Babak Akhir – The Journey

Terlebih untuk Levi seorang, rasanya makin menyesakkan memikirkan Eren yang saat ini hilang entah di mana. Igauan Pieck sangat amat ia berharap hanyalah igauan tanpa arti. Ia masih meyakini Erennya masih bertahan di luar sana.

***

Babak akhir (final) (3/3) — Journey

—-Babak ini bakal panjang banget dan agak berat. Dikit-dikit aja bacanya. Enjoy reading. Tq—-

Disclaimer (TW dan CW akan disesuaikan per bagian adegan)

Pagi yang telah dinanti akhirnya datang kembali, cahaya menjadi penyegar bagi para manusia terisolir yang sedang ada di Gunung Koral setelah menghadapi berbagai permasalahan aneh dan tak masuk akal di malam tadi. Cahaya Mentari yang datang setidaknya bisa menjadi tali penarik semangat dan penambah kekuatan mental yang telah loyo beberapa hari terakhir. Kecuali Pieck yang sempat tak sadarkan diri dan Eren yang hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Semua orang merasa cukup lelah karena tak banyak beristirahat. Pieck yang meski semalam sakit, pagi ini terlihat sangat bugar, dan sepertinya ia tidak merasakan sesuatu hal yang janggal. Perempuan itu sangat amat berperilaku seperti biasa saja. Semuanya pun memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat tentang ini, tanpa sedikit pun berniat untuk memberitahu Pieck.

Tenda telah dibongkar semuanya, mereka berencana untuk secepatnya mencari Eren hingga batas waktu siang nanti. Kemungkinan terburuknya, jika Eren belum ditemukan maka mereka akan terpaksa turun ke bawah menuju basecamp untuk mencari pertolongan SAR yang lebih kompeten. Semua sudah bersiap dan berkumpul saling dekat satu sama lain. Sebelum memulai perjalanannya, Levi sebagai ketua menyampaikan hal yang sangat penting agar bisa dipahami oleh rekan-rekannya.

“Ada yang saya mau bicarakan kepada kalian semua.” Levi mengembuskan napasnya lalu berkata, “jika nanti Eren belum juga ditemukan, ditambah kemungkinan terburuk ada yang tersesat lagi, siapa pun itu, kalian yang tersisa harus secepatnya ke bawah cari pertolongan. Batasnya tetap siang nanti, usahakan saya minta minimal kalian berdua-dua. Perasaan saya benar-benar tidak enak, jadi mohon kalian kooperatif sehingga kita bisa selamat.” Semuanya kemudian mengangguk, paham betul apa yang dimaksud Levi.

“Untuk carrier milik Eren bagaimana, Pak?” tanya Reiner. “Dibawa saja mending, kalau pun ditinggal…” Floch yang bersuara dan menggantungkan ucapannya begitu saja. Levi pun akhirnya memutuskan. “Bawa saja, saya yang bawa itu.” Levi kemudian membawa carrier Eren dengan menumpuknya di atas tas carriernya sendiri. Dia tidak merasa keberatan sama sekali, karena carrier milik Eren itu termasuk ringan dibawa akibat logistik di dalamnya pun tidak penuh dan sebagian telah dibawa oleh Eren di backpacknya.

Dengan keputusan tersebut akhirnya mereka mulai bergerak, kembali lagi menuju ke patokan batu besar itu. Berjalan ke arah barat laut sambil memperhatikan tanda pita pink yang sebelumnya tim satu telah lingkarkan ke batang-batang pohon. Terus bergerak sambil memanggil nama Eren dan sesekali Reiner yang membunyikan peluit bersandi morse. Pencarian semakin dalam dan rumput tinggi yang ditemui terus menyulitkan pencarian mereka. Reiner tiba-tiba saja berpikiran kalau mungkin Eren ada di wilayah bunga reksa itu ditemukan, atau pun tersesat tak jauh dari tempat mereka menemukan bunga reksa. Tanpa bersuara dan menyatakan pendapatnya ke anggota lain, sebagai navigator dengan sengaja ia menuntun timnya ke wilayah itu. Berbekal pita pink yang terpasang, dan daya ingatnya yang masih dibilang kuat tentang track kemarin, ia terus berjalan.

Jalanan yang dilewatinya beberapa kali bagi Reiner sudah terasa tidak asing lagi. Berkali-kali ia menjumpai bunga berwarna kuning persis dengan letak dan pemandangan yang serupa. De javu, berkali-kali. Perasaan bimbang tak mengenakan kembali dirasakannya. Walaupun begitu Reiner terus berjalan mencoba mengalihkan pikirannya agar bisa sejernih-jernihnya, hingga ia kembali lagi menemukan bunga kuning yang sama itu, ia memutuskan untuk berhenti.

“Kenapa Reiner?” tanya Levi yang persis berada di belakang Reiner dengan rekan yang lain turut memandanginya bingung. Keringat mengalir dari dahi Reiner, ia berasumsi Levi dan yang lainnya tidak merasakan hal yang ganjil ini. Hanya dirinya, seorang diri. Sudah sedari tadi mereka berputar-putar di wilayah yang sama. Ia pun beralibi untuk menyembunyikan rasa takutnya yang semakin menjadi, “Kalau boleh saya mau tukar tempat, Floch navigator saja.” Kali ini Floch yang memandang Reiner penuh selidik, dia mengetahui ada yang disembunyikan olehnya. Namun, Floch menyetujui permintaan Reiner tanpa bertanya lebih jauh. Dengan begitu, urutan berjalan mereka saat ini adalah Floch, Levi, Pieck, Historia, Porco, Berthold, Reiner.

Floch berjalan memimpin, ia bulatkan tekad untuk siap menjadi pembuka jalan bagi rekan-rekannya. Mereka terus berjalan dan Floch seketika merasa mereka terlalu keluar jalur dari jalur yang ditandai pita pink di batang pohonnya. Ia pun berhenti dan meminta untuk memutar balik. Hal yang serupa seperti Reiner ternyata dirasakan juga oleh Floch, setelah beberapa lama berjalan dengan lebih waspada terhadap sekitar. Ia merasa telah berputar-putar di tempat yang sama. Selanjutnya, Floch berhenti mendadak dan menatap Reiner, seakan berkontak batin. Reiner yang dipandangi pun mengangguk kecil. Dengan begitu, mereka mengetahui kalau ini bukan gangguan untuk pribadi. Namun, sepertinya gangguan untuk mereka semuanya agar tersesat dan sulit menemukan Eren.

