<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>seedwaffle</title>
    <link>https://seedwaffle.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 11:55:40 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Babak Akhir – The Journey</title>
      <link>https://seedwaffle.writeas.com/babak-akhir-the-journey?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Terlebih untuk Levi seorang, rasanya makin menyesakkan memikirkan Eren yang saat ini hilang entah di mana. Igauan Pieck sangat amat ia berharap hanyalah igauan tanpa arti. Ia masih meyakini Erennya masih bertahan di luar sana.&#xA;&#xA;                              ** &#xA;&#xA;Babak akhir (final) (3/3) — Journey&#xA;&#xA;---Babak ini bakal panjang banget dan agak berat. Dikit-dikit aja bacanya. Enjoy reading. Tq---&#xA;&#xA;Disclaimer (TW dan CW akan disesuaikan per bagian adegan)&#xA;&#xA;Pagi yang telah dinanti akhirnya datang kembali, cahaya menjadi penyegar bagi para manusia terisolir yang sedang ada di Gunung Koral setelah menghadapi berbagai permasalahan aneh dan tak masuk akal di malam tadi. Cahaya Mentari yang datang setidaknya bisa menjadi tali penarik semangat dan penambah kekuatan mental yang telah loyo beberapa hari terakhir. Kecuali Pieck yang sempat tak sadarkan diri dan Eren yang hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Semua orang merasa cukup lelah karena tak banyak beristirahat. Pieck yang meski semalam sakit, pagi ini terlihat sangat bugar, dan sepertinya ia tidak merasakan sesuatu hal yang janggal. Perempuan itu sangat amat berperilaku seperti biasa saja. Semuanya pun memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat tentang ini, tanpa sedikit pun berniat untuk memberitahu Pieck. &#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Tenda telah dibongkar semuanya, mereka berencana untuk secepatnya mencari Eren hingga batas waktu siang nanti. Kemungkinan terburuknya, jika Eren belum ditemukan maka mereka akan terpaksa turun ke bawah menuju basecamp untuk mencari pertolongan SAR yang lebih kompeten. Semua sudah bersiap dan berkumpul saling dekat satu sama lain. Sebelum memulai perjalanannya, Levi sebagai ketua menyampaikan hal yang sangat penting agar bisa dipahami oleh rekan-rekannya. &#xA;&#xA;“Ada yang saya mau bicarakan kepada kalian semua.” Levi mengembuskan napasnya lalu berkata, “jika nanti Eren belum juga ditemukan, ditambah kemungkinan terburuk ada yang tersesat lagi, siapa pun itu, kalian yang tersisa harus secepatnya ke bawah cari pertolongan. Batasnya tetap siang nanti, usahakan saya minta minimal kalian berdua-dua. Perasaan saya benar-benar tidak enak, jadi mohon kalian kooperatif sehingga kita bisa selamat.” Semuanya kemudian mengangguk, paham betul apa yang dimaksud Levi. &#xA;&#xA;“Untuk carrier milik Eren bagaimana, Pak?” tanya Reiner. “Dibawa saja mending, kalau pun ditinggal…” Floch yang bersuara dan menggantungkan ucapannya begitu saja. Levi pun akhirnya memutuskan. “Bawa saja, saya yang bawa itu.” Levi kemudian membawa carrier Eren dengan menumpuknya di atas tas carriernya sendiri. Dia tidak merasa keberatan sama sekali, karena carrier milik Eren itu termasuk ringan dibawa akibat logistik di dalamnya pun tidak penuh dan sebagian telah dibawa oleh Eren di backpacknya. &#xA;&#xA;Dengan keputusan tersebut akhirnya mereka mulai bergerak, kembali lagi menuju ke patokan batu besar itu. Berjalan ke arah barat laut sambil memperhatikan tanda pita pink yang sebelumnya tim satu telah lingkarkan ke batang-batang pohon. Terus bergerak sambil memanggil nama Eren dan sesekali Reiner yang membunyikan peluit bersandi morse. Pencarian semakin dalam dan rumput tinggi yang ditemui terus menyulitkan pencarian mereka. Reiner tiba-tiba saja berpikiran kalau mungkin Eren ada di wilayah bunga reksa itu ditemukan, atau pun tersesat tak jauh dari tempat mereka menemukan bunga reksa. Tanpa bersuara dan menyatakan pendapatnya ke anggota lain, sebagai navigator dengan sengaja ia menuntun timnya ke wilayah itu. Berbekal pita pink yang terpasang, dan daya ingatnya yang masih dibilang kuat tentang track kemarin, ia terus berjalan. &#xA;&#xA;Jalanan yang dilewatinya beberapa kali bagi Reiner sudah terasa tidak asing lagi. Berkali-kali ia menjumpai bunga berwarna kuning persis dengan letak dan pemandangan yang serupa. De javu, berkali-kali. Perasaan bimbang tak mengenakan kembali dirasakannya. Walaupun begitu Reiner terus berjalan mencoba mengalihkan pikirannya agar bisa sejernih-jernihnya, hingga ia kembali lagi menemukan bunga kuning yang sama itu, ia memutuskan untuk berhenti. &#xA;&#xA;“Kenapa Reiner?” tanya Levi yang persis berada di belakang Reiner dengan rekan yang lain turut memandanginya bingung. Keringat mengalir dari dahi Reiner, ia berasumsi Levi dan yang lainnya tidak merasakan hal yang ganjil ini. Hanya dirinya, seorang diri. Sudah sedari tadi mereka berputar-putar di wilayah yang sama. Ia pun beralibi untuk menyembunyikan rasa takutnya yang semakin menjadi, “Kalau boleh saya mau tukar tempat, Floch navigator saja.” Kali ini Floch yang memandang Reiner penuh selidik, dia mengetahui ada yang disembunyikan olehnya. Namun, Floch menyetujui permintaan Reiner tanpa bertanya lebih jauh. Dengan begitu, urutan berjalan mereka saat ini adalah Floch, Levi, Pieck, Historia, Porco, Berthold, Reiner. &#xA;&#xA;Floch berjalan memimpin, ia bulatkan tekad untuk siap menjadi pembuka jalan bagi rekan-rekannya.  Mereka terus berjalan dan Floch seketika merasa mereka terlalu keluar jalur dari jalur yang ditandai pita pink di batang pohonnya. Ia pun berhenti dan meminta untuk memutar balik. Hal yang serupa seperti Reiner ternyata dirasakan juga oleh Floch, setelah beberapa lama berjalan dengan lebih waspada terhadap sekitar. Ia merasa telah berputar-putar di tempat yang sama. Selanjutnya, Floch berhenti mendadak dan menatap Reiner, seakan berkontak batin. Reiner yang dipandangi pun mengangguk kecil. Dengan begitu, mereka mengetahui kalau ini bukan gangguan untuk pribadi. Namun, sepertinya gangguan untuk mereka semuanya agar tersesat dan sulit menemukan Eren. &#xA;&#xA;Floch akhirnya beralibi kepada Levi untuk sejenak beristirahat. Levi kemudian menyetujui karena tidak terasa mereka telah berjalan sekitar satu jam. Tanpa jeda, Floch langsung menarik Reiner untuk berdiskusi secara diam-diam. &#xA;&#xA;&#34;Ner, lo ngeh pasti kan. Berarti dari awal itu lo udah ngerasa?&#34; tanya Floch. &#xA;&#xA;&#34;Hooh, lo pas pertama itu emang enggak?&#34; tanya Reiner balik. &#xA;&#xA;&#34;Gak, sumpah. Pas pertama sebelum lo minta tuker peran, gue ngerasa ngga disesatin. Baru pas gue di depan, ngerasa dah kok kaya diputer-puterin terus.&#34; Floch berkata dengan panik. &#xA;&#xA;&#34;Btw gue juga pas pindah ada di belakang ngga ngerasa disesatin, sumpah, cuma pas di depan doang. Maksud ga lo, jadi pas gue pindah,  kaya kita jalan aja gitu, ngga muter-muter. Makanya antara kaget ga kaget waktu lo natap begitu. Langsung feeling guenya.&#34; &#xA;&#xA;Floch kemudian berpikir sejenak. &#34;Terus gimana? Bakal ribet ini, tapi kok bisa pov mandang jalan bisa beda banget gitu, gue bingung anjrit.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hush.&#34; Reiner seketika memberhentikan Floch yang hampir hilang kendali.&#xA;&#xA;&#34;Sorry, gue keceplosan,&#34; ucapnya sambil menggosok rambutnya frustrasi. &#xA;&#xA;&#34;Ya udah, mau gimana lagi. Kita ikutin dulu aja, batas jam 8 an. Kalau ada yang aneh lagi lo ngomong ke gue.&#34; Pinta Reiner yang kemudian disetujui oleh Floch. &#xA;&#xA;Mereka kemudian lebih terlihat santai dan mengalihkan pikirannya dengan menyantap beberapa camilan. Keduanya tak sadar, percakapan mereka yang diam-diam itu sedari tadi diperhatikan oleh Levi yang menatap mereka penuh curiga. Namun, Levi tidak mau menanyakan mereka sedang berdiskusi terkait hal apa, ia hanya diam. Sementara ini ia hanya menganggap dan menyimpannya hal itu seperti angin lalu saja. &#xA;&#xA;Mereka akhirnya kembali lagi berjalan, kali ini langkah mereka terasa sangat berbeda. Sangat sengaja Floch terlihat ingin membuat tempo berjalan mereka cukup lambat. Levi dan semuanya masih terus memanggil Eren, tetapi nihil sampai saat ini. Pita berwarna merah muda itu pun, sudah tak bisa lagi digunakan untuk mencari petunjuk. Di mata Levi saat mereka berjalan, daerah dengan pita pink terasa sudah dijelajahi semuanya. &#xA;&#xA;Tak lama kemudian, suatu rasa dirasakan olehnya sedikit berbeda. Bulu kuduknya, sedikit berdiri, entah kenapa. Sedetik kemudian, tiba-tiba ia mencium suatu bau yang sangat khas dibarengi dengan kabut tebal yang ikut tampak lalu menghilang dalam sekejap. Ia sempat gugup mengalami keanehan tersebut, tetapi sirna langsung setelah disuguhi bau nikmat memikat. &#xA;&#xA;Bau itu sangat wangi. Wangi yang belum pernah ia cium sebelumnya. Suguhan wangi seperti campuran bunga melati dan mawar putih serta vanila yang amat kuat, dan terdapat satu wangi misterius, yang ia tidak bisa tebak berasal dari tumbuhan apa. Wangi campuran itu sangat enak dan baginya sangat memabukkan. Sejenak, pikirannya kacau, ia ingin bergerak mencari sumber wangi itu. Tak terelakkan susah dikendalikan sesaat, karena wangi itu seakan memanggilnya untuk mendekat. &#xA;&#xA;Levi sempat terlena hampir saja, tetapi ia mencoba untuk mengembalikan kewarasannya dengan susah payah. &#xA;&#xA;Kewarasannya akhirnya bisa ia dapatkan lagi setelah berusaha kembali fokus. &#xA;&#xA;Kemudian ia berniat untuk segera menjauh firasatnya berkata kalau ini bakal menjadi sumber petaka, Levi mencoba untuk memperhatikan jalan di depannya. Syukur, tenang sejenak ketika masih terlihat Floch sedang berjalan di depan sana sambil terus memanggil nama Eren. &#xA;&#xA;Levi kemudian kembali bergerak, mencoba terus mengenyahkan pikirannya atas wangi itu. Ia masih tetap mengikuti Floch. Akan tetapi, perasaannya dan indra olfaktorinya tetap tak bisa dibohongi. Makin merinding diikuti bau wangi itu entah kenapa makin terasa kuat di hidungnya. Levi terus berjalan, hingga kemudian sosok Floch tiba-tiba menghilang begitu saja di balik ilalang. &#xA;&#xA;Kaget setengah mati, ditambah sesaat kemudian angin berhembus cepat menimbulkan hawa dingin di kulit. Suatu bebunyian yang terdengar seperti burung melengking bersuara hebat. Tiga puluh lima tahun hidupnya, bisa dibilang situasi ini yang membuatnya takut akan ketidakpastian. Seorang Levi Ackerman berhasil dibuat ciut oleh kondisi ini.  &#xA;&#xA;Mencoba kembali tenang, segala rapalan dilantunkan untuk tetap bergeming menetralkan dahulu sedikit rasa takut yang ada. Komat-kamit di hati, mencoba untuk terus waras dan tidak panik. Kejadian ganjil seakan silih berganti mengenai rekan timnya. Sekarang ini pasti gilirannya, pikirannya tetap harus fokus, dia harus segera mungkin menyusul rekan timnya. Tujuannya sekarang mencari Eren yang tersesat, tidak bisa juga ia biarkan dirinya ikut tersesat. Pikiran bertujuan menemukan Eren, seakan menjadi penguatnya. &#xA;&#xA;Dengan tekad bulat dan yakin. Levi kemudian mulai bergerak. Beberapa ranting pohon dan batu-batuan terjal yang menghalanginya bisa ia lalui tanpa kesulitan berarti. Ia hanya berjalan sembari memegang kompas dan percaya intuisi. Setitik di hati Levi, ia sudah pasrah terhadap apa yang akan dialaminya nanti. &#xA;&#xA;Saat masih terus berjalan, tanpa diduga, di depan sana, terlihat seseorang sedang duduk memeluk lututnya, dengan duduk di bawah bivak seadanya yang diapit oleh dua pohon lumayan besar. Terlihat sebuah backpack yang sangat ia kenal di dekat orang itu. Tubuhnya kaku sejenak, dengan sorot matanya yang memindai orang itu secara detail. &#xA;&#xA;Detak jantung Levi berdentum cepat. Matanya seakan tak percaya dengan hal yang ada di hadapannya saat ini. Meneguk ludah dengan rasa gemetar tak karuan. Levi kemudian memberanikan diri sedikit melangkah. &#xA;&#xA;Dengan masih berhati-hati, ia melangkah mendekati sosok itu. Terhenti, ketika lelaki itu tiba-tiba menengadahkan kepalanya. Matanya bertatapan dengan Levi lamat-lamat. Levi mengamati orang itu yang sedang menatapnya tak percaya, selanjutnya menangis tanpa suara. Tersirat rasa lega dari raut wajahnya. Tanpa jeda, Levi bergerak langsung, berlari kemudian memeluk lelaki itu dengan eratnya. &#xA;&#xA;Eren, Levi berhasil bertemu kembali dengan Eren. Ia dipertemukan kembali dengan Eren. &#xA;&#xA;&#34;Levi, Levi,&#34; ucap Eren tak berhenti sambil terus menangis. Levi makin memeluk Eren, mengusap pelan punggungnya yang bergetar itu. &#xA;&#xA;&#34;Benar ini Eren kan? Syukurlah, syukurlah.&#34; Levi lega luar biasa, ia terus memeluk erat Eren dan Eren yang membalas dengan sama eratnya. Keduanya mencurahkan rasa lega akibat telah bertemu lagi, sedikit kehangatan di antara sepi  dan cekam yang mendominasi berhasil tercipta oleh interaksi keduanya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu tidak apa-apa?&#34; tanya Levi sambil memindai semua tubuhnya dengan tergesa. Pandangannya telak hanya menatap wajah kumal itu yang ditopang lembut di telapak tangannya. Yang ditanya hanya menggeleng, sambil masih terus menangis. &#xA;&#xA;*&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Beberapa saat sebelumnya &#xA;&#xA;cw // local mythical creature , horror &#xA;&#xA;Eren telah pasrah, kakinya yang sakit akibat semalaman tadi berjalan tak tentu arah. Sangat ingin kembali lagi dengan rekan-rekannya. Ia benci tersesat lagi, ditambah di malam hari di tengah hutan seorang diri. Kabut telah turun dengan tebalnya. Membuat jarak pandangnya semakin sempit. Bivak ala kadarnya yang berhasil ia buat dari jas hujan yang dibawa di dalam backpacknya, tak bisa melindungi diri dari rasa takut. &#xA;&#xA;Semalaman, ia hanya duduk terdiam di alam terbuka, di tengah hutan belantara, hanya bergantung sedikit dari head lamp yang diatur ke cahaya paling redup untuk penerangan di sekelilingnya. Sinar rembulan yang dilihatnya tak membantu, malah semakin menimbulkan kengerian di tengah kabut tebal yang menyelimuti. Eren dilingkupi perasaan takut setengah mati. Dingin menusuk mulai dirasakan ketika sudah memasuki waktu malam hari. Suara hewan malam yang turut berbunyi makin membuat dirinya takut. Bahaya makhluk buas, yang nyata mau pun tidak juga menjadi momok untuknya. Memeluk lutut, berharap tak melihat apa pun. Tak melihat sesuatu yang ia ingin tidak lihat. Tak mendengar apa pun. Tidak ingin mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar. &#xA;&#xA;Sekelebatan memori yang tiba-tiba masuk ke pikirannya sebelum kedatangannya di sini membuat dirinya rindu. Eren rindu akan abangnya, ia juga rindu pada sahabat-sahabatnya. Ia rindu pula terhadap Levi. Berharap penuh, Levi akan mencarinya, tetapi sampai saat ini, ia tidak bertemu dengannya. Eren putus asa, rasa dingin, lelah, perih baik fisik dan psikisnya mengimpitnya tak nyaman sampai rasanya sangat sesak. &#xA;&#xA;Di tengah ketidakpastian ini, ia kemudian menangis hebat tanpa suara, dadanya yang sesak karena putus asa menjadi alasan masuk akal dirinya menangis segila ini. Kedatangannya ke sini bahkan tiada niat jahat bukan? Ia hanya mencari bunga reksa untuk nantinya bisa dilestarikan, bukankah itu niat yang baik. Ia hanya diamanahi tugas itu dan ia menjalankannya sepenuh hati. Kenapa hasilnya menjadi tidak baik seperti ini, yaitu dipenuhi rasa janggal yang menyusahkan seakan ia dan teman-temannya tergolong makhluk-makhluk hina, tak tahu diuntung. &#xA;&#xA;Sejenak rasa tangisnya sekaligus frustrasi bisa menjadikannya benar-benar abai terhadap area sekitar. &#xA;&#xA;Ia abai terhadap pemandangan di depannya yang tiba-tiba berubah, kabut tebal menghilang tanpa sisa berganti dengan pemandangan pekarangan bunga reksa yang tiba-tiba muncul mengelilinginya. &#xA;&#xA;Ia abai dengan kejadian mekarnya semua bunga itu secara serentak sesaat kemudian. Ia juga abai dengan segala wangi memabukkan yang dikeluarkannya saat mereka semua mekar dengan indahnya. &#xA;&#xA;Ia turut abai dengan bunga reksa yang mulai tumbuh di dalam botol kaca miliknya yang sengaja sebelumnya sudah ia biakkan. &#xA;&#xA;Ia juga abai dengan wanita cantik bergaun putih ungu yang memandangnya dalam, tak jauh dari tempatnya duduk. &#xA;&#xA;Lelah menangis, Eren pun berhasil tertidur pulas. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;* &#xA;&#xA;Pertemuannya dengan Levi membuatnya sangat senang dan bersyukur. Tak menyangka sesaat dirinya bangun dari tidur, membuka mata pertama kali dan yang dilihatnya ialah Levi seorang. Tak mampu berucap, ia hanya bisa menangis dan memeluk Levi dengan erat. Beberapa menit telah berlalu dan mereka masih terus memeluk satu sama lain. &#xA;&#xA;Eren kemudian menghentikan tangisnya, ia menyentuh tangan Levi dan meremasnya. &#xA;&#xA;&#34;A-aku... maksud sa-saya,&#34; ucapnya dengan terbata.&#xA;&#xA;&#34;Bicaralah senyamanmu Eren saat bersamaku, tidak apa-apa.&#34; Levi tersenyum mencoba menenangkan Eren yang masih terlihat ketakutan. &#xA;&#xA;&#34;Aku, aku takut sendiri, aku mau pulang, Levi. Mau pulang.&#34; Perkataan Eren ini membuat hatinya mencelis. Entah apa saja yang telah dialami Eren seorang diri di tengah hutan ini semalam yang bisa menjadikan dirinya terlihat trauma dan putus asa. &#xA;&#xA;&#34;Kita akan pulang, kita bisa pulang sama-sama ya,&#34; ucap Levi kembali menenangkan Eren. Ia kemudian mengusap punggung tangan Eren secara lembut. &#xA;&#xA;&#34;Kamu sudah makan?&#34; tanyanya. Eren hanya menggeleng. Levi kemudian menurunkan tas carrier milik Eren membuat pemiliknya menatap Levi dan kemudian segera memeluk tas itu. &#xA;&#xA;&#34;Punyaku,&#34; ucap Eren. Levi hanya mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan makanan yang ada di tas carriernya. Ia mengambil satu bar protein kaya kalori dan gizi kemudian menyodorkannya pada Eren. Eren kemudian mengambil itu dan segera memakannya. Levi dengan telaten kemudian memberikan air mineral kepada Eren yang langsung diteguknya cepat. &#xA;&#xA;&#34;Pelan-pelan,&#34; ucapnya memperingati. Eren pun kemudian menurutinya. Memandang Eren yang sedang makan membuat dirinya ikut lapar dan ia kemudian makan bersama-sama dengannya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu benar tidak apa-apa?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa,&#34; jawabnya. &#xA;&#xA;&#34;Bisa berjalan?&#34; tanya Levi lagi. &#xA;&#xA;&#34;Bisa,&#34; balas Eren singkat. &#34;Pak Levi, setidaknya kita bisa keluar dari sini lebih dulu, di sini terlalu rapat. Mungkin kita bisa ke daerah yang lebih lapang.&#34; Eren menatap penuh harap agar Levi menurutinya. &#xA;&#xA;&#34;Mulai sekarang dan seterusnya aku mohon Eren hapus embel-embel pak dari nama Levi. Panggil Levi saja, hanya Levi.&#34; Pintanya sangat yang ternyata diangguki oleh Eren. Levi kemudian tersenyum dan mengangguk. &#xA;&#xA;Sekarang mereka berdua akan berusaha untuk mencari jalan pendakian yang benar, berusaha terbebas dari kondisi tersesat ini. &#xA;&#xA;Beberapa lama waktu telah berlalu dengan Levi yang sangat memperhatikan Eren kali ini, ia bertekad untuk menjaganya agar Eren tidak tersesat lagi. Dengan berbekal kompas dan peta yang dibawa, ia mencoba mencari jalan keluar dari kondisi ini berdua. &#xA;&#xA;Hal aman luar biasa dirasakan oleh Eren. Kejadian semalam, saat dirinya tersesat cukup berpengaruh padanya, tetapi keberadaan Levi setidaknya bisa membuatnya tidak terlalu takut dan ada seseorang yang bisa ia andalkan. Sosok Levi ia amati lamat-lamat secara diam-diam kali ini dan rasa penasaran Eren semakin membuncah. Dalam hal ini memang benar. Seorang yang tulus bisa berbuat apa saja, dan itu jelas bisa Eren rasakan dari Levi. Ia hanya ingin tahu alasan sebenarnya tentang kejadian di pantai itu. &#xA;&#xA;Mereka kemudian kembali fokus mengambil jalan yang akan dilalui. Keduanya telah berjalan cukup jauh menyusuri hutan yang terkesan sama sekali belum terjamah manusia lain. Tidak ada setapak, rumput liar yang tebal dan tinggi, lumut yang ada di mana-mana membuat jalanan licin. &#xA;&#xA;Tiba di sebuah tempat yang sedikit datar dan lapang, Levi memutuskan untuk kembali beristirahat. Menilik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 10. Ia kemudian duduk dengan Eren yang ada di sampingnya. Eren memperhatikan Levi dengan seksama, yang membuat Levi merasakan itu. &#xA;&#xA;&#34;Levi, ada yang buat aku penasaran.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tentang?&#34; balasnya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu memang peduli, atau hanya berpura-pura?&#34; Pertanyaan aneh Eren yang membuat Levi kaget hingga alisnya berkerut dalam. &#xA;&#xA;&#34;Maksud kamu? Kamu lihat aku yang seperti ini hanya sebagai akting? Buat apa untungnya?&#34; tanyanya. &#xA;&#xA;&#34;Kalau tidak salah, buat kamu dapetin harta waris dari almarhum ibu kamu.&#34; Pernyataan Eren telak membuat Levi tergugu, tak mengira  alasan yang pernah ditebaknya tentang Eren yang menjauhinya dahulu, setelah pulang dari pantai itu, ternyata benar. &#xA;&#xA;Levi terlihat sejenak mengembuskan napasnya dan tersenyum kecil. Tak menyangka harus meluruskan semua pada Eren di situasi seperti ini. Namun, Levi tidak terlihat ragu. &#xA;&#xA;&#34;Mau dengar ceritaku Eren? Cerita tentang Levi Ackerman sepenuhnya?