Babak Dua – Journey
“Tolong kalau mampu jangan protes. Percaya saya, percaya insting saya. Kita akan beristirahat di pos lima saja.” Mereka semua mengangguk, tanpa banyak tanya. Semuanya seakan mengerti maksud Levi, tak lain dan tak bukan karena kejadian yang tadi menimpa Eren. ***
Babak dua (2/3)
Waspada. Semua anggota sangat berhati-hati. Perjalanan menuju pos lima semakin sulit, rute pendakian pun semakin sempit dengan vegetasi-vegetasi yang semakin rimbun. Jurang lebih sering terlihat di pelupuk mata, terasa sangat curam dan menyesakkan diri. Mereka berjalan tidak terlalu jauh antar satu sama lain. Seperti yang telah diperintahkan oleh Levi sebelumnya, formasi mereka berubah sehingga urutan mereka dari depan ialah Floch, Levi, Eren, Historia, Pieck, Porco, Reiner, dan Berthold.
Matahari terasa bersinar semakin panas dan cuaca saat siang tidak mendung sama sekali. Waktu sudah hampir pukul 12 siang, setengah hari tersisa sebelum malam menjelang dan mereka masih jauh dari puncak. Perjalanan kali ini terasa biasa saja bagi Eren. Dia pun berjalan dengan santai, tetapi anehnya langkahnya saat ini terasa sangat ringan sangat berbeda sekali dibandingkan tadi. Ia seperti tidak merasa membawa beban di punggungnya. Ia berjalan dan terus berjalan tanpa ada masalah yang berarti. Tak beberapa lama, dirinya merasa sering tersandung sedikit. Merasa tidak nyaman, ia melongok ke bawah dan melihat ternyata tali sepatunya sedikit melonggar. Ia pun dengan cepat memperbaikinya dan memasukkan tali yang tersisa ke dalam sepatu. Sedikit lega, mendapati jejak sepatu gunung milik Levi masih tercetak jelas di tanah, dengan Levi yang masih terlihat di depan mata meskipun agak jauh. Ia pun mengikuti jejak itu tanpa ragu. Namun, entah mengapa, rute pendakian yang dirasakannya semakin menyempit dan vegetasi pun semakin tinggi.
“Benar kan ini, jalannya?” monolognya pada diri sendiri. Jejak langkah Levi tiba-tiba saja terputus menghilang di ilalang-ilalang tinggi hampir setinggi lutunya. Eren berhenti, ia ragu, sekitar dirinya berdiri pun semakin tertutupi tanaman tinggi, logikanya berkata ada yang tidak beres. Pikiran Levi yang menghilang, siapakah orang itu yang tampak mirip Levi merangsuk membuat semakin was-was. Merasa terdesak oleh lingkungan yang sangat penuh dengan hehijauan membuat perasaannya menajam. Semua suara lirih pun mampu didengarnya dan meninggalkan kesan ngeri yang makin terakumulasi.
Dengan otak yang dingin, ia mencoba tenang dan memutuskan untuk menunggu selama sepuluh menit berharap akan bertemu rombongan setelahnya, paling tidak Historia. Seingatnya tadi, jarak antar dirinya dan Historia juga tidak terlalu jauh. Menit berganti menit, tanda-tanda rekan timnya datang masih tidak terasa juga. Tidak menyangkal, rasa takut semakin intens dirasakannya. Sendirian di hutan yang ia tidak tahu letaknya dimana. Pohon besar terasa sangat mendominasi disertai angin lirih yang membunyikan rumput-rumput yang saling bergerak secara harmoni, membentuk bunyi-bunyi menyeramkan untuknya. Bulu kuduknya semakin berdiri.