Floch akhirnya beralibi kepada Levi untuk sejenak beristirahat. Levi kemudian menyetujui karena tidak terasa mereka telah berjalan sekitar satu jam. Tanpa jeda, Floch langsung menarik Reiner untuk berdiskusi secara diam-diam.

“Ner, lo ngeh pasti kan. Berarti dari awal itu lo udah ngerasa?” tanya Floch.

“Hooh, lo pas pertama itu emang enggak?” tanya Reiner balik.

“Gak, sumpah. Pas pertama sebelum lo minta tuker peran, gue ngerasa ngga disesatin. Baru pas gue di depan, ngerasa dah kok kaya diputer-puterin terus.” Floch berkata dengan panik.

Btw gue juga pas pindah ada di belakang ngga ngerasa disesatin, sumpah, cuma pas di depan doang. Maksud ga lo, jadi pas gue pindah, kaya kita jalan aja gitu, ngga muter-muter. Makanya antara kaget ga kaget waktu lo natap begitu. Langsung feeling guenya.”

Floch kemudian berpikir sejenak. “Terus gimana? Bakal ribet ini, tapi kok bisa pov mandang jalan bisa beda banget gitu, gue bingung anjrit.”

“Hush.” Reiner seketika memberhentikan Floch yang hampir hilang kendali.

Sorry, gue keceplosan,” ucapnya sambil menggosok rambutnya frustrasi.

“Ya udah, mau gimana lagi. Kita ikutin dulu aja, batas jam 8 an. Kalau ada yang aneh lagi lo ngomong ke gue.” Pinta Reiner yang kemudian disetujui oleh Floch.

Mereka kemudian lebih terlihat santai dan mengalihkan pikirannya dengan menyantap beberapa camilan. Keduanya tak sadar, percakapan mereka yang diam-diam itu sedari tadi diperhatikan oleh Levi yang menatap mereka penuh curiga. Namun, Levi tidak mau menanyakan mereka sedang berdiskusi terkait hal apa, ia hanya diam. Sementara ini ia hanya menganggap dan menyimpannya hal itu seperti angin lalu saja.

Mereka akhirnya kembali lagi berjalan, kali ini langkah mereka terasa sangat berbeda. Sangat sengaja Floch terlihat ingin membuat tempo berjalan mereka cukup lambat. Levi dan semuanya masih terus memanggil Eren, tetapi nihil sampai saat ini. Pita berwarna merah muda itu pun, sudah tak bisa lagi digunakan untuk mencari petunjuk. Di mata Levi saat mereka berjalan, daerah dengan pita pink terasa sudah dijelajahi semuanya.

Tak lama kemudian, suatu rasa dirasakan olehnya sedikit berbeda. Bulu kuduknya, sedikit berdiri, entah kenapa. Sedetik kemudian, tiba-tiba ia mencium suatu bau yang sangat khas dibarengi dengan kabut tebal yang ikut tampak lalu menghilang dalam sekejap. Ia sempat gugup mengalami keanehan tersebut, tetapi sirna langsung setelah disuguhi bau nikmat memikat.

Bau itu sangat wangi. Wangi yang belum pernah ia cium sebelumnya. Suguhan wangi seperti campuran bunga melati dan mawar putih serta vanila yang amat kuat, dan terdapat satu wangi misterius, yang ia tidak bisa tebak berasal dari tumbuhan apa. Wangi campuran itu sangat enak dan baginya sangat memabukkan. Sejenak, pikirannya kacau, ia ingin bergerak mencari sumber wangi itu. Tak terelakkan susah dikendalikan sesaat, karena wangi itu seakan memanggilnya untuk mendekat.

Levi sempat terlena hampir saja, tetapi ia mencoba untuk mengembalikan kewarasannya dengan susah payah.

Kewarasannya akhirnya bisa ia dapatkan lagi setelah berusaha kembali fokus.

Kemudian ia berniat untuk segera menjauh firasatnya berkata kalau ini bakal menjadi sumber petaka, Levi mencoba untuk memperhatikan jalan di depannya. Syukur, tenang sejenak ketika masih terlihat Floch sedang berjalan di depan sana sambil terus memanggil nama Eren.

Levi kemudian kembali bergerak, mencoba terus mengenyahkan pikirannya atas wangi itu. Ia masih tetap mengikuti Floch. Akan tetapi, perasaannya dan indra olfaktorinya tetap tak bisa dibohongi. Makin merinding diikuti bau wangi itu entah kenapa makin terasa kuat di hidungnya. Levi terus berjalan, hingga kemudian sosok Floch tiba-tiba menghilang begitu saja di balik ilalang.

Kaget setengah mati, ditambah sesaat kemudian angin berhembus cepat menimbulkan hawa dingin di kulit. Suatu bebunyian yang terdengar seperti burung melengking bersuara hebat. Tiga puluh lima tahun hidupnya, bisa dibilang situasi ini yang membuatnya takut akan ketidakpastian. Seorang Levi Ackerman berhasil dibuat ciut oleh kondisi ini.

Mencoba kembali tenang, segala rapalan dilantunkan untuk tetap bergeming menetralkan dahulu sedikit rasa takut yang ada. Komat-kamit di hati, mencoba untuk terus waras dan tidak panik. Kejadian ganjil seakan silih berganti mengenai rekan timnya. Sekarang ini pasti gilirannya, pikirannya tetap harus fokus, dia harus segera mungkin menyusul rekan timnya. Tujuannya sekarang mencari Eren yang tersesat, tidak bisa juga ia biarkan dirinya ikut tersesat. Pikiran bertujuan menemukan Eren, seakan menjadi penguatnya.

Dengan tekad bulat dan yakin. Levi kemudian mulai bergerak. Beberapa ranting pohon dan batu-batuan terjal yang menghalanginya bisa ia lalui tanpa kesulitan berarti. Ia hanya berjalan sembari memegang kompas dan percaya intuisi. Setitik di hati Levi, ia sudah pasrah terhadap apa yang akan dialaminya nanti.

Saat masih terus berjalan, tanpa diduga, di depan sana, terlihat seseorang sedang duduk memeluk lututnya, dengan duduk di bawah bivak seadanya yang diapit oleh dua pohon lumayan besar. Terlihat sebuah backpack yang sangat ia kenal di dekat orang itu. Tubuhnya kaku sejenak, dengan sorot matanya yang memindai orang itu secara detail.