&#34; tawaran Levi menjadi pintu jawaban dari hal yang Eren ingin ketahui selama ini. &#xA;&#xA;&#34;Tentu,&#34; jawabnya. &#xA;&#xA;*&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;tw // domestic violence, mcd &#xA;&#xA;Levi Ackerman merupakan anak semata wayang dari Kuchel Ackerman dan suaminya. Ia bisa dibilang anak yang tidak diinginkan oleh ayahnya. Akan tetapi, ibunya sangat menerima keberadaannya sejak pertama kali diketahui dirinya hamil dan hingga Kuchel membesarkan Levi seorang diri. Entah apa yang merasuki suaminya itu, tetapi tampaknya ia sangat menolak keberadaan Levi. Padahal saat mereka menikah dan berumah tangga sebelumnya, suaminya sangat mencintai dan mengasihi Kuchel. Namun, setelah Levi lahir, ia bahkan tega mengusir Kuchel tak lama setelah ia berhasil melahirkan buah hatinya itu. &#xA;&#xA;Luntang-lantung tak tentu arah hingga akhirnya kakaknya-Kenny Ackerman yang mengetahui kejadian itu langsung mencarinya dan mengajak Kuchel berserta Levi untuk tinggal bersamanya lagi. Mereka berdua pun hidup bersama dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan untuk bayi yang baru lahir. &#xA;&#xA;Kondisi ekonomi mereka bisa dibilang kurang baik. Kenny yang sampai detik ini masih membujang, hanya bekerja sebagai kuli serabutan. Sementara itu, Kuchel yang hanya bisa bekerja jadi buruh cuci dan ART di rumah-rumah orang dibayar harian. &#xA;&#xA;Levi yang semakin besar butuh biaya lebih terutama untuk bersekolah. Untungnya Levi dianugerahi kepintaran yang luar biasa, ia pun tergolong rajin belajar. Semenjak sekolah dasar ia selalu jadi juara kelas, menang banyak lomba yang membuatnya bisa lanjut sekolah menengah karena beasiswa. &#xA;&#xA;Hal itu terus berlangsung hingga ia masuk ke bangku perkuliahan. Ia semakin aktif berprestasi banyak menjuarai kompetisi dan berhasil mengumpulkan banyak uang dari beasiswa dan lomba yang diikutinya itu, hal itu dilakukannya untuk meringankan beban finansial ibu dan pamannya. &#xA;&#xA;Sampai di titik tabungannya yang semakin banyak memasuki tahun ke dua kuliah serta kecintaannya pada minuman teh. Ibunya berinisiatif untuk membuat kafe kecil bertema teh di wilayah dekat alam terbuka. Usaha mereka tak sia-sia, walau harus bersusah payah sebelumnya hampir bangkrut, tetapi Kuchel dapat membuat kafe itu sangat laris hingga menjadi suatu kafe yang eksklusif. Nama kafe itu adalah &#34;le lavie&#34;. &#xA;&#xA;Di saat kesuksesan keluarga Ackerman itu, ayahnya yang tak tahu batang hidungnya kemudian datang meminta rujuk dengan Kuchel. Entah diguna-guna apa hingga Levi pun heran mengetahui ibunya mau menuruti permintaan itu. Levi tentu mengetahui tabiat ayahnya dari Kenny. Kenny membuka fakta pahit yang harus bisa Levi telan terkait dengan keberadaannya di dunia ini. Fakta itu hanya bisa didapatkan dari Kenny, karena Kuchel yang sangat apik menyembunyikan keburukan ayahnya itu dari Levi. &#xA;&#xA;Levi dan Kuchel akhirnya ikut diboyong ke rumah si ayah. Sementara itu, kafe tersebut dibantu dipegang oleh Kenny seluruhnya. Saat keberadaannya di rumah ayahnya. Levi yang masih kuliah di tahun terakhir sangat terbebani. Sering kali ayahnya seperti kesetanan dan memukul Kuchel serta Levi tanpa ampun. Sangat temperamental hingga membuat keduanya babak belur dijadikan samsak oleh ayahnya itu. Hal ini pula yang membuat Levi mengubah hidup sampai berlatih dengan giat agar bisa bela diri. &#xA;&#xA;Levi telah mencoba menasihati ibunya untuk bercerai dari ayahnya. Namun, ia terus menolak. &#xA;&#xA;Levi menjadi sangat muak, semenjak hal tersebut, ia semakin skeptis dengan namanya cinta, kehidupan rumah tangga, dan keseluruhannya. Dari lahir ia tak peduli rasa itu dan mencoba memendam diri agar tidak sampai merasakan hal yang demikian. Baginya itu hal yang menyusahkan saja. &#xA;&#xA;Hingga di waktu dia merantau jauh dari tempat tinggalnya yang bak neraka. Sewaktu itu ia telah bekerja di laboratorium Paradis yang terfokus pada perbanyakkan tanaman, dengan dirinya yang menjabat sebagai kepala salah satu sub laboratorium, ada sekelompok mahasiswa magang yang bekerja di tempatnya. &#xA;&#xA;Bak telat pubertas, di hatinya ini bukan sesosok perempuan, tetapi sesosok lelaki bermata hijau dari kumpulan anak magang itu yang entah kenapa berhasil menarik perhatiannya hanya dalam jangka waktu beberapa hari saja. Namun, ia terus menampik, baginya itu hanya ketertarikan semata yang juga sayangnya ia akui sedikit  menimbulkan kesan spesial di hati Levi. &#xA;&#xA;Hingga sekitar satu setengah tahun setelahnya, ia kembali bertemu dengan lelaki bermata hijau itu lagi. Bersama teman-temannya yang lain, yang semula sekadar magang, sekarang menjadi laboran tetap di tempatnya bekerja. Dengan diam-diam ia memerhatikan lelaki itu, tanpa diketahui seorang pun di sana. &#xA;&#xA;Tampaknya, rasa itu makin terpupuk tiap hari hingga ia tak sadar membawa ke rumah sesekali saat ia pulang mengunjungi ibunya. Wajahnya yang sumringah sedikit dengan raut cukup hangat berhasil terdeteksi oleh Kuchel. Digoda berkali-kali. Namun, Levi sayangnya terus membantah hal tersebut. &#xA;&#xA;Hari terus berganti dan Levi merasakan ketertarikannya menjadi lebih lagi saat masih diam-diam melihat orang itu tertawa di kantin saat waktu istirahat bersama teman-temannya atau saat ia melakukan sesuatu. Sedikit demi sedikit ia merasa tak ada salahnya merasakan hal ini. Akan tetapi, sebelum tepat memutuskan mengubah pandangannya terkait hal romantis semacam itu. Ibunya kritis akibat ulah ayahnya lagi. &#xA;&#xA;Kelakuan ayahnya makin parah hingga Kuchel harus dirawat di rumah sakit. &#xA;&#xA;Di hampir ajalnya itu, sehari sebelumnya, ketika keadaannya membaik. Kuchel merasa bersalah dan menyampaikan semua hal pada Levi. Satu nasihat yang pasti, Kuchel tahu Levi sedang jatuh hati tapi ia trauma karena kelakuan ayahnya itu. Kuchel ingin Levi berbahagia hidup dengan orang yang disukainya tanpa beban. Tak peduli siapa orangnya, karena sayangnya ia belum bertemu dengan kesempatan itu. Namun, Kuchel dengan senang hati akan menerima anggota keluarga barunya. Ia juga ingin mengubah Levi yang sempat ia &#34;rusak&#34; sebelumnya. &#xA;&#xA;Dengan terpaksa Kuchel melakukan cara ini. Ia tahu karena Levi tidak peduli tentang uang. Namun yang pasti Levi tidak mau dan tidak rela terlebih kafe &#34;la lavie&#34; yang nantinya bisa jatuh ke tangan ayahnya kalau ia tidak mau menikah. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Eren mendengar cerita Levi keseluruhan dengan terpaku. Tak menyangka keingintahuannya seperti ini membuatnya mendapatkan fakta yang tak terduga. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, aku...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tidak perlu meminta maaf. Bukan salahmu.&#34; Levi kemudian melanjutkan. &#xA;&#xA;&#34;Aku mengakui sudah menyukaimu saat kamu masih magang. Lima tahun yang lalu, benar? Sampai sekarang. Aku tak memaksa, jangan jadikan hal ini sebagai beban. Lagian ini bukan tanggung jawabmu. Setelah meluruskan hal ini, sumpah aku akan menerima apa pun jawabanmu. Jangan terlalu dipikirkan.&#34; Levi meyakinkan Eren. &#xA;&#xA;&#34;Sesungguhnya pernah terlintas sedikit sifat picik. Aku bakal menikahi seseorang tak jelas hanya untuk mendapat sertifikat dan bisa mengambil semua harta waris ibuku. Namun, hatiku tidak rela. Tidak bisa seperti itu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berusaha mengejarmu dengan beberapa cara yang bisa membuat kita semakin dekat.&#34; &#xA;&#xA;Eren mengernyitkan alisnya. &#34;Pergantian junior lab antara aku dan Armin...?&#34; tanya Eren. &#xA;&#xA;&#34;Ya itu salah satunya. Walaupun tidak secara sengaja seperti itu. Memang terutama aku yang pusing memikirkan wasiat ibu yang berjangka waktu. Waktunya tinggal sedikit dan bahkan aku belum ambil langkah mendekatimu saat itu, hingga tak sadar membuat Armin tertekan saat bekerja. Ketika dia bilang mau bertukar denganmu. Otomatis aku setuju, karena itu suatu kebetulan yang hebat.&#34;&#xA;&#xA;Eren hanya terdiam mendengarkan. &#34;Kafe la lavie? Milikmu?&#34; tanyanya lagi. &#xA;&#xA;&#34;Ibuku tepatnya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kau mengajakku waktu itu, pertama kali hari saat aku dan Armin bertukar?&#34; tanya Eren lagi. &#xA;&#xA;&#34;Ya, itu sengaja. Bukan apa-apa, rasanya ingin mengenalkanmu dengan kafe ibuku dan rasanya seperti ingin mengenalkanmu pada ibu. Namun aneh bukan jika aku tiba-tiba langsung membawamu ke makam ibuku. Di sana juga kamu sempat bertemu dengan pamanku, Eren. &#34; &#xA;&#xA;Eren hanya mengangguk dan tidak melanjutkan apa-apa setelahnya, seakan belum berkenan untuk menjawab pintaan Levi yang lalu itu. Ia terdiam. Levi pun paham, ia kemudian mengajak Eren untuk kembali berjalan lagi. &#xA;&#xA;Keduanya sama-sama merasakan, tembok besar penghalang mereka sebelumnya, sepenuhnya mulai runtuh perlahan-lahan. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Pukul 12 siang dan mereka belum bertemu dengan rekan yang lain. Levi mengetahui hal ini, yang lain sudah terpaksa turun tidak lengkap untuk mencari pertolongan. Mau tidak mau, Levi dan Eren harus bertahan sampai Tim SAR menemukan mereka. Satu hal yang pasti yang harus dijaga adalah bekal minum mereka yang mulai menipis. &#xA;&#xA;Kegiatan mendaki yang menguras tenaga menjadikan mereka cepat haus. Karena hilangnya air yang ada akibat dari respirasi untuk menyediakan tenaga bagi mereka agar terus bergerak. Hutan yang mereka susuri terasa sangat luas dan tidak ada habisnya. Rasa lelah sudah dirasakan keduanya. Ditambah lelah yang hari-hari sebelumnya juga mereka rasakan. &#xA;&#xA;Suatu kebetulan lain ditemukan oleh mereka berdua. Suara gemercik air terdengar sayup-sayup, mereka pun berniat untuk menuju arah suara itu. Sampailah ke sebuah sungai yang cukup besar dengan aliran air yang lumayan deras. Mereka dengan cepat mengisi botol kosong dengan air sungai tersebut. &#xA;&#xA;&#34;Levi, kita ikuti aliran ini, bagaimana? Biasanya akan mengarah ke bawah ke rumah penduduk-penduduk. Dengan begitu mungkin kita menemukan jalan dan bakal bertemu dengan penduduk di kaki Gunung Koral ini.&#34; Eren menyatakan idenya pada Levi. &#xA;&#xA;Levi sekilas melirik Eren dan berdeham singkat. &#34;Istirahat dulu sebentar di sini, ya?&#34; tawarnya. Eren pun mengangguk. Mereka pun duduk di dekat sungai di atas batu besar.&#xA;&#xA;Mereka sejenak bisa merasakan kedamaian. Suara air yang mengalir dengan warna hijau di sekitarnya yang sangat mendominasi. Suasana ini, membuat Levi teringat tujuan utama mereka ada di sini. &#34;Oh iya, kata Reiner bunga reksa itu ada di kamu?&#34; &#xA;&#xA;Eren mengangguk. &#34;Mau lihat?&#34; tanyanya. Kali ini giliran Levi yang mengangguk. Dibukanya tas berisi botol-botol kaca itu. Eren mengeluarkan satu botol dengan hati-hati kemudian menyodorkannya pada Levi. &#xA;&#xA;Levi mengambilnya dan mengamati dengan saksama. &#34;Sudah tumbuh ini, berhasil. Mulai sedikit ada kalus.&#34; Eren turut mengamati dan mengangguk antusias. Ia lalu mengambil botol kaca itu dan segera memasukkan ke dalam tasnya lagi. Ia ingin cepat-cepat turun dari gunung ini dan membawanya ke laboratorium untuk dilakukan tahap yang lebih lanjut. &#xA;&#xA;Saat selesai berpikiran seperti itu. Terdengar suara auman macan tiba-tiba. Auman yang sangat keras hingga terdengar seperti satu populasi burung yang mengepakkan sayap serentak seakan ingin keluar dari sarangnya terbang menjauhi harimau itu. Membuat Eren dan Levi terdiam menahan napas seketika. Eren beringsut mendekat Levi dengan gemetar. Tak lama wujud harimau itu nyata adanya walaupun keberadaannya cukup jauh, mengamati, tetapi terasa harimau mulai bergerak cepat untuk menuju tempat mereka. Tampak harimau itu entah kenapa terasa marah. Tanpa jeda, Levi merasakan bahaya yang nyata langsung refleks berdiri menarik Eren untuk mengikutinya. &#xA;&#xA;&#34;Ayo Eren, lari!&#34; Dengan rasa takut di sekujur tubuhnya ia mulai bisa menggerakkan badannya yang sebelumnya kaku. Eren kesulitan menyeimbangkan diri. Namun, dengan bergandengan tangan dengan Levi ia berhasil bergerak cepat. Eren lalu mencoba menyesuaikan langkah berlari menyamai kecepatan lari Levi. &#xA;&#xA;Auman harimau itu terdengar makin dekat membuat Eren asal berlari tidak memerhatikan langkahnya. Tersandung batu, hingga membuatnya terpeleset dan mengakibatkan gandengannya dengan Levi terputus. Levi langsung balik arah mendekati Eren yang sedang terjatuh ke bawah mendekati jurang. &#xA;&#xA;&#34;Eren!&#34; teriaknya. &#xA;&#xA;Eren tak bisa mendengar atau merasa apa pun, tubuhnya terpelanting dan berputar tak bisa ia kendalikan sama sekali. Hingga tangannya mencoba keras menggapai sesuatu agar jatuhnya tidak semakin jauh ke bawah. &#xA;&#xA;Berpegang pada batang pohon di tepi jurang, ia berhasil bertahan. Bergelantungan dengan tas besar yang masih dalam gendongannya. Nyawa Eren benar-benar berada di ujung tanduk. Auman harimau sebelumnya, sudah tidak terdengar lagi di telinganya. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Levi was-was setengah mati melihat Eren yang jatuh terpelanting ke bawah. Tanpa pikiran lurus, ia berusaha mendekati Eren menuju bawah. Persetan dengan harimau itu, kali ini, tidak mungkin ia biarkan jika Eren sampai jatuh ke jurang. Tidak boleh terjadi. &#xA;&#xA;Tak terasa hari mulai sore, matahari yang awalnya bersinar di atas kepala mereka mulai mengarah ke arah barat. Levi segera mempercepat langkahnya menuju bawah. Sampai di ujung jurang, ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Eren. &#xA;&#xA;Kali ini dirinya yang gemetar, tak mau berasumsi buruk Eren benar terjatuh ke jurang sana. &#xA;&#xA;&#34;Eren!&#34; panggilnya beberapa kali. Hingga ia kemudian mendengar suara balasan dengan volume yang sangat lirih. &#xA;&#xA;&#34;Levi.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eren, di mana?!&#34; tanyanya lagi. &#xA;&#xA;&#34;Bawah, jurang, tebing sedikit, di bawah pohon ujung itu.&#34; Suara Eren tidak jelas sama sekali, tetapi tampaknya Levi berhasil menemukan maksud Eren. Ia perlahan mendekati pohon besar itu. Melongok sedikit ke bawah dan terlihat cukup jauh dari atas Eren yang sedang duduk di tepian tebing yang lumayan sempit. &#xA;&#xA;&#34;Aku terjatuh, tadi bergelantungan di batang itu.&#34; &#xA;&#xA;Saat sedang berpikir untuk membantu Eren naik ke atas. Tak disangka auman harimau itu masih terdengar cukup jelas di telinganya. Tak salah lagi, harimau itu masih benar-benar mengikutinya. &#xA;&#xA;&#34;Levi, aku mendengar suara harimau lagi. Cepat! Cari tempat yang aman! Sementara aku aman di sini. Kau naik pohon atau apa terserah.&#34; Suara Eren bergetar berteriak panik. &#xA;&#xA;Saat akan melangkah berbalik mencoba menaiki pohon, ia sangat terkejut melihat harimau itu benar-benar ada di depan matanya. Berjarak sekitar lima meter dari dirinya. Tak ada pilihan, Levi tak sempat berpikir jernih, ia kemudian memutuskan untuk turun ke tebing tempat Eren berada. Setelahnya, terlihat harimau itu yang melongok ke bawah, tak berniat lagi mendekati mereka. &#xA;&#xA;Sedikit lega, sayangnya rasa lega itu tak berlangsung lama. &#xA;&#xA;Mereka berdua akhirnya benar-benar terisolir dari mana pun. Tali yang sempat mereka bawa, ternyata tidak terlalu panjang tidak sampai untuk dilingkarkan ke batang pohon itu. Harapan satu-satunya dua orang itu ialah tim penolong yang cepat menemukan mereka. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;tw // major character death&#xA;&#xA;Terhitung lima hari sudah mereka hanya diam di tebing sempit ini. Persediaan minum mereka sudah habis. Hujan anehnya tidak turun hingga lima hari lamanya. Ditambah dengan luka-luka yang mereka dapatkan saat berlari menjauhi harimau itu. Awalnya tidak terasa sakit, tetapi setelah harimau pergi, saat mereka mulai beristirahat baru dirasakan dengan jelas, banyak luka yang berdarah dan lecet di kaki mereka. Juga lebam yang tercetak apik di badan mereka. &#xA;&#xA;Lima hari saat malamnya berlindung dari dingin menusuk menggunakan jaket tebal dan sarung tangan. Keduanya ada di momen paling tragis yang pernah dirasakannya. Lima hari berlalu sudah cukup menghabiskan semua sisa optimisme yang dipunya. &#xA;&#xA;Harapan Tim SAR yang menemukan mereka belum juga datang. Keduanya sudah siap mati di Gunung Koral ini. Misi utama mereka terkait pencarian reksa sepenuhnya hilang terlupakan tertelan keputusasaan. Keduanya berbagi rasa ingin yang sama. Mereka ingin kembali pulang, pergi sejauh-jauhnya dari gunung ini. &#xA;&#xA;Di tengah keputusasaan yang mendalam, Eren berkata dengan lirih ketika merasa dirinya tak kuat lagi. Tenaganya sudah diambang batas. Rasa menyerah terpupuk hingga batasnya. Panasnya matahari tidak mampu lagi menyemangati dirinya. &#xA;&#xA;&#34;Levi,&#34; ucapnya. Ia kemudian dengan pelan menggunakan tenaga yang tersisa mendekat ke badan Levi yang juga sama sudah teramat lelah. &#xA;&#xA;Fisiknya amat lelah. Lima hari terakhir mereka juga sebetulnya masih berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari tempat ini. Namun sayang tetap tidak berhasil. &#xA;&#xA;Levi menengok, menatap wajah Eren dengan lembutnya. Eren kemudian memberanikan diri mengecup bibir ranum Levi cukup lama.&#xA; &#xA;&#34;Mungkin aku terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Levi Ackerman, aku juga cinta kamu. Aku terima permintaanmu untuk menjalin hubungan.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kenapa baru sekarang, kok lama sekali?&#34; kekehnya kecil. &#34;Terima kasih Eren.&#34; &#xA;&#xA;Pelukan erat Levi hadiahkan pada Eren yang telah menerimanya. &#xA;&#xA;Kemudian, kecupan di pucuk kepala adalah hal terakhir yang bisa ia beri kepada Eren. &#xA;&#xA;Dalam hal ini, kecupan di pucuk kepalanya ialah juga hal terakhir yang Eren terima dari Levi. &#xA;&#xA;Mereka pun tertidur pulas bersama-sama.&#xA; &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Reiner berteriak sesaat matanya dengan jelas menangkap tas carrier yang familiar. Itu milik Eren dan Levi. Tas itu berada di tepi jurang yang amat curam cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Beberapa anggota Tim SAR kemudian berjalan ke arahnya. Mereka kemudian dengan hati-hati menuruni tebing sempit itu. Beberapa orang telah sampai di tepian kecil tembok tebing. Reiner bersama dengan Floch yang turut ikut sangat berharap Levi dan Eren masih hidup. Jantung mereka berdentum cepat ketika mulai menuruni tepian tebing. &#xA;&#xA;Carrier milik Eren dan Levi ditemukan tergeletak dengan banyak bungkus bahan makanan yang berserakan serta dengan pakaian yang tergeletak seadanya. &#xA;&#xA;Botol-botol kaca yang Reiner yakini betul berisi bunga reksa berada di luar tas Eren berjejer dengan rapi dan eksplan yang ditanam tampak  menghilang bersih tanpa jejak. Seakan bersih tidak pernah dipakai. &#xA;&#xA;Meskipun begitu, semua botol itu masih tertutup rapat. &#xA;&#xA;Yang berubah hanya ada sisa agar bernutrient yang mulai menghitam dari awalnya yang berwarna bening. &#xA;&#xA;Keberadaan Eren dan Levi anehnya menghilang, jejak mereka tidak ditemukan. Hanya meninggalkan pakaian yang tergeletak di tanah. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;FIN&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Epilog&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;EPILOG&#xA;&#xA;cw // depression*&#xA;&#xA;Duka mendalam terasa di benak tim reksa serta para sahabat-sahabat Eren. Kabar buruk itu dengan cepat terdengar oleh orang-orang laboratorium kantor Levi dan Eren. Semua orang tahu tentang berita buruk yang didapat. Selain itu, kabar ini pun dengan cepat menyebar ke seluruh akademisi yang bekerja di laboratorium lain dan pihak-pihak yang terkait dengan proyek besar ini. &#xA;&#xA;Tak terkecuali Zeke Jaeger. Ia segera bergerak kesetanan, ditemani oleh Marcel Galliard menuju Gunung Koral. Zeke tak menyangka, firasat buruknya benar terjadi. Ketika ia mendapat info dari Porco dan Pieck kalau Eren dan Levi menghilang di gunung itu. Zeke sangat terpukul, kepergian Eren membuatnya resmi menjadi manusia  sebatang kara. &#xA;&#xA;Beberapa kali ia tampak frustrasi membentak semua orang dan meminta mereka untuk menemukan Eren dalam keadaan hidup. Ia juga turut memaksa ikut mencari Eren ke atas di kondisinya yang seperti ini. Ia memastikan Eren baik-baik saja. &#xA;&#xA;Hal yang serupa turut dirasakan sahabat-sahabatnya, Mikasa, Jean, Sasha, Connie, dan Armin. Mereka sangat tidak menyangka dan belum siap kehilangan sahabat dekatnya. Tak menyangka perjalanan Eren ini berakhir tragis. Mereka segera menuju gunung setelah mendapat kabar menyakitkan itu. Beberapa hari terakhir bahkan kelima orang itu tidak saling bicara satu sama lain dan memutuskan untuk cuti menenangkan diri. &#xA;&#xA;Lima hari adalah waktu mereka tetap berusaha optimis dan berdoa terkait keselamatan keduanya. Pencarian ini, mereka sangat harapkan mendapatkan hasil yang menggembirakan. Naas, di hari kelima itu, dengan berita yang disampaikan Reiner. Jasad Levi dan Eren tidak ditemukan, hanya barang-barangnya pribadi saja yang ditemukan utuh. Membuat mereka makin berduka mendalam. &#xA;&#xA;Zeke semakin bertambah parah, ia benar-benar tidak terima takdir yang dialami oleh Eren ini. Ia terus memaksa agar Eren setidaknya bisa ditemukan dan bisa dikebumikan dengan layak jika memang ia sudah tiada. &#xA;&#xA;Keluarga yang berduka bukan Eren saja, dari pihak Levi. Farlan yang menjadi sahabat dekatnya semenjak sekolah itu langsung turut menuju Gunung Koral setelah mendapat berita tak mengenakkan itu. Ia bergegas ke sana mencari kejelasan. Ia juga tidak turut menyangka Levi yang menjadi korban dalam pendakian ini. Kenny serta Zackley pengacara keluarga Ackerman turut datang mencari informasi. &#xA;&#xA;Kebingungan mendalam, duka mendalam dirasakan anggota keluarga mereka. Tidak menyangka sama sekali niat mulia menghasilkan kejadian yang sangat tak mengenakkan. &#xA;&#xA;Akan tetapi, di sebuah ruangan, terasa perbedaan yang sangat drastis. Ada orang yang berduka atas gagalnya proyek pencarian bunga reksa itu. &#xA;&#xA;&#34;Bagaimana kabarnya terkait pencarian bunga reksa itu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gagal Pak, katanya ada dua orang yang menghilang akibat proyek ini. Namanya Eren Jaeger dan Levi Ackerman. Menurut anggota timnya sebenarnya mereka sudah berhasil mengambil bunga itu dan dibawa oleh Eren. Tetapi Eren menghilang berserta dengan Levi. SAR yang menemukan barang-barang mereka, ada botol kaca dengan agar bernutrient. Masih tertutup rapat, tetapi bunga reksa menghilang tanpa jejak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jasad keduanya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tidak ditemukan, Pak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngomong-ngomong tentang Eren Jaeger? Apakah ada hubungannya dengan Zeke?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eren adalah adik Zeke Jaeger, Pak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Begitu. Jadi, meskipun dengan alibi niat jahat yang tertutup niat baik, penghuni sana masih bisa merasakan ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sepertinya begitu,&#34; balas ajudan itu dengan singkat. &#xA;&#xA;&#34;Jaga rahasia ini. Saya belum mau melepaskan reksa, saya harus dapatkan itu buat parfum saya. Kamu urus semuanya. Pastikan lebih rapi, entah itu dua atau empat tahun lagi.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Alibi bunga reksa yang langka masih bisa digunakan, tentang pendaki tersesat bisa diperbarui jangan itu lagi. Buat alasan yang lebih baik lagi nantinya juga tim yang anggotanya lebih banyak bisa juga dilakukan.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Baik, Pak Magath akan saya rencanakan.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Terkait jasad keduanya tidak ada, keluarga masih mau melangsungkan upacara?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Informasi yang saya dapat seperti itu, Pak. Tulat, akan  dilaksanakan upacara itu di masing-masing di rumah duka milik keluarga Jaeger dan Ackerman.&#34; &#xA;&#xA;Magath pun menyuruh orang itu pergi. &#xA;&#xA;Ia mengeluarkan ponselnya, kemudian menelepon seseorang yang telah menjadi rekan kerjanya selama ini. &#xA;&#xA;&#34;Zeke, saya ikut berbelasungkawa atas apa yang sedang dialami oleh kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Terima kasih Pak Magath, atas ucapan belasungkawa terhadap keluarga Jaeger. Sebelumnya mohon maaf, saya Galliard mewakili Zeke untuk menyampaikan hal ini karena Zeke masih sangat terpukul atas kepergian Eren.&#34; &#xA;&#xA;Di pelosok suatu tempat yang tertutup semak belukar di Gunung Koral, tampak sejoli yang sedang duduk berdampingan sambil mengamati bunga reksa yang sedang mekar. Seorang dari mereka kemudian berdiri, berjalan di antara tanaman reksa yang berjajar. Sangat terbiasa melakukan hal itu. Jarinya yang berhasil menyentuh kelopak bunga yang masih tertutup, seketika membuat kelopak bunga &#xA;itu terbuka; mekar dengan indahnya. &#xA;&#xA;Tak terasa matahari yang mulai meredup turun tergantikan oleh Rembulan gagah mentereng, membuat seorang wanita cantik berbaju putih ungu menghitung mundur seraya berkata. &#xA;&#xA;&#34;Kurang satu hari lagi, dan kalian berdua akan bebas. Terima kasih, telah menjaga reksa sekaligus menjadi penebusan dosa kalian berdua yang ingin mengambil reksa dari gunung ini. Kalian orang tulus dan niat kalian sebenarnya memang mulia. Ini bukan ulah kalian yang jahat. Terima kasih Eren, terima kasih Levi.&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;&amp;&amp;&amp;&#xA;JOURNEY End.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Terlebih untuk Levi seorang, rasanya makin menyesakkan memikirkan Eren yang saat ini hilang entah di mana. Igauan Pieck sangat amat ia berharap hanyalah igauan tanpa arti. Ia masih meyakini Erennya masih bertahan di luar sana.</em></p>