Sepuluh menit berlalu terasa dengan sangat lama hanya untuk menunggu teman-temannya, sambil kembali lagi menyugesti diri sendiri agar tetap berpikiran positif. Eren akhirnya memutuskan untuk kembali ke arah ia datang tadi. Ia merasa ia telah benar-benar tersesat. Eren membuka peta dan mengeluarkan kompasnya lalu mengingat-ingat ke arah mana ia melangkah. Langkah demi langkah ia ambil penuh perhitungan. Rasa takut ia enyahkan karena keingingan untuk bertahan dan kembali kepada teman-temannya jauh lebih besar. Kembali melirik pergelangan tangan kirinya. Jam di tangan mengatakan sudah sekitar dua puluh menit ia tersesat dan terpisah dari rombongan. Sekitar sepuluh menit selanjutnya, ia terus berjalan mencari petunjuk.
Secercah harapan menguak ke dalam diri ketika melihat jalanan yang cukup lebar dan seakan baru dilalui, ia berjalan cepat dan berharap. Kembali berjalan dan berjalan hingga akhirnya terlihat di kedua matanya dari kejauhan, teman-temannya itu yang sedang duduk berkumpul dan berdiskusi secara intens. Lambat laun suara rekan-rekannya terdengar di telinganya. Ia sedikit merasa lega. Eren pun kemudian mempercepat jalannya. Ia datang dengan terengah-tengah dan orang yang pertama kali bersitatap dengannya ialah Levi.
“Eren?!” Levi pun yang menyadari presensi Eren langsung berdiri dan menghampirinya dengan cepat diikuti dengan yang lainnya. Raut wajahnya jelas sangat khawatir.
“Syukurlah, Eren. Ya Tuhan,” Historia berkata dan raut nya jelas sangat lega mendapati Eren kembali lagi. Terlebih dengan Berthold, Reiner, dan Floch yang juga sangat kentara menghela napasnya dan raut khawatirnya menguap hilang seketika.
“Jangan pernah berani menghilang lagi Eren. Sumpah, aku takut setengah mati. Syukurlah, syukurlah.” Suara teramat lirih menyapa indera auditorinya. Membuat Eren sedikit tergugu. Kedua tangan Levi dirasakannya mencengkram kuat bahunya dan Levi menunduk dalam hingga helai rambut pendeknya jatuh menutupi seluruh wajahnya.
“Maaf, tadi sempat tersesat. Teledor, tidak memperhatikan jalan.” Eren berkata dengan hati-hati, memberi penjelasan kepada yang lain sambil dirinya menatap rekan yang berada tepat di belakang Levi satu persatu.
“Syukurlah, Ren kita khawatir banget. Lima jam kita cari-cari dan nunggu lo.” Porco membuka suaranya seraya menatap Eren sama leganya seperti yang lain. Kemudian Levi segera melepas cengkeraman di bahunya dan berjalan menjauh membelakanginya.
Apa katanya? Lima jam? Lidahnya tiba-tiba kelu dan otaknya kesulitan mencerna omongan Porco yang seperti omong kosong. Segera saja ia mengecek jam tangannya, dan ternyata benar. Jarum jam pendek sudah tiba-tiba saja menunjuk ke angka empat. Jam empat sore? Dia merasa tidak berjalan selama itu? Dia tersesat hanya sekitar setengah jam? Tidak sampai satu jam. Fenomena apa ini. Ia tidak berani mengungkapkan hal ini, takutnya lebih membuat gaduh.
Shit umpatnya dalam hati. Kejadian carrier, kejadian tersesat membuat mentalnya mulai mengerut. Seakan tanpa henti kesialan terus menarget dirinya. Apa sebabnya? Yang bisa Eren lakukan adalah memendamnya dan melupakan kejadian ini begitu saja untuk sementara waktu.
“Ayo jalan, sampai di pos lima. Kita akan bermalam di sana.” Suara Levi kembali menyapa pendengarannya. Mereka semua pun mengangguk dan kembali berjalan. Dengan jarak yang sangat rapat bahkan hanya satu meter. Pos lima tidak terlalu jauh dari titik mereka mulai berjalan lagi. Rupa pos ini cukup lapang di sisi kanan dan kiri rute jalan, memang seperti disiapkan untuk bermalam. Tanah yang landai cukup luas dan tanah landai tersebut seakan dipayungi pohon berkayu tua yang masih kokoh berdiri.