Detak jantung Levi berdentum cepat. Matanya seakan tak percaya dengan hal yang ada di hadapannya saat ini. Meneguk ludah dengan rasa gemetar tak karuan. Levi kemudian memberanikan diri sedikit melangkah.

Dengan masih berhati-hati, ia melangkah mendekati sosok itu. Terhenti, ketika lelaki itu tiba-tiba menengadahkan kepalanya. Matanya bertatapan dengan Levi lamat-lamat. Levi mengamati orang itu yang sedang menatapnya tak percaya, selanjutnya menangis tanpa suara. Tersirat rasa lega dari raut wajahnya. Tanpa jeda, Levi bergerak langsung, berlari kemudian memeluk lelaki itu dengan eratnya.

Eren, Levi berhasil bertemu kembali dengan Eren. Ia dipertemukan kembali dengan Eren.

“Levi, Levi,” ucap Eren tak berhenti sambil terus menangis. Levi makin memeluk Eren, mengusap pelan punggungnya yang bergetar itu.

“Benar ini Eren kan? Syukurlah, syukurlah.” Levi lega luar biasa, ia terus memeluk erat Eren dan Eren yang membalas dengan sama eratnya. Keduanya mencurahkan rasa lega akibat telah bertemu lagi, sedikit kehangatan di antara sepi dan cekam yang mendominasi berhasil tercipta oleh interaksi keduanya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Levi sambil memindai semua tubuhnya dengan tergesa. Pandangannya telak hanya menatap wajah kumal itu yang ditopang lembut di telapak tangannya. Yang ditanya hanya menggeleng, sambil masih terus menangis.

***

. . .

Beberapa saat sebelumnya

cw // local mythical creature , horror

Eren telah pasrah, kakinya yang sakit akibat semalaman tadi berjalan tak tentu arah. Sangat ingin kembali lagi dengan rekan-rekannya. Ia benci tersesat lagi, ditambah di malam hari di tengah hutan seorang diri. Kabut telah turun dengan tebalnya. Membuat jarak pandangnya semakin sempit. Bivak ala kadarnya yang berhasil ia buat dari jas hujan yang dibawa di dalam backpacknya, tak bisa melindungi diri dari rasa takut.

Semalaman, ia hanya duduk terdiam di alam terbuka, di tengah hutan belantara, hanya bergantung sedikit dari head lamp yang diatur ke cahaya paling redup untuk penerangan di sekelilingnya. Sinar rembulan yang dilihatnya tak membantu, malah semakin menimbulkan kengerian di tengah kabut tebal yang menyelimuti. Eren dilingkupi perasaan takut setengah mati. Dingin menusuk mulai dirasakan ketika sudah memasuki waktu malam hari. Suara hewan malam yang turut berbunyi makin membuat dirinya takut. Bahaya makhluk buas, yang nyata mau pun tidak juga menjadi momok untuknya. Memeluk lutut, berharap tak melihat apa pun. Tak melihat sesuatu yang ia ingin tidak lihat. Tak mendengar apa pun. Tidak ingin mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar.

Sekelebatan memori yang tiba-tiba masuk ke pikirannya sebelum kedatangannya di sini membuat dirinya rindu. Eren rindu akan abangnya, ia juga rindu pada sahabat-sahabatnya. Ia rindu pula terhadap Levi. Berharap penuh, Levi akan mencarinya, tetapi sampai saat ini, ia tidak bertemu dengannya. Eren putus asa, rasa dingin, lelah, perih baik fisik dan psikisnya mengimpitnya tak nyaman sampai rasanya sangat sesak.

Di tengah ketidakpastian ini, ia kemudian menangis hebat tanpa suara, dadanya yang sesak karena putus asa menjadi alasan masuk akal dirinya menangis segila ini. Kedatangannya ke sini bahkan tiada niat jahat bukan? Ia hanya mencari bunga reksa untuk nantinya bisa dilestarikan, bukankah itu niat yang baik. Ia hanya diamanahi tugas itu dan ia menjalankannya sepenuh hati. Kenapa hasilnya menjadi tidak baik seperti ini, yaitu dipenuhi rasa janggal yang menyusahkan seakan ia dan teman-temannya tergolong makhluk-makhluk hina, tak tahu diuntung.

Sejenak rasa tangisnya sekaligus frustrasi bisa menjadikannya benar-benar abai terhadap area sekitar.

Ia abai terhadap pemandangan di depannya yang tiba-tiba berubah, kabut tebal menghilang tanpa sisa berganti dengan pemandangan pekarangan bunga reksa yang tiba-tiba muncul mengelilinginya.

Ia abai dengan kejadian mekarnya semua bunga itu secara serentak sesaat kemudian. Ia juga abai dengan segala wangi memabukkan yang dikeluarkannya saat mereka semua mekar dengan indahnya.

Ia turut abai dengan bunga reksa yang mulai tumbuh di dalam botol kaca miliknya yang sengaja sebelumnya sudah ia biakkan.

Ia juga abai dengan wanita cantik bergaun putih ungu yang memandangnya dalam, tak jauh dari tempatnya duduk.

Lelah menangis, Eren pun berhasil tertidur pulas.

. . .

***

Pertemuannya dengan Levi membuatnya sangat senang dan bersyukur. Tak menyangka sesaat dirinya bangun dari tidur, membuka mata pertama kali dan yang dilihatnya ialah Levi seorang. Tak mampu berucap, ia hanya bisa menangis dan memeluk Levi dengan erat. Beberapa menit telah berlalu dan mereka masih terus memeluk satu sama lain.

Eren kemudian menghentikan tangisnya, ia menyentuh tangan Levi dan meremasnya.

“A-aku... maksud sa-saya,” ucapnya dengan terbata.

“Bicaralah senyamanmu Eren saat bersamaku, tidak apa-apa.” Levi tersenyum mencoba menenangkan Eren yang masih terlihat ketakutan.

“Aku, aku takut sendiri, aku mau pulang, Levi. Mau pulang.” Perkataan Eren ini membuat hatinya mencelis. Entah apa saja yang telah dialami Eren seorang diri di tengah hutan ini semalam yang bisa menjadikan dirinya terlihat trauma dan putus asa.

“Kita akan pulang, kita bisa pulang sama-sama ya,” ucap Levi kembali menenangkan Eren. Ia kemudian mengusap punggung tangan Eren secara lembut.