<p>                              ***</p>

<h3 id="babak-akhir-final-3-3-journey" id="babak-akhir-final-3-3-journey">Babak akhir (final) (3/3) — Journey</h3>

<p>—-<em>Babak ini bakal panjang banget dan agak berat. Dikit-dikit aja bacanya. Enjoy reading. Tq</em>—-</p>

<p><em>Disclaimer (TW dan CW akan disesuaikan per bagian adegan)</em></p>

<p>Pagi yang telah dinanti akhirnya datang kembali, cahaya menjadi penyegar bagi para manusia terisolir yang sedang ada di Gunung Koral setelah menghadapi berbagai permasalahan aneh dan tak masuk akal di malam tadi. Cahaya Mentari yang datang setidaknya bisa menjadi tali penarik semangat dan penambah kekuatan mental yang telah loyo beberapa hari terakhir. Kecuali Pieck yang sempat tak sadarkan diri dan Eren yang hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Semua orang merasa cukup lelah karena tak banyak beristirahat. Pieck yang meski semalam sakit, pagi ini terlihat sangat bugar, dan sepertinya ia tidak merasakan sesuatu hal yang janggal. Perempuan itu sangat amat berperilaku seperti biasa saja. Semuanya pun memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat tentang ini, tanpa sedikit pun berniat untuk memberitahu Pieck.</p>



<p>Tenda telah dibongkar semuanya, mereka berencana untuk secepatnya mencari Eren hingga batas waktu siang nanti. Kemungkinan terburuknya, jika Eren belum ditemukan maka mereka akan terpaksa turun ke bawah menuju <em>basecamp</em> untuk mencari pertolongan SAR yang lebih kompeten. Semua sudah bersiap dan berkumpul saling dekat satu sama lain. Sebelum memulai perjalanannya, Levi sebagai ketua menyampaikan hal yang sangat penting agar bisa dipahami oleh rekan-rekannya.</p>

<p>“Ada yang saya mau bicarakan kepada kalian semua.” Levi mengembuskan napasnya lalu berkata, “jika nanti Eren belum juga ditemukan, ditambah kemungkinan terburuk ada yang tersesat lagi, siapa pun itu, kalian yang tersisa harus secepatnya ke bawah cari pertolongan. Batasnya tetap siang nanti, usahakan saya minta minimal kalian berdua-dua. Perasaan saya benar-benar tidak enak, jadi mohon kalian kooperatif sehingga kita bisa selamat.” Semuanya kemudian mengangguk, paham betul apa yang dimaksud Levi.</p>

<p>“Untuk carrier milik Eren bagaimana, Pak?” tanya Reiner. “Dibawa saja mending, kalau pun ditinggal…” Floch yang bersuara dan menggantungkan ucapannya begitu saja. Levi pun akhirnya memutuskan. “Bawa saja, saya yang bawa itu.” Levi kemudian membawa <em>carrier</em> Eren dengan menumpuknya di atas tas <em>carrier</em>nya sendiri. Dia tidak merasa keberatan sama sekali, karena <em>carrier</em> milik Eren itu termasuk ringan dibawa akibat logistik di dalamnya pun tidak penuh dan sebagian telah dibawa oleh Eren di <em>backpack</em>nya.</p>

<p>Dengan keputusan tersebut akhirnya mereka mulai bergerak, kembali lagi menuju ke patokan batu besar itu. Berjalan ke arah barat laut sambil memperhatikan tanda pita <em>pink</em> yang sebelumnya tim satu telah lingkarkan ke batang-batang pohon. Terus bergerak sambil memanggil nama Eren dan sesekali Reiner yang membunyikan peluit bersandi morse. Pencarian semakin dalam dan rumput tinggi yang ditemui terus menyulitkan pencarian mereka. Reiner tiba-tiba saja berpikiran kalau mungkin Eren ada di wilayah bunga reksa itu ditemukan, atau pun tersesat tak jauh dari tempat mereka menemukan bunga reksa. Tanpa bersuara dan menyatakan pendapatnya ke anggota lain, sebagai navigator dengan sengaja ia menuntun timnya ke wilayah itu. Berbekal pita <em>pink</em> yang terpasang, dan daya ingatnya yang masih dibilang kuat tentang <em>track</em> kemarin, ia terus berjalan.</p>

<p>Jalanan yang dilewatinya beberapa kali bagi Reiner sudah terasa tidak asing lagi. Berkali-kali ia menjumpai bunga berwarna kuning persis dengan letak dan pemandangan yang serupa. <em>De javu</em>, berkali-kali. Perasaan bimbang tak mengenakan kembali dirasakannya. Walaupun begitu Reiner terus berjalan mencoba mengalihkan pikirannya agar bisa sejernih-jernihnya, hingga ia kembali lagi menemukan bunga kuning yang sama itu, ia memutuskan untuk berhenti.</p>

<p>“Kenapa Reiner?” tanya Levi yang persis berada di belakang Reiner dengan rekan yang lain turut memandanginya bingung. Keringat mengalir dari dahi Reiner, ia berasumsi Levi dan yang lainnya tidak merasakan hal yang ganjil ini. Hanya dirinya, seorang diri. Sudah sedari tadi mereka berputar-putar di wilayah yang sama. Ia pun beralibi untuk menyembunyikan rasa takutnya yang semakin menjadi, “Kalau boleh saya mau tukar tempat, Floch navigator saja.” Kali ini Floch yang memandang Reiner penuh selidik, dia mengetahui ada yang disembunyikan olehnya. Namun, Floch menyetujui permintaan Reiner tanpa bertanya lebih jauh. Dengan begitu, urutan berjalan mereka saat ini adalah Floch, Levi, Pieck, Historia, Porco, Berthold, Reiner.</p>

<p>Floch berjalan memimpin, ia bulatkan tekad untuk siap menjadi pembuka jalan bagi rekan-rekannya.  Mereka terus berjalan dan Floch seketika merasa mereka terlalu keluar jalur dari jalur yang ditandai pita <em>pink</em> di batang pohonnya. Ia pun berhenti dan meminta untuk memutar balik. Hal yang serupa seperti Reiner ternyata dirasakan juga oleh Floch, setelah beberapa lama berjalan dengan lebih waspada terhadap sekitar. Ia merasa telah berputar-putar di tempat yang sama. Selanjutnya, Floch berhenti mendadak dan menatap Reiner, seakan berkontak batin. Reiner yang dipandangi pun mengangguk kecil. Dengan begitu, mereka mengetahui kalau ini bukan gangguan untuk pribadi. Namun, sepertinya gangguan untuk mereka semuanya agar tersesat dan sulit menemukan Eren.</p>

<p>Floch akhirnya beralibi kepada Levi untuk sejenak beristirahat. Levi kemudian menyetujui karena tidak terasa mereka telah berjalan sekitar satu jam. Tanpa jeda, Floch langsung menarik Reiner untuk berdiskusi secara diam-diam.</p>

<p>“Ner, lo ngeh pasti kan. Berarti dari awal itu lo udah ngerasa?” tanya Floch.</p>

<p>“Hooh, lo pas pertama itu emang enggak?” tanya Reiner balik.</p>

<p>“Gak, sumpah. Pas pertama sebelum lo minta tuker peran, gue ngerasa ngga disesatin. Baru pas gue di depan, ngerasa dah kok kaya diputer-puterin terus.” Floch berkata dengan panik.</p>

<p>“<em>Btw</em> gue juga pas pindah ada di belakang ngga ngerasa disesatin, sumpah, cuma pas di depan doang. Maksud ga lo, jadi pas gue pindah,  kaya kita jalan aja gitu, ngga muter-muter. Makanya antara kaget ga kaget waktu lo natap begitu. Langsung <em>feeling</em> guenya.”</p>

<p>Floch kemudian berpikir sejenak. “Terus gimana? Bakal ribet ini, tapi kok bisa pov mandang jalan bisa beda banget gitu, gue bingung anjrit.”</p>

<p>“Hush.” Reiner seketika memberhentikan Floch yang hampir hilang kendali.</p>

<p>“<em>Sorry</em>, gue keceplosan,” ucapnya sambil menggosok rambutnya frustrasi.</p>

<p>“Ya udah, mau gimana lagi. Kita ikutin dulu aja, batas jam 8 an. Kalau ada yang aneh lagi lo ngomong ke gue.” Pinta Reiner yang kemudian disetujui oleh Floch.</p>

<p>Mereka kemudian lebih terlihat santai dan mengalihkan pikirannya dengan menyantap beberapa camilan. Keduanya tak sadar, percakapan mereka yang diam-diam itu sedari tadi diperhatikan oleh Levi yang menatap mereka penuh curiga. Namun, Levi tidak mau menanyakan mereka sedang berdiskusi terkait hal apa, ia hanya diam. Sementara ini ia hanya menganggap dan menyimpannya hal itu seperti angin lalu saja.</p>

<p>Mereka akhirnya kembali lagi berjalan, kali ini langkah mereka terasa sangat berbeda. Sangat sengaja Floch terlihat ingin membuat tempo berjalan mereka cukup lambat. Levi dan semuanya masih terus memanggil Eren, tetapi nihil sampai saat ini. Pita berwarna merah muda itu pun, sudah tak bisa lagi digunakan untuk mencari petunjuk. Di mata Levi saat mereka berjalan, daerah dengan pita <em>pink</em> terasa sudah dijelajahi semuanya.</p>

<p>Tak lama kemudian, suatu rasa dirasakan olehnya sedikit berbeda. Bulu kuduknya, sedikit berdiri, entah kenapa. Sedetik kemudian, tiba-tiba ia mencium suatu bau yang sangat khas dibarengi dengan kabut tebal yang ikut tampak lalu menghilang dalam sekejap. Ia sempat gugup mengalami keanehan tersebut, tetapi sirna langsung setelah disuguhi bau nikmat memikat.</p>

<p>Bau itu sangat wangi. Wangi yang belum pernah ia cium sebelumnya. Suguhan wangi seperti campuran bunga melati dan mawar putih serta vanila yang amat kuat, dan terdapat satu wangi misterius, yang ia tidak bisa tebak berasal dari tumbuhan apa. Wangi campuran itu sangat enak dan baginya sangat memabukkan. Sejenak, pikirannya kacau, ia ingin bergerak mencari sumber wangi itu. Tak terelakkan susah dikendalikan sesaat, karena wangi itu seakan memanggilnya untuk mendekat.</p>

<p>Levi sempat terlena hampir saja, tetapi ia mencoba untuk mengembalikan kewarasannya dengan susah payah.</p>

<p>Kewarasannya akhirnya bisa ia dapatkan lagi setelah berusaha kembali fokus.</p>

<p>Kemudian ia berniat untuk segera menjauh firasatnya berkata kalau ini bakal menjadi sumber petaka, Levi mencoba untuk memperhatikan jalan di depannya. Syukur, tenang sejenak ketika masih terlihat Floch sedang berjalan di depan sana sambil terus memanggil nama Eren.</p>

<p>Levi kemudian kembali bergerak, mencoba terus mengenyahkan pikirannya atas wangi itu. Ia masih tetap mengikuti Floch. Akan tetapi, perasaannya dan indra olfaktorinya tetap tak bisa dibohongi. Makin merinding diikuti bau wangi itu entah kenapa makin terasa kuat di hidungnya. Levi terus berjalan, hingga kemudian sosok Floch tiba-tiba menghilang begitu saja di balik ilalang.</p>

<p>Kaget setengah mati, ditambah sesaat kemudian angin berhembus cepat menimbulkan hawa dingin di kulit. Suatu bebunyian yang terdengar seperti burung melengking bersuara hebat. Tiga puluh lima tahun hidupnya, bisa dibilang situasi ini yang membuatnya takut akan ketidakpastian. Seorang Levi Ackerman berhasil dibuat ciut oleh kondisi ini.</p>

