Babak Akhir .01 – Journey

Lima belas menit berlalu, wajahnya sudah tidak tenang. Hatinya khawatir lagi setengah mati setelah kejadian Eren tersesat dan kejadian carriernya. Situasi kalut memenuhi hatinya, tak bisa menahan hingga ia membentak dan mencengkeram kerah baju Reiner.

“Eren di mana Reiner?!”

***

Bagian satu (2.5/3.0)

Keadaan seketika menjadi mencengkam, Levi saat ini terlihat benar-benar marah. Tak peduli dengan tubuh Reiner yang jauh lebih besar darinya, ia mencengkeram baju Reiner sampai dirinya menunduk menyamai tubuh Levi. Reiner sendiri tidak melawan sama sekali dan malah terlihat bersalah. Porco, Floch, dan Bertold yang kemudian berinisiatif mencoba untuk melerai keduanya, sedangkan Historia dan Pieck hanya terdiam takut.

“Pak Levi, tenang Pak. Kalau seperti ini tidak bakal bisa ada titik terang, Pak.” Floch memberanikan diri untuk berbicara, sebisanya agar tidak menimbulkan lebih banyak perkara. Bertold dan Porco masih berusaha untuk melepaskan cengkeraman Levi di baju milik Reiner. Setelah beberapa detik, Levi sadar dan akhirnya sedikit bisa mengendalikan lagi emosinya, menghela napasnya, dan kemudian melepaskan cengkeramannya dari Reiner. Frustrasi, diliriknya jam yang ada di tangan kirinya, sudah hampir pukul lima sore dan sebentar lagi gelap sangat tidak memungkinkan untuk mencari Eren.

Angin kemudian tak diinginkan berembus lumayan kuat, menimbulkan adanya suara dari gesekkan daun—terdengar. Dinginnya angin sedikit menusuk kulit mereka yang hanya dilapisi kaos tipis.

Levi menatap satu persatu semua rekan timnya, tatapan tajamnya kemudian dilayangkan terpusat kepada orang-orang yang satu tim dengan Eren. “Saya tanya, kok bisa Eren malah ditempatkan di paling belakang? Terus Eren tersesat, kalian nggak mikirin sama sekali yang ada di belakang atau bagaimana, tidak pernah kah ditunggu sesekali waktu dicek, memastikan apakah semua masih ada di track yang benar? Sama sekali tidak terpikir tentang itu? Kalian lupa semua kejadian yang Eren alami? Peka tidak kalian saya tanya?! Harusnya mikir kalian, perhatian sama rekan tim sendiri, apalagi di tempat begini. Hal remeh begitu saja saya harus kasih tahu supaya kalian paham?!”

Logika dan pikiran tentang dirinya sebagai tamu di wilayah antah berantah hilang sesaat. Levi kehilangan kendali atas dirinya, yang semestinya harus menjaga sikap di tanah gunung sepi ini. Tak sadar nadanya terlalu tinggi diucap seakan menantang. Hal itu pun membuat rekan timnya ciut. Sekelebatan angin langsung berembus menghantarkan dingin menyelekit pada perasaan mereka masing-masing.

Semuanya hanya diam, tidak berani berkata apa pun terhadap perkataan Levi yang lumayan keras disertai sindiran yang cukup tajam itu. Hal ini karena perkataan Levi memang sangat benar adanya, tim satu memang melupakan semua kejadian Eren yang ganjil sewaktu naik. Porco, Reiner, dan Pieck juga merasa bersalah oleh karenanya. Mereka tidak ingat hal itu sama sekali, karena kesenangan yang didapatkan tadi, memperoleh bunga Reksa dan juga akibat terfokus pada Porco yang cedera.

Levi terlihat sedang mengatur emosinya agar menjadi lebih tenang. “Sekarang bagaimana? Saya tawarkan kalian buat mikir. Kepala saya sudah dingin tenang saja,” ucap Levi. Semuanya masih terdiam, tidak ada yang mau buka suara meskipun sudah beberapa menit berlalu. Levi pun menunggu dengan tak sabar yang apik disembunyikan.