“Reiner dan Berthold bisa dirikan tenda yang terbesar. Eren dan Floch bisa dirikan tenda yang kecil. Historia dan Pieck bisa persiapan untuk masak. Saya akan survey dulu sekeliling pos lima ini.” Levi memberi perintah untuk semuanya dan secara serempak mereka mulai melakukan tugasnya. Tidak ada kesulitan yang berarti.
Tenda yang besar mereka bangun berhadapan dengan tenda yang kecil dengan jarak yang dekat. Tenda besar diperuntukkan untuk tempat istirahat laki-laki sedangkan tenda kecil digunakan untuk tidur perempuan. Kedua tenda itu, memiliki dua lapisan, sebelum tepat masuk ke pintu tenda, terdapat flysheet yang melindunginya sehingga di dalam tenda suhu udaranya tidak terlalu ekstrem dibandingkan di luar tenda.
Pieck dan Historia pun mulai memasak makanan, makanan yang mereka masak kali ini adalah nasi dengan mi rebus dan juga sosis serta telur. Keempat pria yang telah selesai membangun tenda pun menghampiri Pieck dan Historia lalu membantu mereka memasak. Tidak berselang lama Levi kembali dengan raut datar dan lebih kaku dari biasanya. Eren mengamati rahang pria itu tampak mengeras dan rautnya seakan memikirkan sesuatu. Levi hanya memperhatikan mereka sekilas dari jauh lalu duduk di atas batu yang cukup besar. Pandangannya kemudian ia alihkan tidak menatap rekannya, tetapi menatap sekelilingnya. Bau mie instan rebus rasa soto yang wangi mulai tercium. Masakan mereka satu persatu telah matang. Selanjutnya, Pieck menatanya dengan rapi di atas mangkok dan piring. Setelah masakan sudah siap semuanya, Eren berinisiatif menghampiri Levi dan mengajaknya untuk segera makan bersama.
“Pak Levi, makannya sudah siap.” Levi menoleh dengan cepat sesaat telinganya mendengar suara Eren. Pandangannya terlihat frustrasi saat manik hitam itu menatap manik hijau cerah. Keduanya seakan tenggelam dalam suasanya yang abu-abu, penuh rasa yang terlalu bercampur menyesakkan. Terlihat pandangan Levi mulai khawatir, takut. Eren seakan bisa menerima semua itu, ia mengerti. Eren paham kalau pria ini memang benar-benar ada rasa tulus untuk dirinya. Sesuai perasaannya yang ia telah sampaikan ke Zeke waktu itu, terlihat Levi sangat mengkhawatirkannya apalagi setelah kejadian ia sempat tersesat tadi. Walau Eren juga merasa heran, Levi yang ia kenal selama ini kaku dan kuat mental, menunjukkan sisi yang lain pada dirinya saat ini. Sesaat kemudian Levi memutus pandangan mereka.
“Oh ya, ayo makan,” balasnya singkat. Ia kemudian berjalan mendahului Eren.
Mereka akhirnya makan bersama, dengan satu sama lain yang menceritakan pengalaman mereka saat bekerja atau kuliah. Sama sekali tidak ada yang menanyai Eren mengenai kejadian tersesat yang dialaminya. Terasa mereka pun sangat berhati-hati untuk tidak menyenggol Eren untuk bercerita. Eren pun tidak masalah, ia bahkan merasa tenang karena jujur saja apabila ditanyai, kemungkinan dirinya untuk mengungkapkan hal yang dirasa janggal akan semakin besar.