“Kamu sudah makan?” tanyanya. Eren hanya menggeleng. Levi kemudian menurunkan tas carrier milik Eren membuat pemiliknya menatap Levi dan kemudian segera memeluk tas itu.

“Punyaku,” ucap Eren. Levi hanya mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan makanan yang ada di tas carriernya. Ia mengambil satu bar protein kaya kalori dan gizi kemudian menyodorkannya pada Eren. Eren kemudian mengambil itu dan segera memakannya. Levi dengan telaten kemudian memberikan air mineral kepada Eren yang langsung diteguknya cepat.

“Pelan-pelan,” ucapnya memperingati. Eren pun kemudian menurutinya. Memandang Eren yang sedang makan membuat dirinya ikut lapar dan ia kemudian makan bersama-sama dengannya.

“Kamu benar tidak apa-apa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa,” jawabnya.

“Bisa berjalan?” tanya Levi lagi.

“Bisa,” balas Eren singkat. “Pak Levi, setidaknya kita bisa keluar dari sini lebih dulu, di sini terlalu rapat. Mungkin kita bisa ke daerah yang lebih lapang.” Eren menatap penuh harap agar Levi menurutinya.

“Mulai sekarang dan seterusnya aku mohon Eren hapus embel-embel pak dari nama Levi. Panggil Levi saja, hanya Levi.” Pintanya sangat yang ternyata diangguki oleh Eren. Levi kemudian tersenyum dan mengangguk.

Sekarang mereka berdua akan berusaha untuk mencari jalan pendakian yang benar, berusaha terbebas dari kondisi tersesat ini.

Beberapa lama waktu telah berlalu dengan Levi yang sangat memperhatikan Eren kali ini, ia bertekad untuk menjaganya agar Eren tidak tersesat lagi. Dengan berbekal kompas dan peta yang dibawa, ia mencoba mencari jalan keluar dari kondisi ini berdua.

Hal aman luar biasa dirasakan oleh Eren. Kejadian semalam, saat dirinya tersesat cukup berpengaruh padanya, tetapi keberadaan Levi setidaknya bisa membuatnya tidak terlalu takut dan ada seseorang yang bisa ia andalkan. Sosok Levi ia amati lamat-lamat secara diam-diam kali ini dan rasa penasaran Eren semakin membuncah. Dalam hal ini memang benar. Seorang yang tulus bisa berbuat apa saja, dan itu jelas bisa Eren rasakan dari Levi. Ia hanya ingin tahu alasan sebenarnya tentang kejadian di pantai itu.

Mereka kemudian kembali fokus mengambil jalan yang akan dilalui. Keduanya telah berjalan cukup jauh menyusuri hutan yang terkesan sama sekali belum terjamah manusia lain. Tidak ada setapak, rumput liar yang tebal dan tinggi, lumut yang ada di mana-mana membuat jalanan licin.

Tiba di sebuah tempat yang sedikit datar dan lapang, Levi memutuskan untuk kembali beristirahat. Menilik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 10. Ia kemudian duduk dengan Eren yang ada di sampingnya. Eren memperhatikan Levi dengan seksama, yang membuat Levi merasakan itu.

“Levi, ada yang buat aku penasaran.”

“Tentang?” balasnya.

“Kamu memang peduli, atau hanya berpura-pura?” Pertanyaan aneh Eren yang membuat Levi kaget hingga alisnya berkerut dalam.

“Maksud kamu? Kamu lihat aku yang seperti ini hanya sebagai akting? Buat apa untungnya?” tanyanya.

“Kalau tidak salah, buat kamu dapetin harta waris dari almarhum ibu kamu.” Pernyataan Eren telak membuat Levi tergugu, tak mengira alasan yang pernah ditebaknya tentang Eren yang menjauhinya dahulu, setelah pulang dari pantai itu, ternyata benar.

Levi terlihat sejenak mengembuskan napasnya dan tersenyum kecil. Tak menyangka harus meluruskan semua pada Eren di situasi seperti ini. Namun, Levi tidak terlihat ragu.

“Mau dengar ceritaku Eren? Cerita tentang Levi Ackerman sepenuhnya?” tawaran Levi menjadi pintu jawaban dari hal yang Eren ingin ketahui selama ini.

“Tentu,” jawabnya.

***

.

.

.

.

.

*tw // domestic violence, mcd *

Levi Ackerman merupakan anak semata wayang dari Kuchel Ackerman dan suaminya. Ia bisa dibilang anak yang tidak diinginkan oleh ayahnya. Akan tetapi, ibunya sangat menerima keberadaannya sejak pertama kali diketahui dirinya hamil dan hingga Kuchel membesarkan Levi seorang diri. Entah apa yang merasuki suaminya itu, tetapi tampaknya ia sangat menolak keberadaan Levi. Padahal saat mereka menikah dan berumah tangga sebelumnya, suaminya sangat mencintai dan mengasihi Kuchel. Namun, setelah Levi lahir, ia bahkan tega mengusir Kuchel tak lama setelah ia berhasil melahirkan buah hatinya itu.

Luntang-lantung tak tentu arah hingga akhirnya kakaknya-Kenny Ackerman yang mengetahui kejadian itu langsung mencarinya dan mengajak Kuchel berserta Levi untuk tinggal bersamanya lagi. Mereka berdua pun hidup bersama dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan untuk bayi yang baru lahir.

Kondisi ekonomi mereka bisa dibilang kurang baik. Kenny yang sampai detik ini masih membujang, hanya bekerja sebagai kuli serabutan. Sementara itu, Kuchel yang hanya bisa bekerja jadi buruh cuci dan ART di rumah-rumah orang dibayar harian.

Levi yang semakin besar butuh biaya lebih terutama untuk bersekolah. Untungnya Levi dianugerahi kepintaran yang luar biasa, ia pun tergolong rajin belajar. Semenjak sekolah dasar ia selalu jadi juara kelas, menang banyak lomba yang membuatnya bisa lanjut sekolah menengah karena beasiswa.

Hal itu terus berlangsung hingga ia masuk ke bangku perkuliahan. Ia semakin aktif berprestasi banyak menjuarai kompetisi dan berhasil mengumpulkan banyak uang dari beasiswa dan lomba yang diikutinya itu, hal itu dilakukannya untuk meringankan beban finansial ibu dan pamannya.