“Maaf, Pak Levi saya benar-benar minta maaf. Jujur saya lupa semua tentang Eren dan lebih terfokus pada Bunga Reksa itu saja.” Pieck kemudian berkata; menyampaikan maafnya, menyesal pada Levi walau dengan nyali seujung kuku. Matanya menatap takut, tetapi memberanikan diri untuk berkontak pandangan dengan ketua timnya itu.

“Tidak perlu minta maaf pada saya. Yang saya butuh sekarang otak kalian buat mikir, jalan keluarnya bagaimana,” balas Levi.

Floch akhirnya menyampaikan pendapatnya, ia berkata dengan berhati-hati berharap tidak memicu amarah Levi lagi. “Saran saya, kita perlu ke tenda terlebih dahulu, Pak. Maaf bukannya saya tidak peduli dengan Eren. Namun, di situasi yang sudah akan gelap ini sebaiknya pencarian dimulai besok hari saja. Apalagi Porco sudah cedera dan rekan yang lain juga sudah lelah. Saya yakin Eren juga akan bisa bertahan di sana, saya berpikiran positif untuknya.”

Levi mengamati setitik respon yang diberikan oleh yang lain, tampak mereka setuju, tetapi tak ada yang berani bersuara. Sangat berat untuk memutuskan jika mereka akan kembali tanpa Eren yang keberadaannya entah ada di mana sekarang ini. Terlebih untuk Levi, dia sadar, merasa gagal untuk jadi ketua tim yang becus dan gagal melindungi orang yang disukainya itu. Pikiran berkecamuk berputar, tetapi dengan segala pertimbangan menyakitkan yang ada, dia memilih satu opsi yang menurutnya paling tidak buruk dari semua yang buruk.

“Kalau itu mau kalian, silakan berjalan kembali ke tenda dan beristirahat.” Semuanya kemudian bergerak dan kali ini tanpa suara, Levi mengambil tempat paling belakang. Tidak ada yang protes, karena sejatinya mereka juga tahu ditempatkan di posisi mana pun, Levi bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Langkah Levi sengaja dipelankan, berharap tiba-tiba Eren kembali lagi dan memanggilnya. Nihil, sampai tenda, keberadaan Eren juga belum nampak.

Jam menunjukkan pukul enam lebih lima belas dengan kegelapan malam yang lebih terasa pekat dari sebelumnya. Semua sedang memasak makanan dan Levi sedang menyendiri di dalam tenda. Rasa khawatir masih terus dirasakan. Dirinya hanya berharap tanpa henti, Eren masih bertahan di luar sana.

Kamu harus bertahan Eren, harus.

***

Malam sedang berlangsung, dengan masing-masing orang yang memikirkan sesuatu yang berat menyebabkan belum ada yang tertidur pulas. Hangat tenda agak terasa hilang terlebih tenda yang diisi laki-laki. Ketegangan masih terasa jelas, terutama pada Levi dan Reiner yang masih juga belum reda. Hanya ada suara tonggeret yang terdengar lebih nyaring dari biasanya dan juga sayup-sayup suara musik tradisional khas Jawa—Gamelan yang cukup terdengar jelas di telinga mereka. Sesuatu yang baru mereka rasakan sejelas dan seganjil ini, dan tak luput bisa membuat bulu kuduk sedikit meremang. Sesuatu tak beres terjadi lagi. Namun, agaknya mereka telah mengerti hal ganjil tersebut mencoba mengabaikannya dan tak ada seorang pun yang ingin membahasnya.

Tonggeret juga dirasakan makin berbunyi nyaring dan makin riuh terdengar oleh mereka, sesaat setelah bunyi gamelan hilang sepenuhnya. Bunyian itu seperti membentuk nada-nada yang terdengar seperti kode morse. Mereka mengetahui karena suara yang didengar tidak secara asal berbunyi. Entahlah, seperti ada yang mengkomando. Hal itu turut membuat mereka menciut takut berharap waktu pagi segera datang.