***
Hari telah berganti, regu Reksa saat ini sedang bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Tidak ada kejadian yang berarti, malam kemarin karena hujan deras yang mengguyur membuat mereka beristirahat dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi mereka sudah sarapan dan tinggal berjalan ke puncak. Perjalanan mereka tidak berniat untuk menaklukkan titik tertinggi dari gunung ini. Namun, hanya sebatas bisa melihat patokan batu yang sangat besar yang bisa terlihat dari titik yang tinggi. Batu besar itu akan digunakan sebagai penunjuk untuk mengambil jalan menuju ke tempat di mana pendaki yang tersesat sempat menemukan keberadaan bunga Reksa itu. Semua anggota membawa tas kecil seperlunya, dengan logistik yang cukup. Mereka hanya sebentar menuju puncak dan harus kembali lagi ke pos lima. Tenda masih dibiarkan berdiri.
Batas vegetasi mulai tampak, hingga ke atas hanya terlihat pasir dan kerikil, terjal sehingga mereka harus berhati-hati dalam melangkah. Kemiringan gunung cukup curam jika hilang keseimbangan sekilas saja, nyawa akan jadi taruhan. Berthold, Reiner, dan Floch melakukan tugasnya, mereka memberi tanda dengan memanjat pohon dan mengalungkan bendera besar. Tujuannya nanti agar saat pulang, turun dari puncak, mereka mengambil jalan yang benar. Bergeser sedikit saja dalam pengambilan jalan, akan merepotkan karena semakin ke bawah lingkar gunung semakin lebar sehingga memungkinkan mereka memasuki pintu hutan yang salah. Bukan tepat di jalur pendakian.
Mereka mulai menaiki puncak, seketika merasa cukup tinggi dan mendapat sedikit area landau di sana. Reiner langsung mengambil alih komando.
“Berhenti, kita akan coba liat batu itu dari sini.” Perintah Reiner dibalas anggukan dan mereka pun mengikuti. Floch dan Berthold telah mengeluarkan teropongnya. Mencoba mencari batu besar itu.
“Floch, ketemu batunya?” Floch hanya menggeleng.
Reiner kemudian mengeluarkan teropongnya. Mengatur alat optik itu agar mampu melihat batu yang dicari-cari.
“Batunya kira-kira di mana? Gue lupa, Rei.”
Reiner berhenti mengamati teropongnya, menengok ke arah Floch. “Seinget gue, di sekitar pos empat dan lima.”
“Berarti gue cari pohon tua itu ya, yang mayungin tenda kita.” Floch membalasnya dengan cepat.
“Nah bener. Estimasi dari sini ke tenda kita satu kilo kurang kayanya. Zoom yang bener.” Reiner menyuruh Floch. Saat ketiga orang tersebut asik melakukan kegiatannya. Anggota tim yang lain hanya diam dan memandang hutan di bawah sana. Memang sangat rimbun. Untuk mereka memang ini gunung masih sangat asri sehingga biodiversitas di dalamnya pun sangat beragam dan kuat.
“Ketemu!” Seruan Berthold mengagetkan semuanya.
“Mana Berth. Gue belum nemuin,” ucap Reiner dan Floch hampir bersamaan.
“Cari pohon yang mayungin tenda, terus zoom lagi sedikit. Geser teropong kalian, sekitar tujuh derajat ke kanan. Ada putih keabuan gede banget, batu kan itu?”
“Bentar Berth. Gue cari dulu.”
“Gue juga udah nemu. Fix itu pasti batunya.”
“Oh bener, gue juga nemu. Cukup deket sama pos lima kita.”
“Sudah nemu patokannya?” tanya Levi setelah mendengar diskusi mereka. “Sudah, Pak. Selanjutnya bagaimana?”
“Kamu ambil alih dahulu baiknya bagaimana, atau ada saran silakan diutarakan saja.”
“Mungkin, kita langsung turun saja. Kembali ke pos lima, diskusi di sana, baru kita sampai di batunya mencari tanaman itu.”