Sampai di titik tabungannya yang semakin banyak memasuki tahun ke dua kuliah serta kecintaannya pada minuman teh. Ibunya berinisiatif untuk membuat kafe kecil bertema teh di wilayah dekat alam terbuka. Usaha mereka tak sia-sia, walau harus bersusah payah sebelumnya hampir bangkrut, tetapi Kuchel dapat membuat kafe itu sangat laris hingga menjadi suatu kafe yang eksklusif. Nama kafe itu adalah “le lavie”.

Di saat kesuksesan keluarga Ackerman itu, ayahnya yang tak tahu batang hidungnya kemudian datang meminta rujuk dengan Kuchel. Entah diguna-guna apa hingga Levi pun heran mengetahui ibunya mau menuruti permintaan itu. Levi tentu mengetahui tabiat ayahnya dari Kenny. Kenny membuka fakta pahit yang harus bisa Levi telan terkait dengan keberadaannya di dunia ini. Fakta itu hanya bisa didapatkan dari Kenny, karena Kuchel yang sangat apik menyembunyikan keburukan ayahnya itu dari Levi.

Levi dan Kuchel akhirnya ikut diboyong ke rumah si ayah. Sementara itu, kafe tersebut dibantu dipegang oleh Kenny seluruhnya. Saat keberadaannya di rumah ayahnya. Levi yang masih kuliah di tahun terakhir sangat terbebani. Sering kali ayahnya seperti kesetanan dan memukul Kuchel serta Levi tanpa ampun. Sangat temperamental hingga membuat keduanya babak belur dijadikan samsak oleh ayahnya itu. Hal ini pula yang membuat Levi mengubah hidup sampai berlatih dengan giat agar bisa bela diri.

Levi telah mencoba menasihati ibunya untuk bercerai dari ayahnya. Namun, ia terus menolak.

Levi menjadi sangat muak, semenjak hal tersebut, ia semakin skeptis dengan namanya cinta, kehidupan rumah tangga, dan keseluruhannya. Dari lahir ia tak peduli rasa itu dan mencoba memendam diri agar tidak sampai merasakan hal yang demikian. Baginya itu hal yang menyusahkan saja.

Hingga di waktu dia merantau jauh dari tempat tinggalnya yang bak neraka. Sewaktu itu ia telah bekerja di laboratorium Paradis yang terfokus pada perbanyakkan tanaman, dengan dirinya yang menjabat sebagai kepala salah satu sub laboratorium, ada sekelompok mahasiswa magang yang bekerja di tempatnya.

Bak telat pubertas, di hatinya ini bukan sesosok perempuan, tetapi sesosok lelaki bermata hijau dari kumpulan anak magang itu yang entah kenapa berhasil menarik perhatiannya hanya dalam jangka waktu beberapa hari saja. Namun, ia terus menampik, baginya itu hanya ketertarikan semata yang juga sayangnya ia akui sedikit menimbulkan kesan spesial di hati Levi.

Hingga sekitar satu setengah tahun setelahnya, ia kembali bertemu dengan lelaki bermata hijau itu lagi. Bersama teman-temannya yang lain, yang semula sekadar magang, sekarang menjadi laboran tetap di tempatnya bekerja. Dengan diam-diam ia memerhatikan lelaki itu, tanpa diketahui seorang pun di sana.

Tampaknya, rasa itu makin terpupuk tiap hari hingga ia tak sadar membawa ke rumah sesekali saat ia pulang mengunjungi ibunya. Wajahnya yang sumringah sedikit dengan raut cukup hangat berhasil terdeteksi oleh Kuchel. Digoda berkali-kali. Namun, Levi sayangnya terus membantah hal tersebut.

Hari terus berganti dan Levi merasakan ketertarikannya menjadi lebih lagi saat masih diam-diam melihat orang itu tertawa di kantin saat waktu istirahat bersama teman-temannya atau saat ia melakukan sesuatu. Sedikit demi sedikit ia merasa tak ada salahnya merasakan hal ini. Akan tetapi, sebelum tepat memutuskan mengubah pandangannya terkait hal romantis semacam itu. Ibunya kritis akibat ulah ayahnya lagi.

Kelakuan ayahnya makin parah hingga Kuchel harus dirawat di rumah sakit.

Di hampir ajalnya itu, sehari sebelumnya, ketika keadaannya membaik. Kuchel merasa bersalah dan menyampaikan semua hal pada Levi. Satu nasihat yang pasti, Kuchel tahu Levi sedang jatuh hati tapi ia trauma karena kelakuan ayahnya itu. Kuchel ingin Levi berbahagia hidup dengan orang yang disukainya tanpa beban. Tak peduli siapa orangnya, karena sayangnya ia belum bertemu dengan kesempatan itu. Namun, Kuchel dengan senang hati akan menerima anggota keluarga barunya. Ia juga ingin mengubah Levi yang sempat ia “rusak” sebelumnya.

Dengan terpaksa Kuchel melakukan cara ini. Ia tahu karena Levi tidak peduli tentang uang. Namun yang pasti Levi tidak mau dan tidak rela terlebih kafe “la lavie” yang nantinya bisa jatuh ke tangan ayahnya kalau ia tidak mau menikah.

. . . .

***

Eren mendengar cerita Levi keseluruhan dengan terpaku. Tak menyangka keingintahuannya seperti ini membuatnya mendapatkan fakta yang tak terduga.

“Maaf, aku...”

“Tidak perlu meminta maaf. Bukan salahmu.” Levi kemudian melanjutkan.

“Aku mengakui sudah menyukaimu saat kamu masih magang. Lima tahun yang lalu, benar? Sampai sekarang. Aku tak memaksa, jangan jadikan hal ini sebagai beban. Lagian ini bukan tanggung jawabmu. Setelah meluruskan hal ini, sumpah aku akan menerima apa pun jawabanmu. Jangan terlalu dipikirkan.” Levi meyakinkan Eren.

“Sesungguhnya pernah terlintas sedikit sifat picik. Aku bakal menikahi seseorang tak jelas hanya untuk mendapat sertifikat dan bisa mengambil semua harta waris ibuku. Namun, hatiku tidak rela. Tidak bisa seperti itu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berusaha mengejarmu dengan beberapa cara yang bisa membuat kita semakin dekat.”

Eren mengernyitkan alisnya. “Pergantian junior lab antara aku dan Armin...?” tanya Eren.