Namun, sayangnya malam itu terasa sangat lama sekali berjalan. Jam malam memasuki dini hari dan mereka hanya bisa tidur ayam, benar-benar tidak bisa tertidur pulas hingga tiba-tiba mata mereka terbuka sepenuhnya akibat Historia—seorang diri yang mengunjungi tenda mereka dan berbicara dengan nada yang ketakutan.

“Tolong, Pieck, Pieck... Pak Levi, Reiner, team...” Kesadaran semua lelaki yang ada di tenda penuh akibat suara panik Historia yang membangunkan mereka.

“Ada apa Historia?” tanya Levi setelah membuka tenda dan mendapati raut khawatir dan pandangan mata kebingungan milik Historia.

“Pieck, Pieck, Pieck. Diaa...” Historia dengan panik mencoba menjelaskan sambil tangannya menunjuk ke tendanya dengan getar yang sangat kentara. Akan tetapi, tak ada kata-kata yang jelas di sana. Sementara itu, hanya ada air matanya kemudian menetes yang cukup menyatakan sesuatu hal buruk terjadi. Levi tanpa sepatah kata langsung menuju tenda Pieck diikuti oleh semuanya.

Kaget, reaksi yang ditampakkan oleh semua yang mendapati Pieck sedang menggigil hebat. Tubuhnya seperti terkena hipotermia. Kejadian ganjil terjadi lagi. Hal ini karena cuaca di sekitar mereka saat ini tidak terlalu dingin menusuk, hujan juga tidak turun sama sekali dan bagaimana bisa Pieck seakan terserang gejala hipotermia? Apa penyebabnya?

“Historia, Pieck dari kapan begini? Tanya Porco panik dengan dia yang segera masuk dan duduk di dekat tubuh Pieck. “Dingin banget,” ucapnya setelah tangannya merasakan suhu yang ada di dahi Pieck.

“Nggak tau... bangun-bangun aku ngerasa ada... yang goncang kaya gempa. Terus, aku bangun, liat Pieck... Pieck udah begitu. Dia jadi gak sadar, aku udah sempet tepokkin pipi ta-tapi gak sadar juga. Makanya aku ke tenda kalian... aku ngga tau harus apa—aku—aku bingung. Terus ini Pieck... gimana?” Historia menjelaskan dengan dia yang masih terus menangis.

“Hisu, tenang ya. Jaket atau apa pun itu punya Pieck mana? Please tenang, jangan nangis. Semakin kamu cepet tenang, Pieck makin cepet buat kita tolong.” Floch menenangkan Historia dan untungnya berhasil. Historia berhenti mengangis. Ia juga menunjuk ke carrier milik Pieck dan bergegas membukanya untuk mencari-cari baju hangat yang dibawa oleh Pieck.

“Bertold, lo ambil emergency blanket.” Reiner menyuruh Bertold dan ia pun mengangguk bergegas keluar tenda.

Kepanikan cukup terasa di tenda sempit ini. Pieck yang masih menggigil cukup hebat, tetapi berangsur pelan dan masih tidak sadar. Kulitnya sudah mulai memucat hampir kebiruan yang membuat Porco semakin panik. Sementara itu, Historia telah berhasil mengeluarkan sejumlah baju hangat dari carrier kepunyaan Pieck.

“Porco, coba cek itu Pieck di dalam sleeping bagnya. Pakaiannya basah atau tidak.” Levi berkata pada Porco. Dengan hati-hati Porco mulai membuka sedikit resleting sleeping bag Pieck dan meraba sebentar kulitnya.

“Basah, basah banget, sleeping bag nya juga udah basah di dalemnya,” ucapnya. Reiner terlihat mengangguk dan mengambil alih. “Baiknya kita keluar tenda. Hisu kamu bisa kan, ganti pakaian milik Pieck, semuanya. Tapi, hati-hati jangan sampai Pieck kepapar lama sama udara. Harus cepet.” Reiner berkata dengan cepat dan Hisu terlihat mengangguk.