“Oke, ide yang bagus.” Levi pun menuruti ide yang disampaikan Reiner sebelumnya. Mereka pun kembali turun dengan hati-hati. Ada Reiner, Berthold, dan Floch terasa sangat membantu perjalanan mereka. Ketiga orang itu memang sangat kompeten di bidang seperti ini. Floch yang memimpin perjalanan turun pun tidak ada kesulitan yang berarti. Ia berhasil membawa timnya ke jalan pendakian yang benar. Mereka kemudian melepas bendera sebagai patokan yang dipasang ke pohon besar tadi.
***
“Untuk timnya bagi dua saja Pak. Ada yang ke tenggara dan barat laut. Karena seingat saya juga pendaki itu menemukan tanaman tersebut di atas dari batu arah barat laut dan bawah arah tenggara.”
“Boleh saja seperti itu. Pembagian tim bagaimana? Kalau misal ditimbang dari aspek kalian. Menurut kalian, baiknya bagaimana?”
Reiner kembali menjelaskan. “Mungkin seperti ini saja Pak. Di tim ini, utamanya adalah Pak Levi dan Eren yang memang kompeten di kultur jaringan. Paling tidak satu tim ada Eren dan tim lain ada Pak Levi sendiri. Lalu Historia dan Pieck juga akan dipisah tentunya.”
Eren melihat itu, perubahan secuil dari ekspresi Levi.
“Lanjutkan,” balas Levi.
“Katakanlah tim satu, ada saya, Porco, Pieck, dan Eren. Lalu, ada tim dua ada Floch, Pak Levi, Historia, dan Berthold. Begitu Pak, bagaimana?”
Levi terlihat berpikir sebentar. Eren memperhatikan raut semuanya, tampak setuju. Dirinya pun juga, terlepas dari memang keinginannya agar satu tim bersama Levi. Namun, paling tidak saran Reiner sangatlah logis.
“Baik, saya setuju. Kita akan berangkat satu jam lagi, bagaimana?”
“Boleh Pak. Sekarang juga baru jam 10.”
“Tenda dibiarkan saja, Pak Levi?”
“Biarkan saja, estimasinya cukup dekat kan jarak tanaman itu dari batu dan dari tenda kita? Kita bawa carrier yang kecil, isi dengan logistik pastikan jumlahnya dilonggarkan untuk jaga-jaga.”
“Baik Pak.”
Mereka pun istirahat, hanya bercengkerama dan duduk atau tidur sebentar di tenda untuk kembali mengisi tenaga mereka.
“Eren bisa bicara sebentar?”
“Baik, Pak Levi.”
***
Mereka telah sampai di patokan batu besar itu. Tim Eren bergerak menuju ke barat laut dan tim Levi bergerak ke arah tenggara. Reiner sebagai ketua tim satu sekaligus navigator dan untuk tim dua, Floch sebagai navigator dan Levi sebagai ketua tim. Mereka pun kemudian berpisah dan berjanji untuk kembali lagi ke batu ini setelah menemukan tanaman itu atau setelah tiga jam kemudian dengan tangan kosong.
Tim Eren bergerak ke arah barat laut, dengan urutan formasi Reiner, Eren, Pieck, dan Porco. Mereka berjalan sambil memberi tanda berupa pita warna pink ke dahan pohon. Mereka terus berjalan dengan hati-hati. Ilalang tinggi menjadi hambatan mereka. Terasa beberapa duri turut menusuk dan lolos dari fabrik celana yang mereka pakai. Reiner sangat bekerja keras untuk ini, ia membuka jalan dengan memotong ilalang-ilalang dengan pisau seadanya. Eren turut membantu memotong ilalang di samping kanan dan kirinya.
Mereka sudah berjalan dan memutari area itu cukup lama. Hingga tercium wangi, wangi seperti campuran bunga melati dan mawar putih serta vanilla yang amat kuat. Reiner dan semuanya mengendus wangi itu, berjalan berhati-hati hingga ia membuka pintu ilalang dan nampak suatu daerah pekarangan penuh bunga. Di belakangnya terlihat Eren, Pieck, dan Porco yang menganga takjub.