“Ya itu salah satunya. Walaupun tidak secara sengaja seperti itu. Memang terutama aku yang pusing memikirkan wasiat ibu yang berjangka waktu. Waktunya tinggal sedikit dan bahkan aku belum ambil langkah mendekatimu saat itu, hingga tak sadar membuat Armin tertekan saat bekerja. Ketika dia bilang mau bertukar denganmu. Otomatis aku setuju, karena itu suatu kebetulan yang hebat.”

Eren hanya terdiam mendengarkan. “Kafe la lavie? Milikmu?” tanyanya lagi.

“Ibuku tepatnya.”

“Kau mengajakku waktu itu, pertama kali hari saat aku dan Armin bertukar?” tanya Eren lagi.

“Ya, itu sengaja. Bukan apa-apa, rasanya ingin mengenalkanmu dengan kafe ibuku dan rasanya seperti ingin mengenalkanmu pada ibu. Namun aneh bukan jika aku tiba-tiba langsung membawamu ke makam ibuku. Di sana juga kamu sempat bertemu dengan pamanku, Eren. “

Eren hanya mengangguk dan tidak melanjutkan apa-apa setelahnya, seakan belum berkenan untuk menjawab pintaan Levi yang lalu itu. Ia terdiam. Levi pun paham, ia kemudian mengajak Eren untuk kembali berjalan lagi.

Keduanya sama-sama merasakan, tembok besar penghalang mereka sebelumnya, sepenuhnya mulai runtuh perlahan-lahan.

* * * * * *

. . .

Pukul 12 siang dan mereka belum bertemu dengan rekan yang lain. Levi mengetahui hal ini, yang lain sudah terpaksa turun tidak lengkap untuk mencari pertolongan. Mau tidak mau, Levi dan Eren harus bertahan sampai Tim SAR menemukan mereka. Satu hal yang pasti yang harus dijaga adalah bekal minum mereka yang mulai menipis.

Kegiatan mendaki yang menguras tenaga menjadikan mereka cepat haus. Karena hilangnya air yang ada akibat dari respirasi untuk menyediakan tenaga bagi mereka agar terus bergerak. Hutan yang mereka susuri terasa sangat luas dan tidak ada habisnya. Rasa lelah sudah dirasakan keduanya. Ditambah lelah yang hari-hari sebelumnya juga mereka rasakan.

Suatu kebetulan lain ditemukan oleh mereka berdua. Suara gemercik air terdengar sayup-sayup, mereka pun berniat untuk menuju arah suara itu. Sampailah ke sebuah sungai yang cukup besar dengan aliran air yang lumayan deras. Mereka dengan cepat mengisi botol kosong dengan air sungai tersebut.

“Levi, kita ikuti aliran ini, bagaimana? Biasanya akan mengarah ke bawah ke rumah penduduk-penduduk. Dengan begitu mungkin kita menemukan jalan dan bakal bertemu dengan penduduk di kaki Gunung Koral ini.” Eren menyatakan idenya pada Levi.

Levi sekilas melirik Eren dan berdeham singkat. “Istirahat dulu sebentar di sini, ya?” tawarnya. Eren pun mengangguk. Mereka pun duduk di dekat sungai di atas batu besar.

Mereka sejenak bisa merasakan kedamaian. Suara air yang mengalir dengan warna hijau di sekitarnya yang sangat mendominasi. Suasana ini, membuat Levi teringat tujuan utama mereka ada di sini. “Oh iya, kata Reiner bunga reksa itu ada di kamu?”

Eren mengangguk. “Mau lihat?” tanyanya. Kali ini giliran Levi yang mengangguk. Dibukanya tas berisi botol-botol kaca itu. Eren mengeluarkan satu botol dengan hati-hati kemudian menyodorkannya pada Levi.

Levi mengambilnya dan mengamati dengan saksama. “Sudah tumbuh ini, berhasil. Mulai sedikit ada kalus.” Eren turut mengamati dan mengangguk antusias. Ia lalu mengambil botol kaca itu dan segera memasukkan ke dalam tasnya lagi. Ia ingin cepat-cepat turun dari gunung ini dan membawanya ke laboratorium untuk dilakukan tahap yang lebih lanjut.

Saat selesai berpikiran seperti itu. Terdengar suara auman macan tiba-tiba. Auman yang sangat keras hingga terdengar seperti satu populasi burung yang mengepakkan sayap serentak seakan ingin keluar dari sarangnya terbang menjauhi harimau itu. Membuat Eren dan Levi terdiam menahan napas seketika. Eren beringsut mendekat Levi dengan gemetar. Tak lama wujud harimau itu nyata adanya walaupun keberadaannya cukup jauh, mengamati, tetapi terasa harimau mulai bergerak cepat untuk menuju tempat mereka. Tampak harimau itu entah kenapa terasa marah. Tanpa jeda, Levi merasakan bahaya yang nyata langsung refleks berdiri menarik Eren untuk mengikutinya.

“Ayo Eren, lari!” Dengan rasa takut di sekujur tubuhnya ia mulai bisa menggerakkan badannya yang sebelumnya kaku. Eren kesulitan menyeimbangkan diri. Namun, dengan bergandengan tangan dengan Levi ia berhasil bergerak cepat. Eren lalu mencoba menyesuaikan langkah berlari menyamai kecepatan lari Levi.

Auman harimau itu terdengar makin dekat membuat Eren asal berlari tidak memerhatikan langkahnya. Tersandung batu, hingga membuatnya terpeleset dan mengakibatkan gandengannya dengan Levi terputus. Levi langsung balik arah mendekati Eren yang sedang terjatuh ke bawah mendekati jurang.

“Eren!” teriaknya.

Eren tak bisa mendengar atau merasa apa pun, tubuhnya terpelanting dan berputar tak bisa ia kendalikan sama sekali. Hingga tangannya mencoba keras menggapai sesuatu agar jatuhnya tidak semakin jauh ke bawah.

Berpegang pada batang pohon di tepi jurang, ia berhasil bertahan. Bergelantungan dengan tas besar yang masih dalam gendongannya. Nyawa Eren benar-benar berada di ujung tanduk. Auman harimau sebelumnya, sudah tidak terdengar lagi di telinganya.

***

.

Levi was-was setengah mati melihat Eren yang jatuh terpelanting ke bawah. Tanpa pikiran lurus, ia berusaha mendekati Eren menuju bawah. Persetan dengan harimau itu, kali ini, tidak mungkin ia biarkan jika Eren sampai jatuh ke jurang. Tidak boleh terjadi.