Mereka pun segera keluar dari tenda dengan berdiri menjaga tenda. Bertold terlihat membawa selimut darurat di tangannya. Reiner pun terlihat akan bergerak menuju tendanya sebelum dihentikan oleh Levi.

“Mau ke mana?” tanya Levi.

“Saya mau ambil sleeping bag punya saya. Itu tadi Porco bilang punya Pieck sudah basah,” balas Reiner. Levi mengangguk kemudian mengikuti langkah Reiner. Di dalam tenda tersebut, Levi menahan Reiner yang sedang membereskan sleeping bag nya itu.

“Kamu butuh sleeping bag itu. Buat Pieck sekarang, pakai punya Eren saja.” Entah apa yang dirasakan Levi saat ini, tetapi intuisinya menyuruhnya berbuat demikian. “Maaf Pak, saya benar-benar minta maaf, saya tidak becus waktu kemarin sehingga Eren...” Reiner merasa kembali bersalah hingga perkataan yang belum usai itu dipotong Levi.

“Anggap saja kecelakaan. Tentang Eren jangan dibahas dulu. Kalau kamu tidak becus, saya lebih tidak becus kalau begitu sebagai leader dari tim ini. Saya minta maaf atas perlakuan saya yang kelewat emosi kemarin.” Levi berkata sambil tangannya terus membuka carrier merah besar milik Eren yang ditinggalkan di tenda. Permintaan maafnya ia sampaikan tulus, tak lain karena dirinya yang merasa tak nyaman dengan kondisi tim yang diujung tanduk; berantakan karenanya.

Levi diam tak berbicara sepatah pun setelahnya. Ia terlalu fokus membuka carrier Eren yang sempat dibereskan oleh empunya tadi pagi. Barang-barang tertata rapi di dalamnya. Sedikit hatinya merasa berdenyut, karena yang tersisa bersama mereka saat ini hanya barang kepunyaan Eren, bukan eksistensi pemiliknya. Namun, rasa menyesakkan itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan sleeping bag yang dibutuhkan.

Setelah mendapatkannya, ia kemudian bergegas keluar tenda dan menuju tenda milik Pieck dan Historia, sangat pas kedatangannya karena Historia muncul dan berkata bahwa pakaian Pieck seluruhnya telah diganti.

Floch kemudiam masuk ke dalam tenda dan mulai menyelimuti Pieck dengan selimut darurat. Levi kemudian menggelar sleeping bag milik Eren di bagian dalam tenda yang tersisa cukup lapang. Mereka kemudian membantu menggotong Pieck untuk masuk ke dalam sleeping bag berwarna biru—milik Eren itu. Usaha mereka tidak sia-sia. Pieck berangsur membaik dan tubuhnya tidak menggigil hebat seperti tadi. Warna tubuhnya pun berangsur segar.

“Rei, Porco tolong siapin kompor, masak air.” Keduanya pun mengangguk. Pieck berangsur lebih baik lagi dan sekarang ini dia layaknya sedang tertidur dengan nafas yang teratur.

Sebelum Reiner dan Porco berdiri keluar tenda untuk memasak air. Semua yang masih di dalam tenda mendengar Pieck mengigau.

“Eren, Eren, jangan... Eren kamu harus balik... Pulang... Zeke... Abang Zeke nunggu kamu pulang...”

Tubuh mereka seketika membeku. Perasaan ganjil dan semua adegan buruk terputar yang dituntun igauan milik Pieck dalam imajinasi terdalam mereka. Tentang Eren.

Sejatinya, kondisi mental mereka sekarang sudah diambang batas. Dipaksa harus tetap waras di tengah impitan situasi di luar nalar dan di luar kuasa mereka.

Terlebih untuk Levi seorang, rasanya makin menyesakkan memikirkan Eren yang saat ini hilang entah di mana. Igauan Pieck sangat amat ia berharap hanyalah igauan tanpa arti. Ia masih meyakini Erennya masih bertahan di luar sana.

***