“Reiner, ini bunganya kan?” Eren bergerak gelisah, tangannya dengan cepat membuka tas nya mencari handphone nya. Mencocokan gambar di ponselnya dengan bunga yang terlihat di depannya saat ini. Gambar yang sempat diambil langsung oleh si pendaki tersesat itu.
“100 persen ini Ren valid, mirip banget.”
“Porco, Pieck woi.” Reiner menyadarkan keduanya yang masih asik pandangi bunga-bunga itu.
“Hah, ya?” Kedua orang itu pun mendekati mereka. Melihat ponsel Eren yang ditunjukkan kepadanya kemudian beralih mengamati bunga yang asli itu lagi.
“Fix bener ini sih. Persis banget.” Ucapan Porco disambut anggukan antusias dari Pieck.
Pieck masih takjub seakan ia berada di alam lain. Bunga ini sangat banyak jumlahnya, bahkan sejauh mata menandang sampai ujung sana, bunga ini seakan tan terhingga. Tak pantas dikategorikan sebagai tanaman langka. Dirinya yang menyukai bunga harusnya cukup skeptis menemukan taman seperti ini di tengah-tengah hutan hujan tropis. Akan tetapi, jiwanya seakan tersedot hanya untuk memandang kemolekan mahkota dan wangi memabukkan dari kumpulan bunga Reksa yang sedang mekar. Bunga ini jika di ekstrak pasti akan menghasilkan wangi yang berkualitas dan bisa menjadi bahan baku utama parfum kelas dunia. Sebersit nafsu duniawi berhasil mengambil pikirannya secara singkat.
“Ayo Eren cepat lakuin tugas lo. Biar cepet balik.” Reiner berkata dan Eren mengangguk. Ia mencari tempat sedikit lapang dan terbuka.
*** Eren mengeluarkan tas kecil yang ada di dalam carrier kecil miliknya. Skalpel, alkohol, spiritus, aquades, cawan petri, dan talenan mini ia keluarkan. Beserta wadah yang telah berisi agar bernutrisi sebagai media kulturnya. Dengan telaten ia mencuci tangan dengan antiseptik, kemudian mencuci semua peralatan dengan alkohol dan meletakannya di wadah steril. Ia kemudian memetik bunga yang masih kuncup itu. Setelahnya, mencopoti kelopak bunga, dan ia isolasi bagian anternya.
Bagian eksplan akan disterilisasi kemudian akan ia masukkan ke media agarnya. Selain anternya, Eren juga memetik bagian daun dari tanaman Reksa. Ia lakukan hal yang sama, mempersiapkan daun tersebut kemudian eksplan daun berukuran satu centimeter persegi ia inokulasikan ke dalam botol yang lain dengan media agar yang sudah disiapkan. Ia kemudian menutup botolnya dan memasukkan ke kotak yang suhu dan cahaya di dalamnya bisa diatur sebagai manipulasi tempat tumbuh, supaya eksplan tersebut cepat tumbuh kalus atau jaringan muda.
Untuk mengantisipasi jika ada kontaminasi saat melakukan kegiatan kulturnya. Eren juga memetik beberapa bunga Reksa kemudian ia serahkan kepada Pieck dan Porco agar bunga tersebut ditangani sehingga bisa tahan dan tidak busuk sampai mereka ke lab untuk melakukan tahapan yang lebih sesuai prosedur.
“Akh,” teriakan Porco menghentikan kegiatan Eren yang sedang membereskan barang-barangnya.
“Kenapa?” tanyanya bersamaan dengan Reiner yang turut menghampiri Porco.