<p>Mencoba kembali tenang, segala rapalan dilantunkan untuk tetap bergeming menetralkan dahulu sedikit rasa takut yang ada. Komat-kamit di hati, mencoba untuk terus waras dan tidak panik. Kejadian ganjil seakan silih berganti mengenai rekan timnya. Sekarang ini pasti gilirannya, pikirannya tetap harus fokus, dia harus segera mungkin menyusul rekan timnya. Tujuannya sekarang mencari Eren yang tersesat, tidak bisa juga ia biarkan dirinya ikut tersesat. Pikiran bertujuan menemukan Eren, seakan menjadi penguatnya.</p>

<p>Dengan tekad bulat dan yakin. Levi kemudian mulai bergerak. Beberapa ranting pohon dan batu-batuan terjal yang menghalanginya bisa ia lalui tanpa kesulitan berarti. Ia hanya berjalan sembari memegang kompas dan percaya intuisi. Setitik di hati Levi, ia sudah pasrah terhadap apa yang akan dialaminya nanti.</p>

<p>Saat masih terus berjalan, tanpa diduga, di depan sana, terlihat seseorang sedang duduk memeluk lututnya, dengan duduk di bawah bivak seadanya yang diapit oleh dua pohon lumayan besar. Terlihat sebuah <em>backpack</em> yang sangat ia kenal di dekat orang itu. Tubuhnya kaku sejenak, dengan sorot matanya yang memindai orang itu secara detail.</p>

<p>Detak jantung Levi berdentum cepat. Matanya seakan tak percaya dengan hal yang ada di hadapannya saat ini. Meneguk ludah dengan rasa gemetar tak karuan. Levi kemudian memberanikan diri sedikit melangkah.</p>

<p>Dengan masih berhati-hati, ia melangkah mendekati sosok itu. Terhenti, ketika lelaki itu tiba-tiba menengadahkan kepalanya. Matanya bertatapan dengan Levi lamat-lamat. Levi mengamati orang itu yang sedang menatapnya tak percaya, selanjutnya menangis tanpa suara. Tersirat rasa lega dari raut wajahnya. Tanpa jeda, Levi bergerak langsung, berlari kemudian memeluk lelaki itu dengan eratnya.</p>

<p>Eren, Levi berhasil bertemu kembali dengan Eren. Ia dipertemukan kembali dengan Eren.</p>

<p>“Levi, Levi,” ucap Eren tak berhenti sambil terus menangis. Levi makin memeluk Eren, mengusap pelan punggungnya yang bergetar itu.</p>

<p>“Benar ini Eren kan? Syukurlah, syukurlah.” Levi lega luar biasa, ia terus memeluk erat Eren dan Eren yang membalas dengan sama eratnya. Keduanya mencurahkan rasa lega akibat telah bertemu lagi, sedikit kehangatan di antara sepi  dan cekam yang mendominasi berhasil tercipta oleh interaksi keduanya.</p>

<p>“Kamu tidak apa-apa?” tanya Levi sambil memindai semua tubuhnya dengan tergesa. Pandangannya telak hanya menatap wajah kumal itu yang ditopang lembut di telapak tangannya. Yang ditanya hanya menggeleng, sambil masih terus menangis.</p>

<p>***</p>

<p>.
.
.</p>

<p><em>Beberapa saat sebelumnya</em></p>

<p><em>cw // local mythical creature , horror</em></p>

<p>Eren telah pasrah, kakinya yang sakit akibat semalaman tadi berjalan tak tentu arah. Sangat ingin kembali lagi dengan rekan-rekannya. Ia benci tersesat lagi, ditambah di malam hari di tengah hutan seorang diri. Kabut telah turun dengan tebalnya. Membuat jarak pandangnya semakin sempit. Bivak ala kadarnya yang berhasil ia buat dari jas hujan yang dibawa di dalam <em>backpack</em>nya, tak bisa melindungi diri dari rasa takut.</p>

<p>Semalaman, ia hanya duduk terdiam di alam terbuka, di tengah hutan belantara, hanya bergantung sedikit dari <em>head lamp</em> yang diatur ke cahaya paling redup untuk penerangan di sekelilingnya. Sinar rembulan yang dilihatnya tak membantu, malah semakin menimbulkan kengerian di tengah kabut tebal yang menyelimuti. Eren dilingkupi perasaan takut setengah mati. Dingin menusuk mulai dirasakan ketika sudah memasuki waktu malam hari. Suara hewan malam yang turut berbunyi makin membuat dirinya takut. Bahaya makhluk buas, yang nyata mau pun tidak juga menjadi momok untuknya. Memeluk lutut, berharap tak melihat apa pun. Tak melihat sesuatu yang ia ingin tidak lihat. Tak mendengar apa pun. Tidak ingin mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar.</p>

<p>Sekelebatan memori yang tiba-tiba masuk ke pikirannya sebelum kedatangannya di sini membuat dirinya rindu. Eren rindu akan abangnya, ia juga rindu pada sahabat-sahabatnya. Ia rindu pula terhadap Levi. Berharap penuh, Levi akan mencarinya, tetapi sampai saat ini, ia tidak bertemu dengannya. Eren putus asa, rasa dingin, lelah, perih baik fisik dan psikisnya mengimpitnya tak nyaman sampai rasanya sangat sesak.</p>

<p>Di tengah ketidakpastian ini, ia kemudian menangis hebat tanpa suara, dadanya yang sesak karena putus asa menjadi alasan masuk akal dirinya menangis segila ini. Kedatangannya ke sini bahkan tiada niat jahat bukan? Ia hanya mencari bunga reksa untuk nantinya bisa dilestarikan, bukankah itu niat yang baik. Ia hanya diamanahi tugas itu dan ia menjalankannya sepenuh hati. Kenapa hasilnya menjadi tidak baik seperti ini, yaitu dipenuhi rasa janggal yang menyusahkan seakan ia dan teman-temannya tergolong makhluk-makhluk hina, tak tahu diuntung.</p>

<p>Sejenak rasa tangisnya sekaligus frustrasi bisa menjadikannya benar-benar abai terhadap area sekitar.</p>

<p>Ia abai terhadap pemandangan di depannya yang tiba-tiba berubah, kabut tebal menghilang tanpa sisa berganti dengan pemandangan pekarangan bunga reksa yang tiba-tiba muncul mengelilinginya.</p>

<p>Ia abai dengan kejadian mekarnya semua bunga itu secara serentak sesaat kemudian. Ia juga abai dengan segala wangi memabukkan yang dikeluarkannya saat mereka semua mekar dengan indahnya.</p>

<p>Ia turut abai dengan bunga reksa yang mulai tumbuh di dalam botol kaca miliknya yang sengaja sebelumnya sudah ia biakkan.</p>

<p>Ia juga abai dengan wanita cantik bergaun putih ungu yang memandangnya dalam, tak jauh dari tempatnya duduk.</p>

<p>Lelah menangis, Eren pun berhasil tertidur pulas.</p>

<p>.
.
.</p>

<p>***</p>

<p>Pertemuannya dengan Levi membuatnya sangat senang dan bersyukur. Tak menyangka sesaat dirinya bangun dari tidur, membuka mata pertama kali dan yang dilihatnya ialah Levi seorang. Tak mampu berucap, ia hanya bisa menangis dan memeluk Levi dengan erat. Beberapa menit telah berlalu dan mereka masih terus memeluk satu sama lain.</p>

<p>Eren kemudian menghentikan tangisnya, ia menyentuh tangan Levi dan meremasnya.</p>

<p>“A-aku... maksud sa-saya,” ucapnya dengan terbata.</p>

<p>“Bicaralah senyamanmu Eren saat bersamaku, tidak apa-apa.” Levi tersenyum mencoba menenangkan Eren yang masih terlihat ketakutan.</p>

<p>“Aku, aku takut sendiri, aku mau pulang, Levi. Mau pulang.” Perkataan Eren ini membuat hatinya mencelis. Entah apa saja yang telah dialami Eren seorang diri di tengah hutan ini semalam yang bisa menjadikan dirinya terlihat trauma dan putus asa.</p>

<p>“Kita akan pulang, kita bisa pulang sama-sama ya,” ucap Levi kembali menenangkan Eren. Ia kemudian mengusap punggung tangan Eren secara lembut.</p>

<p>“Kamu sudah makan?” tanyanya. Eren hanya menggeleng. Levi kemudian menurunkan tas <em>carrier</em> milik Eren membuat pemiliknya menatap Levi dan kemudian segera memeluk tas itu.</p>

<p>“Punyaku,” ucap Eren. Levi hanya mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan makanan yang ada di tas <em>carrier</em>nya. Ia mengambil satu bar protein kaya kalori dan gizi kemudian menyodorkannya pada Eren. Eren kemudian mengambil itu dan segera memakannya. Levi dengan telaten kemudian memberikan air mineral kepada Eren yang langsung diteguknya cepat.</p>

<p>“Pelan-pelan,” ucapnya memperingati. Eren pun kemudian menurutinya. Memandang Eren yang sedang makan membuat dirinya ikut lapar dan ia kemudian makan bersama-sama dengannya.</p>

<p>“Kamu benar tidak apa-apa?” tanyanya.</p>

<p>“Nggak apa-apa,” jawabnya.</p>

<p>“Bisa berjalan?” tanya Levi lagi.</p>

<p>“Bisa,” balas Eren singkat. “Pak Levi, setidaknya kita bisa keluar dari sini lebih dulu, di sini terlalu rapat. Mungkin kita bisa ke daerah yang lebih lapang.” Eren menatap penuh harap agar Levi menurutinya.</p>

<p>“Mulai sekarang dan seterusnya aku mohon Eren hapus embel-embel pak dari nama Levi. Panggil Levi saja, hanya Levi.” Pintanya sangat yang ternyata diangguki oleh Eren. Levi kemudian tersenyum dan mengangguk.</p>

<p>Sekarang mereka berdua akan berusaha untuk mencari jalan pendakian yang benar, berusaha terbebas dari kondisi tersesat ini.</p>
<ul><li></li></ul>

<p>Beberapa lama waktu telah berlalu dengan Levi yang sangat memperhatikan Eren kali ini, ia bertekad untuk menjaganya agar Eren tidak tersesat lagi. Dengan berbekal kompas dan peta yang dibawa, ia mencoba mencari jalan keluar dari kondisi ini berdua.</p>

<p>Hal aman luar biasa dirasakan oleh Eren. Kejadian semalam, saat dirinya tersesat cukup berpengaruh padanya, tetapi keberadaan Levi setidaknya bisa membuatnya tidak terlalu takut dan ada seseorang yang bisa ia andalkan. Sosok Levi ia amati lamat-lamat secara diam-diam kali ini dan rasa penasaran Eren semakin membuncah. Dalam hal ini memang benar. Seorang yang tulus bisa berbuat apa saja, dan itu jelas bisa Eren rasakan dari Levi. Ia hanya ingin tahu alasan sebenarnya tentang kejadian di pantai itu.</p>

<p>Mereka kemudian kembali fokus mengambil jalan yang akan dilalui. Keduanya telah berjalan cukup jauh menyusuri hutan yang terkesan sama sekali belum terjamah manusia lain. Tidak ada setapak, rumput liar yang tebal dan tinggi, lumut yang ada di mana-mana membuat jalanan licin.</p>

<p>Tiba di sebuah tempat yang sedikit datar dan lapang, Levi memutuskan untuk kembali beristirahat. Menilik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 10. Ia kemudian duduk dengan Eren yang ada di sampingnya. Eren memperhatikan Levi dengan seksama, yang membuat Levi merasakan itu.</p>

<p>“Levi, ada yang buat aku penasaran.”</p>

<p>“Tentang?” balasnya.</p>

<p>“Kamu memang peduli, atau hanya berpura-pura?” Pertanyaan aneh Eren yang membuat Levi kaget hingga alisnya berkerut dalam.</p>

<p>“Maksud kamu? Kamu lihat aku yang seperti ini hanya sebagai akting? Buat apa untungnya?” tanyanya.</p>

<p>“Kalau tidak salah, buat kamu dapetin harta waris dari almarhum ibu kamu.” Pernyataan Eren telak membuat Levi tergugu, tak mengira  alasan yang pernah ditebaknya tentang Eren yang menjauhinya dahulu, setelah pulang dari pantai itu, ternyata benar.</p>

<p>Levi terlihat sejenak mengembuskan napasnya dan tersenyum kecil. Tak menyangka harus meluruskan semua pada Eren di situasi seperti ini. Namun, Levi tidak terlihat ragu.</p>

<p>“Mau dengar ceritaku Eren? Cerita tentang Levi Ackerman sepenuhnya?” tawaran Levi menjadi pintu jawaban dari hal yang Eren ingin ketahui selama ini.</p>

<p>“Tentu,” jawabnya.</p>

<p>***</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>*tw // domestic violence, mcd *</p>

<p>Levi Ackerman merupakan anak semata wayang dari Kuchel Ackerman dan suaminya. Ia bisa dibilang anak yang tidak diinginkan oleh ayahnya. Akan tetapi, ibunya sangat menerima keberadaannya sejak pertama kali diketahui dirinya hamil dan hingga Kuchel membesarkan Levi seorang diri. Entah apa yang merasuki suaminya itu, tetapi tampaknya ia sangat menolak keberadaan Levi. Padahal saat mereka menikah dan berumah tangga sebelumnya, suaminya sangat mencintai dan mengasihi Kuchel. Namun, setelah Levi lahir, ia bahkan tega mengusir Kuchel tak lama setelah ia berhasil melahirkan buah hatinya itu.</p>

<p>Luntang-lantung tak tentu arah hingga akhirnya kakaknya-Kenny Ackerman yang mengetahui kejadian itu langsung mencarinya dan mengajak Kuchel berserta Levi untuk tinggal bersamanya lagi. Mereka berdua pun hidup bersama dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan untuk bayi yang baru lahir.</p>

<p>Kondisi ekonomi mereka bisa dibilang kurang baik. Kenny yang sampai detik ini masih membujang, hanya bekerja sebagai kuli serabutan. Sementara itu, Kuchel yang hanya bisa bekerja jadi buruh cuci dan ART di rumah-rumah orang dibayar harian.</p>

<p>Levi yang semakin besar butuh biaya lebih terutama untuk bersekolah. Untungnya Levi dianugerahi kepintaran yang luar biasa, ia pun tergolong rajin belajar. Semenjak sekolah dasar ia selalu jadi juara kelas, menang banyak lomba yang membuatnya bisa lanjut sekolah menengah karena beasiswa.</p>

<p>Hal itu terus berlangsung hingga ia masuk ke bangku perkuliahan. Ia semakin aktif berprestasi banyak menjuarai kompetisi dan berhasil mengumpulkan banyak uang dari beasiswa dan lomba yang diikutinya itu, hal itu dilakukannya untuk meringankan beban finansial ibu dan pamannya.</p>

<p>Sampai di titik tabungannya yang semakin banyak memasuki tahun ke dua kuliah serta kecintaannya pada minuman teh. Ibunya berinisiatif untuk membuat kafe kecil bertema teh di wilayah dekat alam terbuka. Usaha mereka tak sia-sia, walau harus bersusah payah sebelumnya hampir bangkrut, tetapi Kuchel dapat membuat kafe itu sangat laris hingga menjadi suatu kafe yang eksklusif. Nama kafe itu adalah “le lavie”.</p>

<p>Di saat kesuksesan keluarga Ackerman itu, ayahnya yang tak tahu batang hidungnya kemudian datang meminta rujuk dengan Kuchel. Entah diguna-guna apa hingga Levi pun heran mengetahui ibunya mau menuruti permintaan itu. Levi tentu mengetahui tabiat ayahnya dari Kenny. Kenny membuka fakta pahit yang harus bisa Levi telan terkait dengan keberadaannya di dunia ini. Fakta itu hanya bisa didapatkan dari Kenny, karena Kuchel yang sangat apik menyembunyikan keburukan ayahnya itu dari Levi.</p>

<p>Levi dan Kuchel akhirnya ikut diboyong ke rumah si ayah. Sementara itu, kafe tersebut dibantu dipegang oleh Kenny seluruhnya. Saat keberadaannya di rumah ayahnya. Levi yang masih kuliah di tahun terakhir sangat terbebani. Sering kali ayahnya seperti kesetanan dan memukul Kuchel serta Levi tanpa ampun. Sangat temperamental hingga membuat keduanya babak belur dijadikan samsak oleh ayahnya itu. Hal ini pula yang membuat Levi mengubah hidup sampai berlatih dengan giat agar bisa bela diri.</p>

<p>Levi telah mencoba menasihati ibunya untuk bercerai dari ayahnya. Namun, ia terus menolak.</p>

<p>Levi menjadi sangat muak, semenjak hal tersebut, ia semakin skeptis dengan namanya cinta, kehidupan rumah tangga, dan keseluruhannya. Dari lahir ia tak peduli rasa itu dan mencoba memendam diri agar tidak sampai merasakan hal yang demikian. Baginya itu hal yang menyusahkan saja.</p>

<p>Hingga di waktu dia merantau jauh dari tempat tinggalnya yang bak neraka. Sewaktu itu ia telah bekerja di laboratorium Paradis yang terfokus pada perbanyakkan tanaman, dengan dirinya yang menjabat sebagai kepala salah satu sub laboratorium, ada sekelompok mahasiswa magang yang bekerja di tempatnya.</p>

<p>Bak telat pubertas, di hatinya ini bukan sesosok perempuan, tetapi sesosok lelaki bermata hijau dari kumpulan anak magang itu yang entah kenapa berhasil menarik perhatiannya hanya dalam jangka waktu beberapa hari saja. Namun, ia terus menampik, baginya itu hanya ketertarikan semata yang juga sayangnya ia akui sedikit  menimbulkan kesan spesial di hati Levi.</p>

<p>Hingga sekitar satu setengah tahun setelahnya, ia kembali bertemu dengan lelaki bermata hijau itu lagi. Bersama teman-temannya yang lain, yang semula sekadar magang, sekarang menjadi laboran tetap di tempatnya bekerja. Dengan diam-diam ia memerhatikan lelaki itu, tanpa diketahui seorang pun di sana.</p>

<p>Tampaknya, rasa itu makin terpupuk tiap hari hingga ia tak sadar membawa ke rumah sesekali saat ia pulang mengunjungi ibunya. Wajahnya yang <em>sumringah</em> sedikit dengan raut cukup hangat berhasil terdeteksi oleh Kuchel. Digoda berkali-kali. Namun, Levi sayangnya terus membantah hal tersebut.</p>

<p>Hari terus berganti dan Levi merasakan ketertarikannya menjadi lebih lagi saat masih diam-diam melihat orang itu tertawa di kantin saat waktu istirahat bersama teman-temannya atau saat ia melakukan sesuatu. Sedikit demi sedikit ia merasa tak ada salahnya merasakan hal ini. Akan tetapi, sebelum tepat memutuskan mengubah pandangannya terkait hal romantis semacam itu. Ibunya kritis akibat ulah ayahnya lagi.</p>

<p>Kelakuan ayahnya makin parah hingga Kuchel harus dirawat di rumah sakit.</p>

<p>Di hampir ajalnya itu, sehari sebelumnya, ketika keadaannya membaik. Kuchel merasa bersalah dan menyampaikan semua hal pada Levi. Satu nasihat yang pasti, Kuchel tahu Levi sedang jatuh hati tapi ia trauma karena kelakuan ayahnya itu. Kuchel ingin Levi berbahagia hidup dengan orang yang disukainya tanpa beban. Tak peduli siapa orangnya, karena sayangnya ia belum bertemu dengan kesempatan itu. Namun, Kuchel dengan senang hati akan menerima anggota keluarga barunya. Ia juga ingin mengubah Levi yang sempat ia “rusak” sebelumnya.</p>

<p>Dengan terpaksa Kuchel melakukan cara ini. Ia tahu karena Levi tidak peduli tentang uang. Namun yang pasti Levi tidak mau dan tidak rela terlebih kafe “la lavie” yang nantinya bisa jatuh ke tangan ayahnya kalau ia tidak mau menikah.</p>

<p>.
.
.
.</p>

<p>***</p>

<p>Eren mendengar cerita Levi keseluruhan dengan terpaku. Tak menyangka keingintahuannya seperti ini membuatnya mendapatkan fakta yang tak terduga.</p>

<p>“Maaf, aku...”</p>

<p>“Tidak perlu meminta maaf. Bukan salahmu.” Levi kemudian melanjutkan.</p>

<p>“Aku mengakui sudah menyukaimu saat kamu masih magang. Lima tahun yang lalu, benar? Sampai sekarang. Aku tak memaksa, jangan jadikan hal ini sebagai beban. Lagian ini bukan tanggung jawabmu. Setelah meluruskan hal ini, sumpah aku akan menerima apa pun jawabanmu. Jangan terlalu dipikirkan.” Levi meyakinkan Eren.</p>

<p>“Sesungguhnya pernah terlintas sedikit sifat picik. Aku bakal menikahi seseorang tak jelas hanya untuk mendapat sertifikat dan bisa mengambil semua harta waris ibuku. Namun, hatiku tidak rela. Tidak bisa seperti itu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berusaha mengejarmu dengan beberapa cara yang bisa membuat kita semakin dekat.”</p>

<p>Eren mengernyitkan alisnya. “Pergantian junior lab antara aku dan Armin...?” tanya Eren.</p>

<p>“Ya itu salah satunya. Walaupun tidak secara sengaja seperti itu. Memang terutama aku yang pusing memikirkan wasiat ibu yang berjangka waktu. Waktunya tinggal sedikit dan bahkan aku belum ambil langkah mendekatimu saat itu, hingga tak sadar membuat Armin tertekan saat bekerja. Ketika dia bilang mau bertukar denganmu. Otomatis aku setuju, karena itu suatu kebetulan yang hebat.”</p>

<p>Eren hanya terdiam mendengarkan. “Kafe la lavie? Milikmu?” tanyanya lagi.</p>

<p>“Ibuku tepatnya.”</p>

<p>“Kau mengajakku waktu itu, pertama kali hari saat aku dan Armin bertukar?” tanya Eren lagi.</p>