Tak terasa hari mulai sore, matahari yang awalnya bersinar di atas kepala mereka mulai mengarah ke arah barat. Levi segera mempercepat langkahnya menuju bawah. Sampai di ujung jurang, ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Eren.

Kali ini dirinya yang gemetar, tak mau berasumsi buruk Eren benar terjatuh ke jurang sana.

“Eren!” panggilnya beberapa kali. Hingga ia kemudian mendengar suara balasan dengan volume yang sangat lirih.

“Levi.”

“Eren, di mana?!” tanyanya lagi.

“Bawah, jurang, tebing sedikit, di bawah pohon ujung itu.” Suara Eren tidak jelas sama sekali, tetapi tampaknya Levi berhasil menemukan maksud Eren. Ia perlahan mendekati pohon besar itu. Melongok sedikit ke bawah dan terlihat cukup jauh dari atas Eren yang sedang duduk di tepian tebing yang lumayan sempit.

“Aku terjatuh, tadi bergelantungan di batang itu.”

Saat sedang berpikir untuk membantu Eren naik ke atas. Tak disangka auman harimau itu masih terdengar cukup jelas di telinganya. Tak salah lagi, harimau itu masih benar-benar mengikutinya.

“Levi, aku mendengar suara harimau lagi. Cepat! Cari tempat yang aman! Sementara aku aman di sini. Kau naik pohon atau apa terserah.” Suara Eren bergetar berteriak panik.

Saat akan melangkah berbalik mencoba menaiki pohon, ia sangat terkejut melihat harimau itu benar-benar ada di depan matanya. Berjarak sekitar lima meter dari dirinya. Tak ada pilihan, Levi tak sempat berpikir jernih, ia kemudian memutuskan untuk turun ke tebing tempat Eren berada. Setelahnya, terlihat harimau itu yang melongok ke bawah, tak berniat lagi mendekati mereka.

Sedikit lega, sayangnya rasa lega itu tak berlangsung lama.

Mereka berdua akhirnya benar-benar terisolir dari mana pun. Tali yang sempat mereka bawa, ternyata tidak terlalu panjang tidak sampai untuk dilingkarkan ke batang pohon itu. Harapan satu-satunya dua orang itu ialah tim penolong yang cepat menemukan mereka.

* * * * *

. . . . . . . . . . . .

tw // major character death

Terhitung lima hari sudah mereka hanya diam di tebing sempit ini. Persediaan minum mereka sudah habis. Hujan anehnya tidak turun hingga lima hari lamanya. Ditambah dengan luka-luka yang mereka dapatkan saat berlari menjauhi harimau itu. Awalnya tidak terasa sakit, tetapi setelah harimau pergi, saat mereka mulai beristirahat baru dirasakan dengan jelas, banyak luka yang berdarah dan lecet di kaki mereka. Juga lebam yang tercetak apik di badan mereka.

Lima hari saat malamnya berlindung dari dingin menusuk menggunakan jaket tebal dan sarung tangan. Keduanya ada di momen paling tragis yang pernah dirasakannya. Lima hari berlalu sudah cukup menghabiskan semua sisa optimisme yang dipunya.

Harapan Tim SAR yang menemukan mereka belum juga datang. Keduanya sudah siap mati di Gunung Koral ini. Misi utama mereka terkait pencarian reksa sepenuhnya hilang terlupakan tertelan keputusasaan. Keduanya berbagi rasa ingin yang sama. Mereka ingin kembali pulang, pergi sejauh-jauhnya dari gunung ini.

Di tengah keputusasaan yang mendalam, Eren berkata dengan lirih ketika merasa dirinya tak kuat lagi. Tenaganya sudah diambang batas. Rasa menyerah terpupuk hingga batasnya. Panasnya matahari tidak mampu lagi menyemangati dirinya.

“Levi,” ucapnya. Ia kemudian dengan pelan menggunakan tenaga yang tersisa mendekat ke badan Levi yang juga sama sudah teramat lelah.

Fisiknya amat lelah. Lima hari terakhir mereka juga sebetulnya masih berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari tempat ini. Namun sayang tetap tidak berhasil.

Levi menengok, menatap wajah Eren dengan lembutnya. Eren kemudian memberanikan diri mengecup bibir ranum Levi cukup lama.

“Mungkin aku terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Levi Ackerman, aku juga cinta kamu. Aku terima permintaanmu untuk menjalin hubungan.”

“Kenapa baru sekarang, kok lama sekali?” kekehnya kecil. “Terima kasih Eren.”

Pelukan erat Levi hadiahkan pada Eren yang telah menerimanya.

Kemudian, kecupan di pucuk kepala adalah hal terakhir yang bisa ia beri kepada Eren.

Dalam hal ini, kecupan di pucuk kepalanya ialah juga hal terakhir yang Eren terima dari Levi.

Mereka pun tertidur pulas bersama-sama.

* *

. . .

Reiner berteriak sesaat matanya dengan jelas menangkap tas carrier yang familiar. Itu milik Eren dan Levi. Tas itu berada di tepi jurang yang amat curam cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Beberapa anggota Tim SAR kemudian berjalan ke arahnya. Mereka kemudian dengan hati-hati menuruni tebing sempit itu. Beberapa orang telah sampai di tepian kecil tembok tebing. Reiner bersama dengan Floch yang turut ikut sangat berharap Levi dan Eren masih hidup. Jantung mereka berdentum cepat ketika mulai menuruni tepian tebing.

Carrier milik Eren dan Levi ditemukan tergeletak dengan banyak bungkus bahan makanan yang berserakan serta dengan pakaian yang tergeletak seadanya.

Botol-botol kaca yang Reiner yakini betul berisi bunga reksa berada di luar tas Eren berjejer dengan rapi dan eksplan yang ditanam tampak menghilang bersih tanpa jejak. Seakan bersih tidak pernah dipakai.

Meskipun begitu, semua botol itu masih tertutup rapat.

Yang berubah hanya ada sisa agar bernutrient yang mulai menghitam dari awalnya yang berwarna bening.

Keberadaan Eren dan Levi anehnya menghilang, jejak mereka tidak ditemukan. Hanya meninggalkan pakaian yang tergeletak di tanah.

. . . . . . .

FIN

. . . .

Epilog

. . . . . . . . . . . . .

EPILOG

cw // depression

Duka mendalam terasa di benak tim reksa serta para sahabat-sahabat Eren. Kabar buruk itu dengan cepat terdengar oleh orang-orang laboratorium kantor Levi dan Eren. Semua orang tahu tentang berita buruk yang didapat. Selain itu, kabar ini pun dengan cepat menyebar ke seluruh akademisi yang bekerja di laboratorium lain dan pihak-pihak yang terkait dengan proyek besar ini.