“Kena formalin kakinya.” Pieck yang mewakili untuk memberitahu keadaan Porco yang masih kesakitan. Mereka pun segera melakukan pertolongan pertama. Setelah dirasa cukup membaik, mereka berempat kemudian bergerak untuk balik ke batu itu. Porco yang agak kesulitan dalam berjalan, mau tidak mau harus ada yang membantunya. Porco tak bisa berjalan paling belakang sebagai sweeper. Oleh karena itu, keputusan paling logis yang bisa mereka dapat adalah Eren yang berjalan paling belakang. Dengan demikian formasi jalan mereka ialah Reiner, Porco dan Pieck, terakhir Eren. Porco akan dipapah oleh Pieck agar lebih memudahkannya dalam berjalan.
“Gimana Eren, mampu jadi sweeper?” Eren awalnya ragu, karena ia akan mengikari janjinya pada Levi tadi. Levi telah menitip pesan agar selalu fokus dan jangan berjalan paling belakang apa pun yang terjadi. Tapi di tengah kondisi seperti ini, sangat tidak memungkinkan untuknya egois bukan? Jika ia yang berjalan paling depan, akan menyulitkan jika ia tidak benar dalam mengambil arah, bisa-bisa tersesat dan Porco akan lebih kesakitan. Paling tidak, ia harus ke pos lima dahulu untuk beristirahat.
“Oke, bukan masalah.” Mereka pun kembali berjalan menuju ke titik batu besar sebagai patokan. Sejauh Reiner memandang setelah beberapa menit berjalan, ia melihat patokan batu besar itu, dengan tim dua yang sudah berkumpul di sana sedang duduk sambil memakan logistiknya. Memang sudah lebih dari tiga jam berlalu tepatnya hampir lima jam. Muka Reiner pun sumringrah. Ia yang sampai segera menunjukkan kesenangannya dan memberitahu kalau mereka berhasil mendapatkan apa yang dicari. Semua yang mendengar pun lega dan turut bergembira. Tak terkecuali Levi. Setelah Reiner sampai, ekspektasi yang Levi dapat adalah menemukan Eren segera. Namun, lima menit kemudian, ia malah temukan Porco yang sedang berjalan dipapah oleh Pieck.
“Eren di mana Reiner?” Levi bertanya cepat setelah melihat bukan Eren yang berjalan setelah Reiner.
“Eren berjalan paling belakang. Porco, tadi, ia ada insiden jadi mau tidak mau Eren yang di belakang.” Levi sedikit menggeram marah. Ia berusaha untuk menahannya. Mencoba tetap berpegang teguh, Eren akan terlihat di matanya sebentar lagi.
Lima menit setelah sampainya Porco dan Pieck batang hidung orang yang disukainya belum tampak juga.
Sepuluh menit menunggu dan masih sama.
Tiga puluh menit berlalu, wajahnya sudah tidak tenang. Eren belum terlihat di matanya. Jika dilogika bukankah harusnya jarak Eren dengan Porco dekat? Apalagi dengan keadaan Porco yang sulit berjalan. Harusnya jarak dengan Eren yang berjalan normal pun dekat bukan? Hatinya khawatir lagi setengah mati setelah kejadian Eren tersesat dan kejadian carrier nya itu kembali datang ke pikirannya. Fakta bahwa saat ini pun mereka berada di luar jalur pendakian kemungkinan Eren tersesat menjauhi jalur semakin besar. Bagaimana jika Eren tersesat makin ke dalam hutan rimba sana.
Situasi kalut memenuhi hatinya, tak bisa menahan amarah kepada Reiner yang dimatanya tidak memperhatikan keselamatan Eren, hingga akhirnya Levi membentak dan mencengkeram kerah baju Reiner.
“Eren ada di mana, Reiner?!”
****
PS. Bagian bertanda bintang tiga, ngawur, demi plot cerita, tapi tahapannya kurang lebih begitu. Cuma kalau yang dilakuin Eren fix pasti gagal kena kontaminasi, lingkungannya aja ngawur begitu. Paling bener emang di laboratorium, pakai laminar air flow pas sterilisasi dan inokulasi eksplannya.