<p>“Ya, itu sengaja. Bukan apa-apa, rasanya ingin mengenalkanmu dengan kafe ibuku dan rasanya seperti ingin mengenalkanmu pada ibu. Namun aneh bukan jika aku tiba-tiba langsung membawamu ke makam ibuku. Di sana juga kamu sempat bertemu dengan pamanku, Eren. “</p>

<p>Eren hanya mengangguk dan tidak melanjutkan apa-apa setelahnya, seakan belum berkenan untuk menjawab pintaan Levi yang lalu itu. Ia terdiam. Levi pun paham, ia kemudian mengajak Eren untuk kembali berjalan lagi.</p>

<p>Keduanya sama-sama merasakan, tembok besar penghalang mereka sebelumnya, sepenuhnya mulai runtuh perlahan-lahan.</p>

<p>*
*
*
*
*
*</p>

<p>.
.
.</p>

<p>Pukul 12 siang dan mereka belum bertemu dengan rekan yang lain. Levi mengetahui hal ini, yang lain sudah terpaksa turun tidak lengkap untuk mencari pertolongan. Mau tidak mau, Levi dan Eren harus bertahan sampai Tim SAR menemukan mereka. Satu hal yang pasti yang harus dijaga adalah bekal minum mereka yang mulai menipis.</p>

<p>Kegiatan mendaki yang menguras tenaga menjadikan mereka cepat haus. Karena hilangnya air yang ada akibat dari respirasi untuk menyediakan tenaga bagi mereka agar terus bergerak. Hutan yang mereka susuri terasa sangat luas dan tidak ada habisnya. Rasa lelah sudah dirasakan keduanya. Ditambah lelah yang hari-hari sebelumnya juga mereka rasakan.</p>

<p>Suatu kebetulan lain ditemukan oleh mereka berdua. Suara gemercik air terdengar sayup-sayup, mereka pun berniat untuk menuju arah suara itu. Sampailah ke sebuah sungai yang cukup besar dengan aliran air yang lumayan deras. Mereka dengan cepat mengisi botol kosong dengan air sungai tersebut.</p>

<p>“Levi, kita ikuti aliran ini, bagaimana? Biasanya akan mengarah ke bawah ke rumah penduduk-penduduk. Dengan begitu mungkin kita menemukan jalan dan bakal bertemu dengan penduduk di kaki Gunung Koral ini.” Eren menyatakan idenya pada Levi.</p>

<p>Levi sekilas melirik Eren dan berdeham singkat. “Istirahat dulu sebentar di sini, ya?” tawarnya. Eren pun mengangguk. Mereka pun duduk di dekat sungai di atas batu besar.</p>

<p>Mereka sejenak bisa merasakan kedamaian. Suara air yang mengalir dengan warna hijau di sekitarnya yang sangat mendominasi. Suasana ini, membuat Levi teringat tujuan utama mereka ada di sini. “Oh iya, kata Reiner bunga reksa itu ada di kamu?”</p>

<p>Eren mengangguk. “Mau lihat?” tanyanya. Kali ini giliran Levi yang mengangguk. Dibukanya tas berisi botol-botol kaca itu. Eren mengeluarkan satu botol dengan hati-hati kemudian menyodorkannya pada Levi.</p>

<p>Levi mengambilnya dan mengamati dengan saksama. “Sudah tumbuh ini, berhasil. Mulai sedikit ada kalus.” Eren turut mengamati dan mengangguk antusias. Ia lalu mengambil botol kaca itu dan segera memasukkan ke dalam tasnya lagi. Ia ingin cepat-cepat turun dari gunung ini dan membawanya ke laboratorium untuk dilakukan tahap yang lebih lanjut.</p>

<p>Saat selesai berpikiran seperti itu. Terdengar suara auman macan tiba-tiba. Auman yang sangat keras hingga terdengar seperti satu populasi burung yang mengepakkan sayap serentak seakan ingin keluar dari sarangnya terbang menjauhi harimau itu. Membuat Eren dan Levi terdiam menahan napas seketika. Eren beringsut mendekat Levi dengan gemetar. Tak lama wujud harimau itu nyata adanya walaupun keberadaannya cukup jauh, mengamati, tetapi terasa harimau mulai bergerak cepat untuk menuju tempat mereka. Tampak harimau itu entah kenapa terasa marah. Tanpa jeda, Levi merasakan bahaya yang nyata langsung refleks berdiri menarik Eren untuk mengikutinya.</p>

<p>“Ayo Eren, lari!” Dengan rasa takut di sekujur tubuhnya ia mulai bisa menggerakkan badannya yang sebelumnya kaku. Eren kesulitan menyeimbangkan diri. Namun, dengan bergandengan tangan dengan Levi ia berhasil bergerak cepat. Eren lalu mencoba menyesuaikan langkah berlari menyamai kecepatan lari Levi.</p>

<p>Auman harimau itu terdengar makin dekat membuat Eren asal berlari tidak memerhatikan langkahnya. Tersandung batu, hingga membuatnya terpeleset dan mengakibatkan gandengannya dengan Levi terputus. Levi langsung balik arah mendekati Eren yang sedang terjatuh ke bawah mendekati jurang.</p>

<p>“Eren!” teriaknya.</p>

<p>Eren tak bisa mendengar atau merasa apa pun, tubuhnya terpelanting dan berputar tak bisa ia kendalikan sama sekali. Hingga tangannya mencoba keras menggapai sesuatu agar jatuhnya tidak semakin jauh ke bawah.</p>

<p>Berpegang pada batang pohon di tepi jurang, ia berhasil bertahan. Bergelantungan dengan tas besar yang masih dalam gendongannya. Nyawa Eren benar-benar berada di ujung tanduk. Auman harimau sebelumnya, sudah tidak terdengar lagi di telinganya.</p>

<p>***</p>

<p>.</p>

<p>Levi was-was setengah mati melihat Eren yang jatuh terpelanting ke bawah. Tanpa pikiran lurus, ia berusaha mendekati Eren menuju bawah. Persetan dengan harimau itu, kali ini, tidak mungkin ia biarkan jika Eren sampai jatuh ke jurang. Tidak boleh terjadi.</p>

<p>Tak terasa hari mulai sore, matahari yang awalnya bersinar di atas kepala mereka mulai mengarah ke arah barat. Levi segera mempercepat langkahnya menuju bawah. Sampai di ujung jurang, ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Eren.</p>

<p>Kali ini dirinya yang gemetar, tak mau berasumsi buruk Eren benar terjatuh ke jurang sana.</p>

<p>“Eren!” panggilnya beberapa kali. Hingga ia kemudian mendengar suara balasan dengan <em>volume</em> yang sangat lirih.</p>

<p>“Levi.”</p>

<p>“Eren, di mana?!” tanyanya lagi.</p>

<p>“Bawah, jurang, tebing sedikit, di bawah pohon ujung itu.” Suara Eren tidak jelas sama sekali, tetapi tampaknya Levi berhasil menemukan maksud Eren. Ia perlahan mendekati pohon besar itu. Melongok sedikit ke bawah dan terlihat cukup jauh dari atas Eren yang sedang duduk di tepian tebing yang lumayan sempit.</p>

<p>“Aku terjatuh, tadi bergelantungan di batang itu.”</p>

<p>Saat sedang berpikir untuk membantu Eren naik ke atas. Tak disangka auman harimau itu masih terdengar cukup jelas di telinganya. Tak salah lagi, harimau itu masih benar-benar mengikutinya.</p>

<p>“Levi, aku mendengar suara harimau lagi. Cepat! Cari tempat yang aman! Sementara aku aman di sini. Kau naik pohon atau apa terserah.” Suara Eren bergetar berteriak panik.</p>

<p>Saat akan melangkah berbalik mencoba menaiki pohon, ia sangat terkejut melihat harimau itu benar-benar ada di depan matanya. Berjarak sekitar lima meter dari dirinya. Tak ada pilihan, Levi tak sempat berpikir jernih, ia kemudian memutuskan untuk turun ke tebing tempat Eren berada. Setelahnya, terlihat harimau itu yang melongok ke bawah, tak berniat lagi mendekati mereka.</p>

<p>Sedikit lega, sayangnya rasa lega itu tak berlangsung lama.</p>

<p>Mereka berdua akhirnya benar-benar terisolir dari mana pun. Tali yang sempat mereka bawa, ternyata tidak terlalu panjang tidak sampai untuk dilingkarkan ke batang pohon itu. Harapan satu-satunya dua orang itu ialah tim penolong yang cepat menemukan mereka.</p>

<p>*
*
*
*
*</p>

<p>.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.</p>

<p>tw // major character death</p>

<p>Terhitung lima hari sudah mereka hanya diam di tebing sempit ini. Persediaan minum mereka sudah habis. Hujan anehnya tidak turun hingga lima hari lamanya. Ditambah dengan luka-luka yang mereka dapatkan saat berlari menjauhi harimau itu. Awalnya tidak terasa sakit, tetapi setelah harimau pergi, saat mereka mulai beristirahat baru dirasakan dengan jelas, banyak luka yang berdarah dan lecet di kaki mereka. Juga lebam yang tercetak apik di badan mereka.</p>

<p>Lima hari saat malamnya berlindung dari dingin menusuk menggunakan jaket tebal dan sarung tangan. Keduanya ada di momen paling tragis yang pernah dirasakannya. Lima hari berlalu sudah cukup menghabiskan semua sisa optimisme yang dipunya.</p>

<p>Harapan Tim SAR yang menemukan mereka belum juga datang. Keduanya sudah siap mati di Gunung Koral ini. Misi utama mereka terkait pencarian reksa sepenuhnya hilang terlupakan tertelan keputusasaan. Keduanya berbagi rasa ingin yang sama. Mereka ingin kembali pulang, pergi sejauh-jauhnya dari gunung ini.</p>

<p>Di tengah keputusasaan yang mendalam, Eren berkata dengan lirih ketika merasa dirinya tak kuat lagi. Tenaganya sudah diambang batas. Rasa menyerah terpupuk hingga batasnya. Panasnya matahari tidak mampu lagi menyemangati dirinya.</p>

<p>“Levi,” ucapnya. Ia kemudian dengan pelan menggunakan tenaga yang tersisa mendekat ke badan Levi yang juga sama sudah teramat lelah.</p>

<p>Fisiknya amat lelah. Lima hari terakhir mereka juga sebetulnya masih berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari tempat ini. Namun sayang tetap tidak berhasil.</p>

<p>Levi menengok, menatap wajah Eren dengan lembutnya. Eren kemudian memberanikan diri mengecup bibir ranum Levi cukup lama.</p>

<p>“Mungkin aku terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Levi Ackerman, aku juga cinta kamu. Aku terima permintaanmu untuk menjalin hubungan.”</p>

<p>“Kenapa baru sekarang, kok lama sekali?” kekehnya kecil. “Terima kasih Eren.”</p>

<p>Pelukan erat Levi hadiahkan pada Eren yang telah menerimanya.</p>

<p>Kemudian, kecupan di pucuk kepala adalah hal terakhir yang bisa ia beri kepada Eren.</p>

<p>Dalam hal ini, kecupan di pucuk kepalanya ialah juga hal terakhir yang Eren terima dari Levi.</p>

<p>Mereka pun tertidur pulas bersama-sama.</p>

<p>*
*</p>

<p>.
.
.</p>

<p>Reiner berteriak sesaat matanya dengan jelas menangkap tas <em>carrier</em> yang familiar. Itu milik Eren dan Levi. Tas itu berada di tepi jurang yang amat curam cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Beberapa anggota Tim SAR kemudian berjalan ke arahnya. Mereka kemudian dengan hati-hati menuruni tebing sempit itu. Beberapa orang telah sampai di tepian kecil tembok tebing. Reiner bersama dengan Floch yang turut ikut sangat berharap Levi dan Eren masih hidup. Jantung mereka berdentum cepat ketika mulai menuruni tepian tebing.</p>

<p><em>Carrier</em> milik Eren dan Levi ditemukan tergeletak dengan banyak bungkus bahan makanan yang berserakan serta dengan pakaian yang tergeletak seadanya.</p>

<p>Botol-botol kaca yang Reiner yakini betul berisi bunga reksa berada di luar tas Eren berjejer dengan rapi dan eksplan yang ditanam tampak  menghilang bersih tanpa jejak. Seakan bersih tidak pernah dipakai.</p>

<p>Meskipun begitu, semua botol itu masih tertutup rapat.</p>

<p>Yang berubah hanya ada sisa agar bernutrient yang mulai menghitam dari awalnya yang berwarna bening.</p>

<p>Keberadaan Eren dan Levi anehnya menghilang, jejak mereka tidak ditemukan. Hanya meninggalkan pakaian yang tergeletak di tanah.</p>

<p>.
.
.
.
.
.
.</p>

<p>FIN</p>

<p>.
.
.
.</p>

<p>Epilog</p>

<p>.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.</p>

<h1 id="epilog" id="epilog">EPILOG</h1>

<p><em>cw // depression</em></p>

<p>Duka mendalam terasa di benak tim reksa serta para sahabat-sahabat Eren. Kabar buruk itu dengan cepat terdengar oleh orang-orang laboratorium kantor Levi dan Eren. Semua orang tahu tentang berita buruk yang didapat. Selain itu, kabar ini pun dengan cepat menyebar ke seluruh akademisi yang bekerja di laboratorium lain dan pihak-pihak yang terkait dengan proyek besar ini.</p>

<p>Tak terkecuali Zeke Jaeger. Ia segera bergerak kesetanan, ditemani oleh Marcel Galliard menuju Gunung Koral. Zeke tak menyangka, firasat buruknya benar terjadi. Ketika ia mendapat info dari Porco dan Pieck kalau Eren dan Levi menghilang di gunung itu. Zeke sangat terpukul, kepergian Eren membuatnya resmi menjadi manusia  sebatang kara.</p>

<p>Beberapa kali ia tampak frustrasi membentak semua orang dan meminta mereka untuk menemukan Eren dalam keadaan hidup. Ia juga turut memaksa ikut mencari Eren ke atas di kondisinya yang seperti ini. Ia memastikan Eren baik-baik saja.</p>

<p>Hal yang serupa turut dirasakan sahabat-sahabatnya, Mikasa, Jean, Sasha, Connie, dan Armin. Mereka sangat tidak menyangka dan belum siap kehilangan sahabat dekatnya. Tak menyangka perjalanan Eren ini berakhir tragis. Mereka segera menuju gunung setelah mendapat kabar menyakitkan itu. Beberapa hari terakhir bahkan kelima orang itu tidak saling bicara satu sama lain dan memutuskan untuk cuti menenangkan diri.</p>

<p>Lima hari adalah waktu mereka tetap berusaha optimis dan berdoa terkait keselamatan keduanya. Pencarian ini, mereka sangat harapkan mendapatkan hasil yang menggembirakan. Naas, di hari kelima itu, dengan berita yang disampaikan Reiner. Jasad Levi dan Eren tidak ditemukan, hanya barang-barangnya pribadi saja yang ditemukan utuh. Membuat mereka makin berduka mendalam.</p>

<p>Zeke semakin bertambah parah, ia benar-benar tidak terima takdir yang dialami oleh Eren ini. Ia terus memaksa agar Eren setidaknya bisa ditemukan dan bisa dikebumikan dengan layak jika memang ia sudah tiada.</p>

<p>Keluarga yang berduka bukan Eren saja, dari pihak Levi. Farlan yang menjadi sahabat dekatnya semenjak sekolah itu langsung turut menuju Gunung Koral setelah mendapat berita tak mengenakkan itu. Ia bergegas ke sana mencari kejelasan. Ia juga tidak turut menyangka Levi yang menjadi korban dalam pendakian ini. Kenny serta Zackley pengacara keluarga Ackerman turut datang mencari informasi.</p>

<p>Kebingungan mendalam, duka mendalam dirasakan anggota keluarga mereka. Tidak menyangka sama sekali niat mulia menghasilkan kejadian yang sangat tak mengenakkan.</p>

<p>Akan tetapi, di sebuah ruangan, terasa perbedaan yang sangat drastis. Ada orang yang berduka atas gagalnya proyek pencarian bunga reksa itu.</p>

<p>“Bagaimana kabarnya terkait pencarian bunga reksa itu?”</p>

<p>“Gagal Pak, katanya ada dua orang yang menghilang akibat proyek ini. Namanya Eren Jaeger dan Levi Ackerman. Menurut anggota timnya sebenarnya mereka sudah berhasil mengambil bunga itu dan dibawa oleh Eren. Tetapi Eren menghilang berserta dengan Levi. SAR yang menemukan barang-barang mereka, ada botol kaca dengan agar bernutrient. Masih tertutup rapat, tetapi bunga reksa menghilang tanpa jejak.”</p>

<p>“Jasad keduanya?”</p>

<p>“Tidak ditemukan, Pak.”</p>

<p>“Ngomong-ngomong tentang Eren Jaeger? Apakah ada hubungannya dengan Zeke?”</p>

<p>“Eren adalah adik Zeke Jaeger, Pak.”</p>

<p>“Begitu. Jadi, meskipun dengan alibi niat jahat yang tertutup niat baik, penghuni sana masih bisa merasakan ya?”</p>

<p>“Sepertinya begitu,” balas ajudan itu dengan singkat.</p>

<p>“Jaga rahasia ini. Saya belum mau melepaskan reksa, saya harus dapatkan itu buat parfum saya. Kamu urus semuanya. Pastikan lebih rapi, entah itu dua atau empat tahun lagi.”</p>

<p>“Alibi bunga reksa yang langka masih bisa digunakan, tentang pendaki tersesat bisa diperbarui jangan itu lagi. Buat alasan yang lebih baik lagi nantinya juga tim yang anggotanya lebih banyak bisa juga dilakukan.”</p>

<p>“Baik, Pak Magath akan saya rencanakan.”</p>

<p>“Terkait jasad keduanya tidak ada, keluarga masih mau melangsungkan upacara?”</p>

<p>“Informasi yang saya dapat seperti itu, Pak. Tulat, akan  dilaksanakan upacara itu di masing-masing di rumah duka milik keluarga Jaeger dan Ackerman.”</p>

<p>Magath pun menyuruh orang itu pergi.</p>

<p>Ia mengeluarkan ponselnya, kemudian menelepon seseorang yang telah menjadi rekan kerjanya selama ini.</p>

<p>“Zeke, saya ikut berbelasungkawa atas apa yang sedang dialami oleh kamu.”</p>

<p>“Terima kasih Pak Magath, atas ucapan belasungkawa terhadap keluarga Jaeger. Sebelumnya mohon maaf, saya Galliard mewakili Zeke untuk menyampaikan hal ini karena Zeke masih sangat terpukul atas kepergian Eren.”</p>

<p>*
*
*
*
*</p>

<p>Di pelosok suatu tempat yang tertutup semak belukar di Gunung Koral, tampak sejoli yang sedang duduk berdampingan sambil mengamati bunga reksa yang sedang mekar. Seorang dari mereka kemudian berdiri, berjalan di antara tanaman reksa yang berjajar. Sangat terbiasa melakukan hal itu. Jarinya yang berhasil menyentuh kelopak bunga yang masih tertutup, seketika membuat kelopak bunga
itu terbuka; mekar dengan indahnya.</p>

<p>Tak terasa matahari yang mulai meredup turun tergantikan oleh Rembulan gagah mentereng, membuat seorang wanita cantik berbaju putih ungu menghitung mundur seraya berkata.</p>

<p>“Kurang satu hari lagi, dan kalian berdua akan bebas. Terima kasih, telah menjaga reksa sekaligus menjadi penebusan dosa kalian berdua yang ingin mengambil reksa dari gunung ini. Kalian orang tulus dan niat kalian sebenarnya memang mulia. Ini bukan ulah kalian yang jahat. Terima kasih Eren, terima kasih Levi.”</p>