Tak terkecuali Zeke Jaeger. Ia segera bergerak kesetanan, ditemani oleh Marcel Galliard menuju Gunung Koral. Zeke tak menyangka, firasat buruknya benar terjadi. Ketika ia mendapat info dari Porco dan Pieck kalau Eren dan Levi menghilang di gunung itu. Zeke sangat terpukul, kepergian Eren membuatnya resmi menjadi manusia sebatang kara.

Beberapa kali ia tampak frustrasi membentak semua orang dan meminta mereka untuk menemukan Eren dalam keadaan hidup. Ia juga turut memaksa ikut mencari Eren ke atas di kondisinya yang seperti ini. Ia memastikan Eren baik-baik saja.

Hal yang serupa turut dirasakan sahabat-sahabatnya, Mikasa, Jean, Sasha, Connie, dan Armin. Mereka sangat tidak menyangka dan belum siap kehilangan sahabat dekatnya. Tak menyangka perjalanan Eren ini berakhir tragis. Mereka segera menuju gunung setelah mendapat kabar menyakitkan itu. Beberapa hari terakhir bahkan kelima orang itu tidak saling bicara satu sama lain dan memutuskan untuk cuti menenangkan diri.

Lima hari adalah waktu mereka tetap berusaha optimis dan berdoa terkait keselamatan keduanya. Pencarian ini, mereka sangat harapkan mendapatkan hasil yang menggembirakan. Naas, di hari kelima itu, dengan berita yang disampaikan Reiner. Jasad Levi dan Eren tidak ditemukan, hanya barang-barangnya pribadi saja yang ditemukan utuh. Membuat mereka makin berduka mendalam.

Zeke semakin bertambah parah, ia benar-benar tidak terima takdir yang dialami oleh Eren ini. Ia terus memaksa agar Eren setidaknya bisa ditemukan dan bisa dikebumikan dengan layak jika memang ia sudah tiada.

Keluarga yang berduka bukan Eren saja, dari pihak Levi. Farlan yang menjadi sahabat dekatnya semenjak sekolah itu langsung turut menuju Gunung Koral setelah mendapat berita tak mengenakkan itu. Ia bergegas ke sana mencari kejelasan. Ia juga tidak turut menyangka Levi yang menjadi korban dalam pendakian ini. Kenny serta Zackley pengacara keluarga Ackerman turut datang mencari informasi.

Kebingungan mendalam, duka mendalam dirasakan anggota keluarga mereka. Tidak menyangka sama sekali niat mulia menghasilkan kejadian yang sangat tak mengenakkan.

Akan tetapi, di sebuah ruangan, terasa perbedaan yang sangat drastis. Ada orang yang berduka atas gagalnya proyek pencarian bunga reksa itu.

“Bagaimana kabarnya terkait pencarian bunga reksa itu?”

“Gagal Pak, katanya ada dua orang yang menghilang akibat proyek ini. Namanya Eren Jaeger dan Levi Ackerman. Menurut anggota timnya sebenarnya mereka sudah berhasil mengambil bunga itu dan dibawa oleh Eren. Tetapi Eren menghilang berserta dengan Levi. SAR yang menemukan barang-barang mereka, ada botol kaca dengan agar bernutrient. Masih tertutup rapat, tetapi bunga reksa menghilang tanpa jejak.”

“Jasad keduanya?”

“Tidak ditemukan, Pak.”

“Ngomong-ngomong tentang Eren Jaeger? Apakah ada hubungannya dengan Zeke?”

“Eren adalah adik Zeke Jaeger, Pak.”

“Begitu. Jadi, meskipun dengan alibi niat jahat yang tertutup niat baik, penghuni sana masih bisa merasakan ya?”

“Sepertinya begitu,” balas ajudan itu dengan singkat.

“Jaga rahasia ini. Saya belum mau melepaskan reksa, saya harus dapatkan itu buat parfum saya. Kamu urus semuanya. Pastikan lebih rapi, entah itu dua atau empat tahun lagi.”

“Alibi bunga reksa yang langka masih bisa digunakan, tentang pendaki tersesat bisa diperbarui jangan itu lagi. Buat alasan yang lebih baik lagi nantinya juga tim yang anggotanya lebih banyak bisa juga dilakukan.”

“Baik, Pak Magath akan saya rencanakan.”

“Terkait jasad keduanya tidak ada, keluarga masih mau melangsungkan upacara?”

“Informasi yang saya dapat seperti itu, Pak. Tulat, akan dilaksanakan upacara itu di masing-masing di rumah duka milik keluarga Jaeger dan Ackerman.”

Magath pun menyuruh orang itu pergi.

Ia mengeluarkan ponselnya, kemudian menelepon seseorang yang telah menjadi rekan kerjanya selama ini.

“Zeke, saya ikut berbelasungkawa atas apa yang sedang dialami oleh kamu.”

“Terima kasih Pak Magath, atas ucapan belasungkawa terhadap keluarga Jaeger. Sebelumnya mohon maaf, saya Galliard mewakili Zeke untuk menyampaikan hal ini karena Zeke masih sangat terpukul atas kepergian Eren.”

* * * * *

Di pelosok suatu tempat yang tertutup semak belukar di Gunung Koral, tampak sejoli yang sedang duduk berdampingan sambil mengamati bunga reksa yang sedang mekar. Seorang dari mereka kemudian berdiri, berjalan di antara tanaman reksa yang berjajar. Sangat terbiasa melakukan hal itu. Jarinya yang berhasil menyentuh kelopak bunga yang masih tertutup, seketika membuat kelopak bunga itu terbuka; mekar dengan indahnya.

Tak terasa matahari yang mulai meredup turun tergantikan oleh Rembulan gagah mentereng, membuat seorang wanita cantik berbaju putih ungu menghitung mundur seraya berkata.

“Kurang satu hari lagi, dan kalian berdua akan bebas. Terima kasih, telah menjaga reksa sekaligus menjadi penebusan dosa kalian berdua yang ingin mengambil reksa dari gunung ini. Kalian orang tulus dan niat kalian sebenarnya memang mulia. Ini bukan ulah kalian yang jahat. Terima kasih Eren, terima kasih Levi.”

. . . . .

&&& JOURNEY End.