari pos 3. Mereka sampai di pos 4 pada pukul 11.45. Sesampainya di pos 4, Levi mengecek Eren terutama karena dia yang paling berantakan dibanding semuanya.
“Eren? Aman? Sudah lebih baik?” tanya Levi.
“Sudah mendingan, Pak,” balasnya. Levi kemudian memandangi yang lain dan langsung memutuskan.
“Oke, silakan minum dan makan bekal kalian. Kita istirahat 5 menit, kemudian langsung lanjut pos 5.” Levi berkata secara cepat.
“Pak, bisakah lebih lama lagi istirahatnya?” tanya Berthold.
“Kamu butuh istirahat lebih?”
“Iya Pak,”
“Reiner, tukar tempat dengan Bert. Carrier kamu juga tukar. Berthold mampu jadi sweeper kan? Reiner logistik dan Berthold jadi sweeper.”
“Tolong kalau mampu jangan protes. Percaya saya, percaya insting saya. Kita akan beristirahat di pos lima saja.” Mereka semua mengangguk, tanpa banyak tanya. Semuanya seakan mengerti maksud Levi, tak lain dan tak bukan karena kejadian yang tadi menimpa Eren.
**Hint: kalau ngeh kenapa Eren bisa begitu, sebenernya tadi dia udah sempat ngucap kata terlarang secara gak sadar.**
**Bocoran: babak dua gue mulai buka dramanya, babak tiga bakal dibuka karater Levi aslinya sama fokus ke hubungan Eren Levi lagi, mau dibawa kemana sama mereka.**