<p>.
.
.
.
.</p>

<p>&amp;&amp;&amp;
<strong>JOURNEY End.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seedwaffle.writeas.com/babak-akhir-the-journey</guid>
      <pubDate>Wed, 11 May 2022 12:13:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Babak Akhir .01 – Journey</title>
      <link>https://seedwaffle.writeas.com/babak-akhir-01-journey?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Lima belas menit berlalu, wajahnya sudah tidak tenang. Hatinya khawatir lagi setengah mati setelah kejadian Eren tersesat dan kejadian carriernya. Situasi kalut memenuhi hatinya, tak bisa menahan hingga ia membentak dan mencengkeram kerah baju Reiner.&#xA;&#xA;“Eren di mana Reiner?!” &#xA;&#xA;Bagian satu (2.5/3.0)&#xA;&#xA;Keadaan seketika menjadi mencengkam, Levi saat ini terlihat benar-benar marah. Tak peduli dengan tubuh Reiner yang jauh lebih besar darinya, ia mencengkeram baju Reiner sampai dirinya menunduk menyamai tubuh Levi. Reiner sendiri tidak melawan sama sekali dan malah terlihat bersalah. Porco, Floch, dan Bertold yang kemudian berinisiatif mencoba untuk melerai keduanya, sedangkan Historia dan Pieck hanya terdiam takut. &#xA;!--more-- &#xA;“Pak Levi, tenang Pak. Kalau seperti ini tidak bakal bisa ada titik terang, Pak.” Floch memberanikan diri untuk berbicara, sebisanya agar tidak menimbulkan lebih banyak perkara. Bertold dan Porco masih berusaha untuk melepaskan cengkeraman Levi di baju milik Reiner. Setelah beberapa detik, Levi sadar dan akhirnya sedikit bisa mengendalikan lagi emosinya, menghela napasnya, dan kemudian melepaskan cengkeramannya dari Reiner. Frustrasi, diliriknya jam yang ada di tangan kirinya, sudah hampir pukul lima sore dan sebentar lagi gelap sangat tidak memungkinkan untuk mencari Eren. &#xA;&#xA;Angin kemudian tak diinginkan berembus lumayan kuat, menimbulkan adanya suara dari gesekkan daun—terdengar. Dinginnya angin sedikit menusuk kulit mereka yang hanya dilapisi kaos tipis. &#xA;&#xA;Levi menatap satu persatu semua rekan timnya, tatapan tajamnya kemudian dilayangkan terpusat kepada orang-orang yang satu tim dengan Eren. “Saya tanya, kok bisa Eren malah ditempatkan di paling belakang? Terus Eren tersesat, kalian nggak mikirin sama sekali yang ada di belakang atau bagaimana, tidak pernah kah ditunggu sesekali waktu dicek, memastikan apakah semua masih ada di track yang benar? Sama sekali tidak terpikir tentang itu? Kalian lupa semua kejadian yang Eren alami? Peka tidak kalian saya tanya?! Harusnya mikir kalian, perhatian sama rekan tim sendiri, apalagi di tempat begini. Hal remeh begitu saja saya harus kasih tahu supaya kalian paham?!” &#xA;&#xA;Logika dan pikiran tentang dirinya sebagai tamu di wilayah antah berantah hilang sesaat. Levi kehilangan kendali atas dirinya, yang semestinya harus menjaga sikap di tanah gunung sepi ini. Tak sadar nadanya terlalu tinggi diucap seakan menantang. Hal itu pun membuat rekan timnya ciut. Sekelebatan angin langsung berembus menghantarkan dingin menyelekit pada perasaan mereka masing-masing. &#xA;&#xA;Semuanya hanya diam, tidak berani berkata apa pun terhadap perkataan Levi yang lumayan keras disertai sindiran yang cukup tajam itu. Hal ini karena perkataan Levi memang sangat benar adanya, tim satu memang melupakan semua kejadian Eren yang ganjil sewaktu naik. Porco, Reiner, dan Pieck juga merasa bersalah oleh karenanya. Mereka tidak ingat hal itu sama sekali, karena kesenangan yang didapatkan tadi, memperoleh bunga Reksa dan juga akibat terfokus pada Porco yang cedera.&#xA;&#xA;Levi terlihat sedang mengatur emosinya agar menjadi lebih tenang. “Sekarang bagaimana? Saya tawarkan kalian buat mikir. Kepala saya sudah dingin tenang saja,” ucap Levi. Semuanya masih terdiam, tidak ada yang mau buka suara meskipun sudah beberapa menit berlalu. Levi pun menunggu dengan tak sabar yang apik disembunyikan. &#xA;&#xA;“Maaf, Pak Levi saya benar-benar minta maaf. Jujur saya lupa semua tentang Eren dan lebih terfokus pada Bunga Reksa itu saja.” Pieck kemudian berkata; menyampaikan maafnya, menyesal pada Levi walau dengan nyali seujung kuku. Matanya menatap takut, tetapi memberanikan diri untuk berkontak pandangan dengan ketua timnya itu. &#xA;&#xA;“Tidak perlu minta maaf pada saya. Yang saya butuh sekarang otak kalian buat mikir, jalan keluarnya bagaimana,” balas Levi.&#xA;&#xA;Floch akhirnya menyampaikan pendapatnya, ia berkata dengan berhati-hati berharap tidak memicu amarah Levi lagi. “Saran saya, kita perlu ke tenda terlebih dahulu, Pak. Maaf bukannya saya tidak peduli dengan Eren. Namun, di situasi yang sudah akan gelap ini sebaiknya pencarian dimulai besok hari saja. Apalagi Porco sudah cedera dan rekan yang lain juga sudah lelah. Saya yakin Eren juga akan bisa bertahan di sana, saya berpikiran positif untuknya.” &#xA;&#xA;Levi mengamati setitik respon yang diberikan oleh yang lain, tampak mereka setuju, tetapi tak ada yang berani bersuara. Sangat berat untuk memutuskan jika mereka akan kembali tanpa Eren yang keberadaannya entah ada di mana sekarang ini. Terlebih untuk Levi, dia sadar, merasa gagal untuk jadi ketua tim yang becus dan gagal melindungi orang yang disukainya itu. Pikiran berkecamuk berputar, tetapi dengan segala pertimbangan menyakitkan yang ada, dia memilih satu opsi yang menurutnya paling tidak buruk dari semua yang buruk. &#xA;&#xA;“Kalau itu mau kalian, silakan berjalan kembali ke tenda dan beristirahat.” Semuanya kemudian bergerak dan kali ini tanpa suara, Levi mengambil tempat paling belakang. Tidak ada yang protes, karena sejatinya mereka juga tahu ditempatkan di posisi mana pun, Levi bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Langkah Levi sengaja dipelankan, berharap tiba-tiba Eren kembali lagi dan memanggilnya. Nihil, sampai tenda, keberadaan Eren juga belum nampak. &#xA;&#xA;Jam menunjukkan pukul enam lebih lima belas dengan kegelapan malam yang lebih terasa pekat dari sebelumnya. Semua sedang memasak makanan dan Levi sedang menyendiri di dalam tenda. Rasa khawatir masih terus dirasakan. Dirinya hanya berharap tanpa henti, Eren masih bertahan di luar sana. &#xA;&#xA;Kamu harus bertahan Eren, harus.&#xA;&#xA;Malam sedang berlangsung, dengan masing-masing orang yang memikirkan sesuatu yang berat menyebabkan belum ada yang tertidur pulas. Hangat tenda agak terasa hilang terlebih tenda yang diisi laki-laki. Ketegangan masih terasa jelas, terutama pada Levi dan Reiner yang masih juga belum reda. Hanya ada suara tonggeret yang terdengar lebih nyaring dari biasanya dan juga sayup-sayup suara musik tradisional khas Jawa—Gamelan yang cukup terdengar jelas di telinga mereka. Sesuatu yang baru mereka rasakan sejelas dan seganjil ini, dan tak luput bisa membuat bulu kuduk sedikit meremang. Sesuatu tak beres terjadi lagi. Namun, agaknya mereka telah mengerti hal ganjil tersebut mencoba mengabaikannya dan tak ada seorang pun yang ingin membahasnya. &#xA;&#xA;Tonggeret juga dirasakan makin berbunyi nyaring dan makin riuh terdengar oleh mereka, sesaat setelah bunyi gamelan hilang sepenuhnya. Bunyian itu seperti membentuk nada-nada yang terdengar seperti kode morse. Mereka mengetahui karena suara yang didengar tidak secara asal berbunyi. Entahlah, seperti ada yang mengkomando. Hal itu turut membuat mereka menciut takut berharap waktu pagi segera datang. &#xA;&#xA;Namun, sayangnya malam itu terasa sangat lama sekali berjalan. Jam malam memasuki dini hari dan mereka hanya bisa tidur ayam, benar-benar tidak bisa tertidur pulas hingga tiba-tiba mata mereka terbuka sepenuhnya akibat Historia—seorang diri yang mengunjungi tenda mereka dan berbicara dengan nada yang ketakutan. &#xA;&#xA;&#34;Tolong, Pieck, Pieck... Pak Levi, Reiner, team...&#34; Kesadaran semua lelaki yang ada di tenda penuh akibat suara panik Historia yang membangunkan mereka. &#xA;&#xA;&#34;Ada apa Historia?&#34; tanya Levi setelah membuka tenda dan mendapati raut khawatir dan pandangan mata kebingungan milik Historia. &#xA;&#xA;&#34;Pieck, Pieck, Pieck. Diaa...&#34; Historia dengan panik mencoba menjelaskan sambil tangannya menunjuk ke tendanya dengan getar yang sangat kentara. Akan tetapi, tak ada kata-kata yang jelas di sana. Sementara itu, hanya ada air matanya kemudian menetes yang cukup menyatakan sesuatu hal buruk terjadi. Levi tanpa sepatah kata langsung menuju tenda Pieck diikuti oleh semuanya. &#xA;&#xA;Kaget, reaksi yang ditampakkan oleh semua yang mendapati Pieck sedang menggigil hebat. Tubuhnya seperti terkena hipotermia. Kejadian ganjil terjadi lagi. Hal ini karena cuaca di sekitar mereka saat ini tidak terlalu dingin menusuk, hujan juga tidak turun sama sekali dan bagaimana bisa Pieck seakan terserang gejala hipotermia? Apa penyebabnya?&#xA;&#xA;&#34;Historia, Pieck dari kapan begini? Tanya Porco panik dengan dia yang segera masuk dan duduk di dekat tubuh Pieck. &#34;Dingin banget,&#34; ucapnya setelah tangannya merasakan suhu yang ada di dahi Pieck. &#xA;&#xA;&#34;Nggak tau... bangun-bangun aku ngerasa ada... yang goncang kaya gempa. Terus, aku bangun, liat Pieck... Pieck udah begitu. Dia jadi gak sadar, aku udah sempet tepokkin pipi ta-tapi gak sadar juga. Makanya aku ke tenda kalian... aku ngga tau harus apa—aku—aku bingung. Terus ini Pieck... gimana?&#34; Historia menjelaskan dengan dia yang masih terus menangis. &#xA;&#xA;&#34;Hisu, tenang ya. Jaket atau apa pun itu punya Pieck mana? Please tenang, jangan nangis. Semakin kamu cepet tenang, Pieck makin cepet buat kita tolong.&#34; Floch menenangkan Historia dan untungnya berhasil. Historia berhenti mengangis. Ia juga menunjuk ke carrier milik Pieck dan bergegas membukanya untuk mencari-cari baju hangat yang dibawa oleh Pieck. &#xA;&#xA;&#34;Bertold, lo ambil emergency blanket.&#34; Reiner menyuruh Bertold dan ia pun mengangguk bergegas keluar tenda. &#xA;&#xA;Kepanikan cukup terasa di tenda sempit ini. Pieck yang masih menggigil cukup hebat, tetapi berangsur pelan dan masih tidak sadar. Kulitnya sudah mulai memucat hampir kebiruan yang membuat Porco semakin panik. Sementara itu, Historia telah berhasil mengeluarkan sejumlah baju hangat dari carrier kepunyaan Pieck. &#xA;&#xA;&#34;Porco, coba cek itu Pieck di dalam sleeping bagnya. Pakaiannya basah atau tidak.&#34; Levi berkata pada Porco. Dengan hati-hati Porco mulai membuka sedikit resleting sleeping bag Pieck dan meraba sebentar kulitnya. &#xA;&#xA;&#34;Basah, basah banget, sleeping bag nya juga udah basah di dalemnya,&#34; ucapnya. Reiner terlihat mengangguk dan mengambil alih. &#34;Baiknya kita keluar tenda. Hisu kamu bisa kan, ganti pakaian milik Pieck, semuanya. Tapi, hati-hati jangan sampai Pieck kepapar lama sama udara. Harus cepet.&#34; Reiner berkata dengan cepat dan Hisu terlihat mengangguk. &#xA;&#xA;Mereka pun segera keluar dari tenda dengan berdiri menjaga tenda. Bertold terlihat membawa selimut darurat di tangannya. Reiner pun terlihat akan bergerak menuju tendanya sebelum dihentikan oleh Levi. &#xA;&#xA;&#34;Mau ke mana?&#34; tanya Levi. &#xA;&#xA;&#34;Saya mau ambil sleeping bag punya saya. Itu tadi Porco bilang punya Pieck sudah basah,&#34; balas Reiner. Levi mengangguk kemudian mengikuti langkah Reiner. Di dalam tenda tersebut, Levi menahan Reiner yang sedang membereskan sleeping bag nya itu. &#xA;&#xA;&#34;Kamu butuh sleeping bag itu. Buat Pieck sekarang, pakai punya Eren saja.&#34; Entah apa yang dirasakan Levi saat ini, tetapi intuisinya menyuruhnya berbuat demikian. &#34;Maaf Pak, saya benar-benar minta maaf, saya tidak becus waktu kemarin sehingga Eren...&#34; Reiner merasa kembali bersalah hingga perkataan yang belum usai itu dipotong Levi. &#xA;&#xA;&#34;Anggap saja kecelakaan. Tentang Eren jangan dibahas dulu. Kalau kamu tidak becus, saya lebih tidak becus kalau begitu sebagai leader dari tim ini. Saya minta maaf atas perlakuan saya yang kelewat emosi kemarin.&#34; Levi berkata sambil tangannya terus membuka carrier merah besar milik Eren yang ditinggalkan di tenda. Permintaan maafnya ia sampaikan tulus, tak lain karena dirinya yang merasa tak nyaman dengan kondisi tim yang diujung tanduk; berantakan karenanya. &#xA;&#xA;Levi diam tak berbicara sepatah pun setelahnya. Ia terlalu fokus membuka carrier Eren yang sempat dibereskan oleh empunya tadi pagi. Barang-barang tertata rapi di dalamnya. Sedikit hatinya merasa berdenyut, karena yang tersisa bersama mereka saat ini hanya barang kepunyaan Eren, bukan eksistensi pemiliknya. Namun, rasa menyesakkan itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan sleeping bag yang dibutuhkan. &#xA;&#xA;Setelah mendapatkannya, ia kemudian bergegas keluar tenda dan menuju tenda milik Pieck dan Historia, sangat pas kedatangannya  karena Historia muncul dan berkata bahwa pakaian Pieck seluruhnya telah diganti. &#xA;&#xA;Floch kemudiam masuk ke dalam tenda dan mulai menyelimuti Pieck dengan selimut darurat. Levi kemudian menggelar sleeping bag milik Eren di bagian dalam tenda yang tersisa cukup lapang. Mereka kemudian membantu menggotong Pieck untuk masuk ke dalam sleeping bag berwarna biru—milik Eren itu. Usaha mereka tidak sia-sia. Pieck berangsur membaik dan tubuhnya tidak menggigil hebat seperti tadi. Warna tubuhnya pun berangsur segar.&#xA;&#xA;&#34;Rei, Porco tolong siapin kompor, masak air.&#34; Keduanya pun mengangguk. Pieck berangsur lebih baik lagi dan sekarang ini dia layaknya sedang tertidur dengan nafas yang teratur. &#xA;&#xA;Sebelum Reiner dan Porco berdiri keluar tenda untuk memasak air. Semua yang masih di dalam tenda mendengar Pieck mengigau. &#xA;&#xA;&#34;Eren, Eren, jangan... Eren kamu harus balik... Pulang... Zeke... Abang Zeke nunggu kamu pulang...&#34; &#xA;&#xA;Tubuh mereka seketika membeku. Perasaan ganjil dan semua adegan buruk terputar yang dituntun igauan milik Pieck dalam imajinasi terdalam mereka. Tentang Eren. &#xA;&#xA;Sejatinya, kondisi mental mereka sekarang sudah diambang batas. Dipaksa harus tetap waras di tengah impitan situasi di luar nalar dan di luar kuasa mereka. &#xA;&#xA;Terlebih untuk Levi seorang, rasanya makin menyesakkan memikirkan Eren yang saat ini hilang entah di mana. Igauan Pieck sangat amat ia berharap hanyalah igauan tanpa arti. Ia masih meyakini Erennya masih bertahan di luar sana.&#xA;&#xA;                              *&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Lima belas menit berlalu, wajahnya sudah tidak tenang. Hatinya khawatir lagi setengah mati setelah kejadian Eren tersesat dan kejadian carriernya. Situasi kalut memenuhi hatinya, tak bisa menahan hingga ia membentak dan mencengkeram kerah baju Reiner.</p>

<p>“Eren di mana Reiner?!”</p>

<p>***</p>

<p><strong>Bagian satu (2.5/3.0)</strong></p>

<p>Keadaan seketika menjadi mencengkam, Levi saat ini terlihat benar-benar marah. Tak peduli dengan tubuh Reiner yang jauh lebih besar darinya, ia mencengkeram baju Reiner sampai dirinya menunduk menyamai tubuh Levi. Reiner sendiri tidak melawan sama sekali dan malah terlihat bersalah. Porco, Floch, dan Bertold yang kemudian berinisiatif mencoba untuk melerai keduanya, sedangkan Historia dan Pieck hanya terdiam takut.

“Pak Levi, tenang Pak. Kalau seperti ini tidak bakal bisa ada titik terang, Pak.” Floch memberanikan diri untuk berbicara, sebisanya agar tidak menimbulkan lebih banyak perkara. Bertold dan Porco masih berusaha untuk melepaskan cengkeraman Levi di baju milik Reiner. Setelah beberapa detik, Levi sadar dan akhirnya sedikit bisa mengendalikan lagi emosinya, menghela napasnya, dan kemudian melepaskan cengkeramannya dari Reiner. Frustrasi, diliriknya jam yang ada di tangan kirinya, sudah hampir pukul lima sore dan sebentar lagi gelap sangat tidak memungkinkan untuk mencari Eren.</p>

<p>Angin kemudian tak diinginkan berembus lumayan kuat, menimbulkan adanya suara dari gesekkan daun—terdengar. Dinginnya angin sedikit menusuk kulit mereka yang hanya dilapisi kaos tipis.</p>

<p>Levi menatap satu persatu semua rekan timnya, tatapan tajamnya kemudian dilayangkan terpusat kepada orang-orang yang satu tim dengan Eren. “Saya tanya, kok bisa Eren malah ditempatkan di paling belakang? Terus Eren tersesat, kalian nggak mikirin sama sekali yang ada di belakang atau bagaimana, tidak pernah kah ditunggu sesekali waktu dicek, memastikan apakah semua masih ada di <em>track</em> yang benar? Sama sekali tidak terpikir tentang itu? Kalian lupa semua kejadian yang Eren alami? Peka tidak kalian saya tanya?! Harusnya mikir kalian, perhatian sama rekan tim sendiri, apalagi di tempat begini. Hal remeh begitu saja saya harus kasih tahu supaya kalian paham?!”</p>

<p>Logika dan pikiran tentang dirinya sebagai tamu di wilayah antah berantah hilang sesaat. Levi kehilangan kendali atas dirinya, yang semestinya harus menjaga sikap di tanah gunung sepi ini. Tak sadar nadanya terlalu tinggi diucap seakan menantang. Hal itu pun membuat rekan timnya ciut. Sekelebatan angin langsung berembus menghantarkan dingin menyelekit pada perasaan mereka masing-masing.</p>

<p>Semuanya hanya diam, tidak berani berkata apa pun terhadap perkataan Levi yang lumayan keras disertai sindiran yang cukup tajam itu. Hal ini karena perkataan Levi memang sangat benar adanya, tim satu memang melupakan semua kejadian Eren yang ganjil sewaktu naik. Porco, Reiner, dan Pieck juga merasa bersalah oleh karenanya. Mereka tidak ingat hal itu sama sekali, karena kesenangan yang didapatkan tadi, memperoleh bunga Reksa dan juga akibat terfokus pada Porco yang cedera.</p>

<p>Levi terlihat sedang mengatur emosinya agar menjadi lebih tenang. “Sekarang bagaimana? Saya tawarkan kalian buat mikir. Kepala saya sudah dingin tenang saja,” ucap Levi. Semuanya masih terdiam, tidak ada yang mau buka suara meskipun sudah beberapa menit berlalu. Levi pun menunggu dengan tak sabar yang apik disembunyikan.</p>

<p>“Maaf, Pak Levi saya benar-benar minta maaf. Jujur saya lupa semua tentang Eren dan lebih terfokus pada Bunga Reksa itu saja.” Pieck kemudian berkata; menyampaikan maafnya, menyesal pada Levi walau dengan nyali seujung kuku. Matanya menatap takut, tetapi memberanikan diri untuk berkontak pandangan dengan ketua timnya itu.</p>

<p>“Tidak perlu minta maaf pada saya. Yang saya butuh sekarang otak kalian buat mikir, jalan keluarnya bagaimana,” balas Levi.</p>

<p>Floch akhirnya menyampaikan pendapatnya, ia berkata dengan berhati-hati berharap tidak memicu amarah Levi lagi. “Saran saya, kita perlu ke tenda terlebih dahulu, Pak. Maaf bukannya saya tidak peduli dengan Eren. Namun, di situasi yang sudah akan gelap ini sebaiknya pencarian dimulai besok hari saja. Apalagi Porco sudah cedera dan rekan yang lain juga sudah lelah. Saya yakin Eren juga akan bisa bertahan di sana, saya berpikiran positif untuknya.”</p>

<p>Levi mengamati setitik respon yang diberikan oleh yang lain, tampak mereka setuju, tetapi tak ada yang berani bersuara. Sangat berat untuk memutuskan jika mereka akan kembali tanpa Eren yang keberadaannya entah ada di mana sekarang ini. Terlebih untuk Levi, dia sadar, merasa gagal untuk jadi ketua tim yang becus dan gagal melindungi orang yang disukainya itu. Pikiran berkecamuk berputar, tetapi dengan segala pertimbangan menyakitkan yang ada, dia memilih satu opsi yang menurutnya paling tidak buruk dari semua yang buruk.</p>

<p>“Kalau itu mau kalian, silakan berjalan kembali ke tenda dan beristirahat.” Semuanya kemudian bergerak dan kali ini tanpa suara, Levi mengambil tempat paling belakang. Tidak ada yang protes, karena sejatinya mereka juga tahu ditempatkan di posisi mana pun, Levi bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Langkah Levi sengaja dipelankan, berharap tiba-tiba Eren kembali lagi dan memanggilnya. Nihil, sampai tenda, keberadaan Eren juga belum nampak.</p>

<p>Jam menunjukkan pukul enam lebih lima belas dengan kegelapan malam yang lebih terasa pekat dari sebelumnya. Semua sedang memasak makanan dan Levi sedang menyendiri di dalam tenda. Rasa khawatir masih terus dirasakan. Dirinya hanya berharap tanpa henti, Eren masih bertahan di luar sana.</p>

<p><em>Kamu harus bertahan Eren, harus.</em></p>

<p>***</p>

<p>Malam sedang berlangsung, dengan masing-masing orang yang memikirkan sesuatu yang berat menyebabkan belum ada yang tertidur pulas. Hangat tenda agak terasa hilang terlebih tenda yang diisi laki-laki. Ketegangan masih terasa jelas, terutama pada Levi dan Reiner yang masih juga belum reda. Hanya ada suara tonggeret yang terdengar lebih nyaring dari biasanya dan juga sayup-sayup suara musik tradisional khas Jawa—Gamelan yang cukup terdengar jelas di telinga mereka. Sesuatu yang baru mereka rasakan sejelas dan seganjil ini, dan tak luput bisa membuat bulu kuduk sedikit meremang. Sesuatu tak beres terjadi lagi. Namun, agaknya mereka telah mengerti hal ganjil tersebut mencoba mengabaikannya dan tak ada seorang pun yang ingin membahasnya.</p>

<p>Tonggeret juga dirasakan makin berbunyi nyaring dan makin riuh terdengar oleh mereka, sesaat setelah bunyi gamelan hilang sepenuhnya. Bunyian itu seperti membentuk nada-nada yang terdengar seperti kode morse. Mereka mengetahui karena suara yang didengar tidak secara asal berbunyi. Entahlah, seperti ada yang mengkomando. Hal itu turut membuat mereka menciut takut berharap waktu pagi segera datang.</p>

<p>Namun, sayangnya malam itu terasa sangat lama sekali berjalan. Jam malam memasuki dini hari dan mereka hanya bisa tidur ayam, benar-benar tidak bisa tertidur pulas hingga tiba-tiba mata mereka terbuka sepenuhnya akibat Historia—seorang diri yang mengunjungi tenda mereka dan berbicara dengan nada yang ketakutan.</p>

<p>“Tolong, Pieck, Pieck... Pak Levi, Reiner, <em>team</em>...” Kesadaran semua lelaki yang ada di tenda penuh akibat suara panik Historia yang membangunkan mereka.</p>

<p>“Ada apa Historia?” tanya Levi setelah membuka tenda dan mendapati raut khawatir dan pandangan mata kebingungan milik Historia.</p>

<p>“Pieck, Pieck, Pieck. Diaa...” Historia dengan panik mencoba menjelaskan sambil tangannya menunjuk ke tendanya dengan getar yang sangat kentara. Akan tetapi, tak ada kata-kata yang jelas di sana. Sementara itu, hanya ada air matanya kemudian menetes yang cukup menyatakan sesuatu hal buruk terjadi. Levi tanpa sepatah kata langsung menuju tenda Pieck diikuti oleh semuanya.</p>

<p>Kaget, reaksi yang ditampakkan oleh semua yang mendapati Pieck sedang menggigil hebat. Tubuhnya seperti terkena hipotermia. Kejadian ganjil terjadi lagi. Hal ini karena cuaca di sekitar mereka saat ini tidak terlalu dingin menusuk, hujan juga tidak turun sama sekali dan bagaimana bisa Pieck seakan terserang gejala hipotermia? Apa penyebabnya?</p>

<p>“Historia, Pieck dari kapan begini? Tanya Porco panik dengan dia yang segera masuk dan duduk di dekat tubuh Pieck. “Dingin banget,” ucapnya setelah tangannya merasakan suhu yang ada di dahi Pieck.</p>

<p>“Nggak tau... bangun-bangun aku ngerasa ada... yang goncang kaya gempa. Terus, aku bangun, liat Pieck... Pieck udah begitu. Dia jadi gak sadar, aku udah sempet tepokkin pipi ta-tapi gak sadar juga. Makanya aku ke tenda kalian... aku ngga tau harus apa—aku—aku bingung. Terus ini Pieck... gimana?” Historia menjelaskan dengan dia yang masih terus menangis.</p>

<p>“Hisu, tenang ya. Jaket atau apa pun itu punya Pieck mana? <em>Please</em> tenang, jangan nangis. Semakin kamu cepet tenang, Pieck makin cepet buat kita tolong.” Floch menenangkan Historia dan untungnya berhasil. Historia berhenti mengangis. Ia juga menunjuk ke carrier milik Pieck dan bergegas membukanya untuk mencari-cari baju hangat yang dibawa oleh Pieck.</p>

<p>“Bertold, lo ambil <em>emergency blanket</em>.” Reiner menyuruh Bertold dan ia pun mengangguk bergegas keluar tenda.</p>

<p>Kepanikan cukup terasa di tenda sempit ini. Pieck yang masih menggigil cukup hebat, tetapi berangsur pelan dan masih tidak sadar. Kulitnya sudah mulai memucat hampir kebiruan yang membuat Porco semakin panik. Sementara itu, Historia telah berhasil mengeluarkan sejumlah baju hangat dari carrier kepunyaan Pieck.</p>

<p>“Porco, coba cek itu Pieck di dalam <em>sleeping bag</em>nya. Pakaiannya basah atau tidak.” Levi berkata pada Porco. Dengan hati-hati Porco mulai membuka sedikit resleting <em>sleeping bag</em> Pieck dan meraba sebentar kulitnya.</p>

<p>“Basah, basah banget, <em>sleeping bag</em> nya juga udah basah di dalemnya,” ucapnya. Reiner terlihat mengangguk dan mengambil alih. “Baiknya kita keluar tenda. Hisu kamu bisa kan, ganti pakaian milik Pieck, semuanya. Tapi, hati-hati jangan sampai Pieck kepapar lama sama udara. Harus cepet.” Reiner berkata dengan cepat dan Hisu terlihat mengangguk.</p>

<p>Mereka pun segera keluar dari tenda dengan berdiri menjaga tenda. Bertold terlihat membawa selimut darurat di tangannya. Reiner pun terlihat akan bergerak menuju tendanya sebelum dihentikan oleh Levi.</p>

<p>“Mau ke mana?” tanya Levi.</p>

<p>“Saya mau ambil <em>sleeping bag</em> punya saya. Itu tadi Porco bilang punya Pieck sudah basah,” balas Reiner. Levi mengangguk kemudian mengikuti langkah Reiner. Di dalam tenda tersebut, Levi menahan Reiner yang sedang membereskan <em>sleeping bag nya</em> itu.</p>

<p>“Kamu butuh <em>sleeping bag</em> itu. Buat Pieck sekarang, pakai punya Eren saja.” Entah apa yang dirasakan Levi saat ini, tetapi intuisinya menyuruhnya berbuat demikian. “Maaf Pak, saya benar-benar minta maaf, saya tidak becus waktu kemarin sehingga Eren...” Reiner merasa kembali bersalah hingga perkataan yang belum usai itu dipotong Levi.</p>

<p>“Anggap saja kecelakaan. Tentang Eren jangan dibahas dulu. Kalau kamu tidak becus, saya lebih tidak becus kalau begitu sebagai <em>leader</em> dari tim ini. Saya minta maaf atas perlakuan saya yang kelewat emosi kemarin.” Levi berkata sambil tangannya terus membuka carrier merah besar milik Eren yang ditinggalkan di tenda. Permintaan maafnya ia sampaikan tulus, tak lain karena dirinya yang merasa tak nyaman dengan kondisi tim yang diujung tanduk; berantakan karenanya.</p>

<p>Levi diam tak berbicara sepatah pun setelahnya. Ia terlalu fokus membuka carrier Eren yang sempat dibereskan oleh empunya tadi pagi. Barang-barang tertata rapi di dalamnya. Sedikit hatinya merasa berdenyut, karena yang tersisa bersama mereka saat ini hanya barang kepunyaan Eren, bukan eksistensi pemiliknya. Namun, rasa menyesakkan itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan <em>sleeping bag</em> yang dibutuhkan.</p>

<p>Setelah mendapatkannya, ia kemudian bergegas keluar tenda dan menuju tenda milik Pieck dan Historia, sangat pas kedatangannya  karena Historia muncul dan berkata bahwa pakaian Pieck seluruhnya telah diganti.</p>

<p>Floch kemudiam masuk ke dalam tenda dan mulai menyelimuti Pieck dengan selimut darurat. Levi kemudian menggelar <em>sleeping bag</em> milik Eren di bagian dalam tenda yang tersisa cukup lapang. Mereka kemudian membantu menggotong Pieck untuk masuk ke dalam <em>sleeping bag</em> berwarna biru—milik Eren itu. Usaha mereka tidak sia-sia. Pieck berangsur membaik dan tubuhnya tidak menggigil hebat seperti tadi. Warna tubuhnya pun berangsur segar.</p>

<p>“Rei, Porco tolong siapin kompor, masak air.” Keduanya pun mengangguk. Pieck berangsur lebih baik lagi dan sekarang ini dia layaknya sedang tertidur dengan nafas yang teratur.</p>

<p>Sebelum Reiner dan Porco berdiri keluar tenda untuk memasak air. Semua yang masih di dalam tenda mendengar Pieck mengigau.</p>

<p>“Eren, Eren, jangan... Eren kamu harus balik... Pulang... Zeke... Abang Zeke nunggu kamu pulang...”</p>

<p>Tubuh mereka seketika membeku. Perasaan ganjil dan semua adegan buruk terputar yang dituntun igauan milik Pieck dalam imajinasi terdalam mereka. Tentang Eren.</p>

<p>Sejatinya, kondisi mental mereka sekarang sudah diambang batas. Dipaksa harus tetap waras di tengah impitan situasi di luar nalar dan di luar kuasa mereka.</p>

<p>Terlebih untuk Levi seorang, rasanya makin menyesakkan memikirkan Eren yang saat ini hilang entah di mana. Igauan Pieck sangat amat ia berharap hanyalah igauan tanpa arti. Ia masih meyakini Erennya masih bertahan di luar sana.</p>

<p>                              ***</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seedwaffle.writeas.com/babak-akhir-01-journey</guid>
      <pubDate>Sun, 17 Apr 2022 08:56:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Babak Dua - Journey </title>
      <link>https://seedwaffle.writeas.com/babak-dua-journey?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Tolong kalau mampu jangan protes. Percaya saya, percaya insting saya. Kita akan beristirahat di pos lima saja.” Mereka semua mengangguk, tanpa banyak tanya. Semuanya seakan mengerti maksud Levi, tak lain dan tak bukan karena kejadian yang tadi menimpa Eren. &#xA;                                                         &#xA;&#xA;Babak dua (2/3)&#xA;&#xA;Waspada. Semua anggota sangat berhati-hati. Perjalanan menuju pos lima semakin sulit, rute pendakian pun semakin sempit dengan vegetasi-vegetasi yang semakin rimbun. Jurang lebih sering terlihat di pelupuk mata, terasa sangat curam dan menyesakkan diri. Mereka berjalan tidak terlalu jauh antar satu sama lain. Seperti yang telah diperintahkan oleh Levi sebelumnya, formasi mereka berubah sehingga urutan mereka dari depan ialah Floch, Levi, Eren, Historia, Pieck, Porco, Reiner, dan Berthold. &#xA;&#xA;!--more-- &#xA;&#xA;Matahari terasa bersinar semakin panas dan cuaca saat siang tidak mendung sama sekali. Waktu sudah hampir pukul 12 siang, setengah hari tersisa sebelum malam menjelang dan mereka masih jauh dari puncak. Perjalanan kali ini terasa biasa saja bagi Eren. Dia pun berjalan dengan santai, tetapi anehnya langkahnya saat ini terasa sangat ringan sangat berbeda sekali dibandingkan tadi. Ia seperti tidak merasa membawa beban di punggungnya. Ia berjalan dan terus berjalan tanpa ada masalah yang berarti. Tak beberapa lama, dirinya merasa sering tersandung sedikit. Merasa tidak nyaman, ia melongok ke bawah dan melihat ternyata tali sepatunya sedikit melonggar. Ia pun dengan cepat memperbaikinya dan memasukkan tali yang tersisa ke dalam sepatu. Sedikit lega, mendapati jejak sepatu gunung milik Levi masih tercetak jelas di tanah, dengan Levi yang masih terlihat di depan mata meskipun agak jauh. Ia pun mengikuti jejak itu tanpa ragu. Namun, entah mengapa, rute pendakian yang dirasakannya semakin menyempit dan vegetasi pun semakin tinggi. &#xA;&#xA;“Benar kan ini, jalannya?” monolognya pada diri sendiri. Jejak langkah Levi tiba-tiba saja terputus menghilang di ilalang-ilalang tinggi hampir setinggi lutunya. Eren berhenti, ia ragu, sekitar dirinya berdiri pun semakin tertutupi tanaman tinggi, logikanya berkata ada yang tidak beres. Pikiran Levi yang menghilang, siapakah orang itu yang tampak mirip Levi merangsuk membuat semakin was-was. Merasa terdesak oleh lingkungan yang sangat penuh dengan hehijauan membuat perasaannya menajam. Semua suara lirih pun mampu didengarnya dan meninggalkan kesan ngeri yang makin terakumulasi. &#xA;&#xA;Dengan otak yang dingin, ia mencoba tenang dan memutuskan untuk menunggu selama sepuluh menit berharap akan bertemu rombongan setelahnya, paling tidak Historia. Seingatnya tadi, jarak antar dirinya dan Historia juga tidak terlalu jauh. Menit berganti menit, tanda-tanda rekan timnya datang masih tidak terasa juga. Tidak menyangkal, rasa takut semakin intens dirasakannya. Sendirian di hutan yang ia tidak tahu letaknya dimana. Pohon besar terasa sangat mendominasi disertai angin lirih yang membunyikan rumput-rumput yang saling bergerak secara harmoni, membentuk bunyi-bunyi menyeramkan untuknya. Bulu kuduknya semakin berdiri. &#xA;&#xA;Sepuluh menit berlalu terasa dengan sangat lama hanya untuk menunggu teman-temannya, sambil kembali lagi menyugesti diri sendiri agar tetap berpikiran positif. Eren akhirnya memutuskan untuk kembali ke arah ia datang tadi. Ia merasa ia telah benar-benar tersesat. Eren membuka peta dan mengeluarkan kompasnya lalu mengingat-ingat ke arah mana ia melangkah. Langkah demi langkah ia ambil penuh perhitungan. Rasa takut ia enyahkan karena keingingan untuk bertahan dan kembali kepada teman-temannya jauh lebih besar. Kembali melirik pergelangan tangan kirinya. Jam di tangan mengatakan sudah sekitar dua puluh menit ia tersesat dan terpisah dari rombongan. Sekitar sepuluh menit selanjutnya, ia terus berjalan mencari petunjuk. &#xA;&#xA;Secercah harapan menguak ke dalam diri ketika melihat jalanan yang cukup lebar dan seakan baru dilalui, ia berjalan cepat dan berharap. Kembali berjalan dan berjalan hingga akhirnya terlihat di kedua matanya dari kejauhan, teman-temannya itu yang sedang duduk berkumpul dan berdiskusi secara intens. Lambat laun suara rekan-rekannya terdengar di telinganya. Ia sedikit merasa lega. Eren pun kemudian mempercepat jalannya. Ia datang dengan terengah-tengah dan orang yang pertama kali bersitatap dengannya ialah Levi. &#xA;&#xA;“Eren?!” Levi pun yang menyadari presensi Eren langsung berdiri dan menghampirinya dengan cepat diikuti dengan yang lainnya. Raut wajahnya jelas sangat khawatir. &#xA;&#xA;“Syukurlah, Eren. Ya Tuhan,” Historia berkata dan raut nya jelas sangat lega mendapati Eren kembali lagi. Terlebih dengan Berthold, Reiner, dan Floch yang juga sangat kentara menghela napasnya dan raut khawatirnya menguap hilang seketika. &#xA;&#xA;“Jangan pernah berani menghilang lagi Eren. Sumpah, aku takut setengah mati. Syukurlah, syukurlah.” Suara teramat lirih menyapa indera auditorinya. Membuat Eren sedikit tergugu. Kedua tangan Levi dirasakannya mencengkram kuat bahunya dan Levi menunduk dalam hingga helai rambut pendeknya jatuh menutupi seluruh wajahnya. &#xA;&#xA;“Maaf, tadi sempat tersesat. Teledor, tidak memperhatikan jalan.” Eren berkata dengan hati-hati, memberi penjelasan kepada yang lain sambil dirinya menatap rekan yang berada tepat di belakang Levi satu persatu. &#xA;&#xA;“Syukurlah, Ren kita khawatir banget. Lima jam kita cari-cari dan nunggu lo.” Porco membuka suaranya seraya menatap Eren sama leganya seperti yang lain. Kemudian Levi segera melepas cengkeraman di bahunya dan berjalan menjauh membelakanginya. &#xA;&#xA;Apa katanya? Lima jam? Lidahnya tiba-tiba kelu dan otaknya kesulitan mencerna omongan Porco yang seperti omong kosong. Segera saja ia mengecek jam tangannya, dan ternyata benar. Jarum jam pendek sudah tiba-tiba saja menunjuk ke angka empat. Jam empat sore? Dia merasa tidak berjalan selama itu? Dia tersesat hanya sekitar setengah jam? Tidak sampai satu jam. Fenomena apa ini. Ia tidak berani mengungkapkan hal ini, takutnya lebih membuat gaduh.&#xA;&#xA;Shit umpatnya dalam hati. Kejadian carrier, kejadian tersesat membuat mentalnya mulai mengerut. Seakan tanpa henti kesialan terus menarget dirinya. Apa sebabnya? Yang bisa Eren lakukan adalah memendamnya dan melupakan kejadian ini begitu saja untuk sementara waktu.&#xA;&#xA;“Ayo jalan, sampai di pos lima. Kita akan bermalam di sana.” Suara Levi kembali menyapa pendengarannya. Mereka semua pun mengangguk dan kembali berjalan. Dengan jarak yang sangat rapat bahkan hanya satu meter. Pos lima tidak terlalu jauh dari titik mereka mulai berjalan lagi. &#xA;Rupa pos ini cukup lapang di sisi kanan dan kiri rute jalan, memang seperti disiapkan untuk bermalam. Tanah yang landai cukup luas dan tanah landai tersebut seakan dipayungi pohon berkayu tua yang masih kokoh berdiri. &#xA;&#xA;“Reiner dan Berthold bisa dirikan tenda yang terbesar. Eren dan Floch bisa dirikan tenda yang kecil. Historia dan Pieck bisa persiapan untuk masak. Saya akan survey dulu sekeliling pos lima ini.” Levi memberi perintah untuk semuanya dan secara serempak mereka mulai melakukan tugasnya. Tidak ada kesulitan yang berarti. &#xA;&#xA;Tenda yang besar mereka bangun berhadapan dengan tenda yang kecil dengan jarak yang dekat. Tenda besar diperuntukkan untuk tempat istirahat laki-laki sedangkan tenda kecil digunakan untuk tidur perempuan. Kedua tenda itu, memiliki dua lapisan, sebelum tepat masuk ke pintu tenda, terdapat flysheet yang melindunginya sehingga di dalam tenda suhu udaranya tidak terlalu ekstrem dibandingkan di luar tenda. &#xA;&#xA;Pieck dan Historia pun mulai memasak makanan, makanan yang mereka masak kali ini adalah nasi dengan mi rebus dan juga sosis serta telur. Keempat pria yang telah selesai membangun tenda pun menghampiri Pieck dan Historia lalu membantu mereka memasak. Tidak berselang lama Levi kembali dengan raut datar dan lebih kaku dari biasanya. Eren mengamati rahang pria itu tampak mengeras dan rautnya seakan memikirkan sesuatu. Levi hanya memperhatikan mereka sekilas dari jauh lalu duduk di atas batu yang cukup besar. Pandangannya kemudian ia alihkan tidak menatap rekannya, tetapi menatap sekelilingnya. &#xA;Bau mie instan rebus rasa soto yang wangi mulai tercium. Masakan mereka satu persatu telah matang. Selanjutnya, Pieck menatanya dengan rapi di atas mangkok dan piring. Setelah masakan sudah siap semuanya, Eren berinisiatif menghampiri Levi dan mengajaknya untuk segera makan bersama.&#xA;&#xA;“Pak Levi, makannya sudah siap.” Levi menoleh dengan cepat sesaat telinganya mendengar suara Eren. Pandangannya terlihat frustrasi saat manik hitam itu menatap manik hijau cerah. Keduanya seakan tenggelam dalam suasanya yang abu-abu, penuh rasa yang terlalu bercampur menyesakkan. Terlihat pandangan Levi mulai khawatir, takut. Eren seakan bisa menerima semua itu, ia mengerti. Eren paham kalau pria ini memang benar-benar ada rasa tulus untuk dirinya. Sesuai perasaannya yang ia telah sampaikan ke Zeke waktu itu, terlihat Levi sangat mengkhawatirkannya apalagi setelah kejadian ia sempat tersesat tadi. Walau Eren juga merasa heran, Levi yang ia kenal selama ini kaku dan kuat mental, menunjukkan sisi yang lain pada dirinya saat ini. Sesaat kemudian Levi memutus pandangan mereka. &#xA;&#xA;“Oh ya, ayo makan,” balasnya singkat. Ia kemudian berjalan mendahului Eren. &#xA;&#xA;Mereka akhirnya makan bersama, dengan satu sama lain yang menceritakan pengalaman mereka saat bekerja atau kuliah. Sama sekali tidak ada yang menanyai Eren mengenai kejadian tersesat yang dialaminya. Terasa mereka pun sangat berhati-hati untuk tidak menyenggol Eren untuk bercerita. Eren pun tidak masalah, ia bahkan merasa tenang karena jujur saja apabila ditanyai, kemungkinan dirinya untuk mengungkapkan hal yang dirasa janggal akan semakin besar. &#xA;&#xA;                                                      &#xA;&#xA;Hari telah berganti, regu Reksa saat ini sedang bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Tidak ada kejadian yang berarti, malam kemarin karena hujan deras yang mengguyur membuat mereka beristirahat dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi mereka sudah sarapan dan tinggal berjalan ke puncak. Perjalanan mereka tidak berniat untuk menaklukkan titik tertinggi dari gunung ini. Namun, hanya sebatas bisa melihat patokan batu yang sangat besar yang bisa terlihat dari titik yang tinggi. Batu besar itu akan digunakan sebagai penunjuk untuk mengambil jalan menuju ke tempat di mana pendaki yang tersesat sempat menemukan keberadaan bunga Reksa itu. Semua anggota membawa tas kecil seperlunya, dengan logistik yang cukup. Mereka hanya sebentar menuju puncak dan harus kembali lagi ke pos lima. Tenda masih dibiarkan berdiri. &#xA;&#xA;Batas vegetasi mulai tampak, hingga ke atas hanya terlihat pasir dan kerikil, terjal sehingga mereka harus berhati-hati dalam melangkah. Kemiringan gunung cukup curam jika hilang keseimbangan sekilas saja, nyawa akan jadi taruhan. Berthold, Reiner, dan Floch melakukan tugasnya, mereka memberi tanda dengan memanjat pohon dan mengalungkan bendera besar. Tujuannya nanti agar saat pulang, turun dari puncak, mereka mengambil jalan yang benar. Bergeser sedikit saja dalam pengambilan jalan, akan merepotkan karena semakin ke bawah lingkar gunung semakin lebar sehingga memungkinkan mereka memasuki pintu hutan yang salah. Bukan tepat di jalur pendakian. &#xA;&#xA;Mereka mulai menaiki puncak, seketika merasa cukup tinggi dan mendapat sedikit area landau di sana. Reiner langsung mengambil alih komando. &#xA;&#xA;“Berhenti, kita akan coba liat batu itu dari sini.” Perintah Reiner dibalas anggukan dan mereka pun mengikuti. &#xA;Floch dan Berthold telah mengeluarkan teropongnya. Mencoba mencari batu besar itu. &#xA;&#xA;“Floch, ketemu batunya?” Floch hanya menggeleng. &#xA;&#xA;Reiner kemudian mengeluarkan teropongnya. Mengatur alat optik itu agar mampu melihat batu yang dicari-cari. &#xA;&#xA;“Batunya kira-kira di mana? Gue lupa, Rei.” &#xA;&#xA;Reiner berhenti mengamati teropongnya, menengok ke arah Floch. “Seinget gue, di sekitar pos empat dan lima.” &#xA;&#xA;“Berarti gue cari pohon tua itu ya, yang mayungin tenda kita.” Floch membalasnya dengan cepat. &#xA;&#xA;“Nah bener. Estimasi dari sini ke tenda kita satu kilo kurang kayanya. Zoom yang bener.” Reiner menyuruh Floch. Saat ketiga orang tersebut asik melakukan kegiatannya. Anggota tim yang lain hanya diam dan memandang hutan di bawah sana. Memang sangat rimbun. Untuk mereka memang ini gunung masih sangat asri sehingga biodiversitas di dalamnya pun sangat beragam dan kuat. &#xA;&#xA;“Ketemu!” Seruan Berthold mengagetkan semuanya. &#xA;&#xA;“Mana Berth. Gue belum nemuin,” ucap Reiner dan Floch hampir bersamaan. &#xA;&#xA;“Cari pohon yang mayungin tenda, terus zoom lagi sedikit. Geser teropong kalian, sekitar tujuh derajat ke kanan. Ada putih keabuan gede banget, batu kan itu?”&#xA;&#xA;“Bentar Berth. Gue cari dulu.” &#xA;&#xA;“Gue juga udah nemu. Fix itu pasti batunya.” &#xA;&#xA;“Oh bener, gue juga nemu. Cukup deket sama pos lima kita.” &#xA;&#xA;“Sudah nemu patokannya?” tanya Levi setelah mendengar diskusi mereka. &#xA;“Sudah, Pak. Selanjutnya bagaimana?” &#xA;&#xA;“Kamu ambil alih dahulu baiknya bagaimana, atau ada saran silakan diutarakan saja.” &#xA;&#xA;“Mungkin, kita langsung turun saja. Kembali ke pos lima, diskusi di sana, baru kita sampai di batunya mencari tanaman itu.”&#xA;&#xA;“Oke, ide yang bagus.” Levi pun menuruti ide yang disampaikan Reiner sebelumnya. Mereka pun kembali turun dengan hati-hati. Ada Reiner, Berthold, dan Floch terasa sangat membantu perjalanan mereka. Ketiga orang itu memang sangat kompeten di bidang seperti ini. Floch yang memimpin perjalanan turun pun tidak ada kesulitan yang berarti. Ia berhasil membawa timnya ke jalan pendakian yang benar. Mereka kemudian melepas bendera sebagai patokan yang dipasang ke pohon besar tadi. &#xA;&#xA;                                                 &#xA;&#xA;“Untuk timnya bagi dua saja Pak. Ada yang ke tenggara dan barat laut. Karena seingat saya juga pendaki itu menemukan tanaman tersebut di atas dari batu arah barat laut dan bawah arah tenggara.” &#xA;&#xA;“Boleh saja seperti itu. Pembagian tim bagaimana? Kalau misal ditimbang dari aspek kalian. Menurut kalian, baiknya bagaimana?” &#xA;&#xA;Reiner kembali menjelaskan. “Mungkin seperti ini saja Pak. Di tim ini, utamanya adalah Pak Levi dan Eren yang memang kompeten di kultur jaringan. Paling tidak satu tim ada Eren dan tim lain ada Pak Levi sendiri. Lalu Historia dan Pieck juga akan dipisah tentunya.” &#xA;&#xA;Eren melihat itu, perubahan secuil dari ekspresi Levi.&#xA;&#xA;“Lanjutkan,” balas Levi. &#xA;&#xA;“Katakanlah tim satu, ada saya, Porco, Pieck, dan Eren. Lalu, ada tim dua ada Floch, Pak Levi, Historia, dan Berthold. Begitu Pak, bagaimana?”&#xA;&#xA;Levi terlihat berpikir sebentar. Eren memperhatikan raut semuanya, tampak setuju. Dirinya pun juga, terlepas dari memang keinginannya agar satu tim bersama Levi. Namun, paling tidak saran Reiner sangatlah logis.&#xA; &#xA;“Baik, saya setuju. Kita akan berangkat satu jam lagi, bagaimana?” &#xA;&#xA;“Boleh Pak. Sekarang juga baru jam 10.”&#xA;&#xA;“Tenda dibiarkan saja, Pak Levi?” &#xA;&#xA;“Biarkan saja, estimasinya cukup dekat kan jarak tanaman itu dari batu dan dari tenda kita? Kita bawa carrier yang kecil, isi dengan logistik pastikan jumlahnya dilonggarkan untuk jaga-jaga.”&#xA;&#xA;“Baik Pak.” &#xA;&#xA;Mereka pun istirahat, hanya bercengkerama dan duduk atau tidur sebentar di tenda untuk kembali mengisi tenaga mereka. &#xA;&#xA;“Eren bisa bicara sebentar?&#34; &#xA;&#xA;“Baik, Pak Levi.”&#xA;&#xA;                                                         &#xA;&#xA;Mereka telah sampai di patokan batu besar itu. Tim Eren bergerak menuju ke barat laut dan tim Levi bergerak ke arah tenggara. Reiner sebagai ketua tim satu sekaligus navigator dan untuk tim dua, Floch sebagai navigator dan Levi sebagai ketua tim. Mereka pun kemudian berpisah dan berjanji untuk kembali lagi ke batu ini setelah menemukan tanaman itu atau setelah tiga jam kemudian dengan tangan kosong. &#xA;&#xA;Tim Eren bergerak ke arah barat laut, dengan urutan formasi Reiner, Eren, Pieck, dan Porco. Mereka berjalan sambil memberi tanda berupa pita warna pink ke dahan pohon. Mereka terus berjalan dengan hati-hati. Ilalang tinggi menjadi hambatan mereka. Terasa beberapa duri turut menusuk dan lolos dari fabrik celana yang mereka pakai. Reiner sangat bekerja keras untuk ini, ia membuka jalan dengan memotong ilalang-ilalang dengan pisau seadanya. Eren turut membantu memotong ilalang di samping kanan dan kirinya. &#xA;&#xA;Mereka sudah berjalan dan memutari area itu cukup lama. Hingga tercium wangi, wangi seperti campuran bunga melati dan mawar putih serta vanilla yang amat kuat. Reiner dan semuanya mengendus wangi itu, berjalan berhati-hati hingga ia membuka pintu ilalang dan nampak suatu daerah pekarangan penuh bunga. Di belakangnya terlihat Eren, Pieck, dan Porco yang menganga takjub. &#xA;&#xA;“Reiner, ini bunganya kan?” Eren bergerak gelisah, tangannya dengan cepat membuka tas nya mencari handphone nya. Mencocokan gambar di ponselnya dengan bunga yang terlihat di depannya saat ini. Gambar yang sempat diambil langsung oleh si pendaki tersesat itu. &#xA;&#xA;“100 persen ini Ren valid, mirip banget.” &#xA;&#xA;“Porco, Pieck woi.” Reiner menyadarkan keduanya yang masih asik pandangi bunga-bunga itu. &#xA;&#xA;“Hah, ya?” Kedua orang itu pun mendekati mereka. Melihat ponsel Eren yang ditunjukkan kepadanya kemudian beralih mengamati bunga yang asli itu lagi.&#xA;&#xA;“Fix bener ini sih. Persis banget.” Ucapan Porco disambut anggukan antusias dari Pieck. &#xA;&#xA;Pieck masih takjub seakan ia berada di alam lain. Bunga ini sangat banyak jumlahnya, bahkan sejauh mata menandang sampai ujung sana, bunga ini seakan tan terhingga. Tak pantas dikategorikan sebagai tanaman langka. Dirinya yang menyukai bunga harusnya cukup skeptis menemukan taman seperti ini di tengah-tengah hutan hujan tropis. Akan tetapi, jiwanya seakan tersedot hanya untuk memandang kemolekan mahkota dan wangi memabukkan dari kumpulan bunga Reksa yang sedang mekar. Bunga ini jika di ekstrak pasti akan menghasilkan wangi yang berkualitas dan bisa menjadi bahan baku utama parfum kelas dunia. Sebersit nafsu duniawi berhasil mengambil pikirannya secara singkat. &#xA;&#xA;“Ayo Eren cepat lakuin tugas lo. Biar cepet balik.” Reiner berkata dan Eren mengangguk. Ia mencari tempat sedikit lapang dan terbuka.&#xA;&#xA; Eren mengeluarkan tas kecil yang ada di dalam carrier kecil miliknya. Skalpel, alkohol, spiritus, aquades, cawan petri, dan talenan mini ia keluarkan. Beserta wadah yang telah berisi agar bernutrisi sebagai media kulturnya. Dengan telaten ia mencuci tangan dengan antiseptik, kemudian mencuci semua peralatan dengan alkohol dan meletakannya di wadah steril. Ia kemudian memetik bunga yang masih kuncup itu. Setelahnya, mencopoti kelopak bunga, dan ia isolasi bagian anternya. &#xA;&#xA;Bagian eksplan akan disterilisasi kemudian akan ia masukkan ke media agarnya. Selain anternya, Eren juga memetik bagian daun dari tanaman Reksa. Ia lakukan hal yang sama, mempersiapkan daun tersebut kemudian eksplan daun berukuran satu centimeter persegi ia inokulasikan ke dalam botol yang lain dengan media agar yang sudah disiapkan. Ia kemudian menutup botolnya dan memasukkan ke kotak yang suhu dan cahaya di dalamnya bisa diatur sebagai manipulasi tempat tumbuh, supaya eksplan tersebut cepat tumbuh kalus atau jaringan muda.&#xA;&#xA;Untuk mengantisipasi jika ada kontaminasi saat melakukan kegiatan kulturnya. Eren juga memetik beberapa bunga Reksa kemudian ia serahkan kepada Pieck dan Porco agar bunga tersebut ditangani sehingga bisa tahan dan tidak busuk sampai mereka ke lab untuk melakukan tahapan yang lebih sesuai prosedur. &#xA;&#xA;“Akh,” teriakan Porco menghentikan kegiatan Eren yang sedang membereskan barang-barangnya.&#xA;&#xA;“Kenapa?” tanyanya bersamaan dengan Reiner yang turut menghampiri Porco. &#xA;&#xA;“Kena formalin kakinya.” Pieck yang mewakili untuk memberitahu keadaan Porco yang masih kesakitan. Mereka pun segera melakukan pertolongan pertama. Setelah dirasa cukup membaik, mereka berempat kemudian bergerak untuk balik ke batu itu. Porco yang agak kesulitan dalam berjalan, mau tidak mau harus ada yang membantunya. Porco tak bisa berjalan paling belakang sebagai sweeper. Oleh karena itu, keputusan paling logis yang bisa mereka dapat adalah Eren yang berjalan paling belakang. Dengan demikian formasi jalan mereka ialah Reiner, Porco dan Pieck, terakhir Eren. Porco akan dipapah oleh Pieck agar lebih memudahkannya dalam berjalan. &#xA;&#xA;“Gimana Eren, mampu jadi sweeper?” Eren awalnya ragu, karena ia akan mengikari janjinya pada Levi tadi. Levi telah menitip pesan agar selalu fokus dan jangan berjalan paling belakang apa pun yang terjadi. Tapi di tengah kondisi seperti ini, sangat tidak memungkinkan untuknya egois bukan? Jika ia yang berjalan paling depan, akan menyulitkan jika ia tidak benar dalam mengambil arah, bisa-bisa tersesat dan Porco akan lebih kesakitan. Paling tidak, ia harus ke pos lima dahulu untuk beristirahat. &#xA;&#xA;“Oke, bukan masalah.” Mereka pun kembali berjalan menuju ke titik batu besar sebagai patokan. Sejauh Reiner memandang setelah beberapa menit berjalan, ia melihat patokan batu besar itu, dengan tim dua yang sudah berkumpul di sana sedang duduk sambil memakan logistiknya. Memang sudah lebih dari tiga jam berlalu tepatnya hampir lima jam. Muka Reiner pun sumringrah. Ia yang sampai segera menunjukkan kesenangannya dan memberitahu kalau mereka berhasil mendapatkan apa yang dicari. Semua yang mendengar pun lega dan turut bergembira. Tak terkecuali Levi. &#xA;Setelah Reiner sampai, ekspektasi yang Levi dapat adalah menemukan Eren segera. Namun, lima menit kemudian, ia malah temukan Porco yang sedang berjalan dipapah oleh Pieck. &#xA;&#xA;“Eren di mana Reiner?” Levi bertanya cepat setelah melihat bukan Eren yang berjalan setelah Reiner.&#xA; &#xA;“Eren berjalan paling belakang. Porco, tadi, ia ada insiden jadi mau tidak mau Eren yang di belakang.” Levi sedikit menggeram marah. Ia berusaha untuk menahannya. Mencoba tetap berpegang teguh, Eren akan terlihat di matanya sebentar lagi. &#xA;&#xA;Lima menit setelah sampainya Porco dan Pieck batang hidung orang yang disukainya belum tampak juga.&#xA;&#xA;Sepuluh menit menunggu dan masih sama. &#xA;&#xA;Tiga puluh menit berlalu, wajahnya sudah tidak tenang. Eren belum terlihat di matanya. Jika dilogika bukankah harusnya jarak Eren dengan Porco dekat? Apalagi dengan keadaan Porco yang sulit berjalan. Harusnya jarak dengan Eren yang berjalan normal pun dekat bukan? Hatinya khawatir lagi setengah mati setelah kejadian Eren tersesat dan kejadian carrier nya itu kembali datang ke pikirannya. Fakta bahwa saat ini pun mereka berada di luar jalur pendakian kemungkinan Eren tersesat menjauhi jalur semakin besar. Bagaimana jika Eren tersesat makin ke dalam hutan rimba sana.&#xA;&#xA;Situasi kalut memenuhi hatinya, tak bisa menahan amarah kepada Reiner yang dimatanya tidak memperhatikan keselamatan Eren, hingga akhirnya Levi membentak dan mencengkeram kerah baju Reiner.&#xA;&#xA;“Eren ada di mana, Reiner?!” &#xA;&#xA;                                                         &#xA;                        *&#xA;&#xA;  PS. Bagian bertanda bintang tiga, ngawur, demi plot cerita, tapi tahapannya kurang lebih begitu. Cuma kalau yang dilakuin Eren fix pasti gagal kena kontaminasi, lingkungannya aja ngawur begitu. Paling bener emang di laboratorium, pakai laminar air flow pas sterilisasi dan inokulasi eksplannya.  &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Tolong kalau mampu jangan protes. Percaya saya, percaya insting saya. Kita akan beristirahat di pos lima saja.” Mereka semua mengangguk, tanpa banyak tanya. Semuanya seakan mengerti maksud Levi, tak lain dan tak bukan karena kejadian yang tadi menimpa Eren.
                                                         ***</p>

<p><strong>Babak dua (2/3)</strong></p>

<p>Waspada. Semua anggota sangat berhati-hati. Perjalanan menuju pos lima semakin sulit, rute pendakian pun semakin sempit dengan vegetasi-vegetasi yang semakin rimbun. Jurang lebih sering terlihat di pelupuk mata, terasa sangat curam dan menyesakkan diri. Mereka berjalan tidak terlalu jauh antar satu sama lain. Seperti yang telah diperintahkan oleh Levi sebelumnya, formasi mereka berubah sehingga urutan mereka dari depan ialah Floch, Levi, Eren, Historia, Pieck, Porco, Reiner, dan Berthold.</p>

 

<p>Matahari terasa bersinar semakin panas dan cuaca saat siang tidak mendung sama sekali. Waktu sudah hampir pukul 12 siang, setengah hari tersisa sebelum malam menjelang dan mereka masih jauh dari puncak. Perjalanan kali ini terasa biasa saja bagi Eren. Dia pun berjalan dengan santai, tetapi anehnya langkahnya saat ini terasa sangat ringan sangat berbeda sekali dibandingkan tadi. Ia seperti tidak merasa membawa beban di punggungnya. Ia berjalan dan terus berjalan tanpa ada masalah yang berarti. Tak beberapa lama, dirinya merasa sering tersandung sedikit. Merasa tidak nyaman, ia melongok ke bawah dan melihat ternyata tali sepatunya sedikit melonggar. Ia pun dengan cepat memperbaikinya dan memasukkan tali yang tersisa ke dalam sepatu. Sedikit lega, mendapati jejak sepatu gunung milik Levi masih tercetak jelas di tanah, dengan Levi yang masih terlihat di depan mata meskipun agak jauh. Ia pun mengikuti jejak itu tanpa ragu. Namun, entah mengapa, rute pendakian yang dirasakannya semakin menyempit dan vegetasi pun semakin tinggi.</p>

<p>“Benar kan ini, jalannya?” monolognya pada diri sendiri. Jejak langkah Levi tiba-tiba saja terputus menghilang di ilalang-ilalang tinggi hampir setinggi lutunya. Eren berhenti, ia ragu, sekitar dirinya berdiri pun semakin tertutupi tanaman tinggi, logikanya berkata ada yang tidak beres. Pikiran Levi yang menghilang, siapakah orang itu yang tampak mirip Levi merangsuk membuat semakin was-was. Merasa terdesak oleh lingkungan yang sangat penuh dengan hehijauan membuat perasaannya menajam. Semua suara lirih pun mampu didengarnya dan meninggalkan kesan ngeri yang makin terakumulasi.</p>

<p>Dengan otak yang dingin, ia mencoba tenang dan memutuskan untuk menunggu selama sepuluh menit berharap akan bertemu rombongan setelahnya, paling tidak Historia. Seingatnya tadi, jarak antar dirinya dan Historia juga tidak terlalu jauh. Menit berganti menit, tanda-tanda rekan timnya datang masih tidak terasa juga. Tidak menyangkal, rasa takut semakin intens dirasakannya. Sendirian di hutan yang ia tidak tahu letaknya dimana. Pohon besar terasa sangat mendominasi disertai angin lirih yang membunyikan rumput-rumput yang saling bergerak secara harmoni, membentuk bunyi-bunyi menyeramkan untuknya. Bulu kuduknya semakin berdiri.</p>

<p>Sepuluh menit berlalu terasa dengan sangat lama hanya untuk menunggu teman-temannya, sambil kembali lagi menyugesti diri sendiri agar tetap berpikiran positif. Eren akhirnya memutuskan untuk kembali ke arah ia datang tadi. Ia merasa ia telah benar-benar tersesat. Eren membuka peta dan mengeluarkan kompasnya lalu mengingat-ingat ke arah mana ia melangkah. Langkah demi langkah ia ambil penuh perhitungan. Rasa takut ia enyahkan karena keingingan untuk bertahan dan kembali kepada teman-temannya jauh lebih besar. Kembali melirik pergelangan tangan kirinya. Jam di tangan mengatakan sudah sekitar dua puluh menit ia tersesat dan terpisah dari rombongan. Sekitar sepuluh menit selanjutnya, ia terus berjalan mencari petunjuk.</p>

<p>Secercah harapan menguak ke dalam diri ketika melihat jalanan yang cukup lebar dan seakan baru dilalui, ia berjalan cepat dan berharap. Kembali berjalan dan berjalan hingga akhirnya terlihat di kedua matanya dari kejauhan, teman-temannya itu yang sedang duduk berkumpul dan berdiskusi secara intens. Lambat laun suara rekan-rekannya terdengar di telinganya. Ia sedikit merasa lega. Eren pun kemudian mempercepat jalannya. Ia datang dengan terengah-tengah dan orang yang pertama kali bersitatap dengannya ialah Levi.</p>

<p>“Eren?!” Levi pun yang menyadari presensi Eren langsung berdiri dan menghampirinya dengan cepat diikuti dengan yang lainnya. Raut wajahnya jelas sangat khawatir.</p>

<p>“Syukurlah, Eren. Ya Tuhan,” Historia berkata dan raut nya jelas sangat lega mendapati Eren kembali lagi. Terlebih dengan Berthold, Reiner, dan Floch yang juga sangat kentara menghela napasnya dan raut khawatirnya menguap hilang seketika.</p>

<p>“Jangan pernah berani menghilang lagi Eren. Sumpah, aku takut setengah mati. Syukurlah, syukurlah.” Suara teramat lirih menyapa indera auditorinya. Membuat Eren sedikit tergugu. Kedua tangan Levi dirasakannya mencengkram kuat bahunya dan Levi menunduk dalam hingga helai rambut pendeknya jatuh menutupi seluruh wajahnya.</p>

<p>“Maaf, tadi sempat tersesat. Teledor, tidak memperhatikan jalan.” Eren berkata dengan hati-hati, memberi penjelasan kepada yang lain sambil dirinya menatap rekan yang berada tepat di belakang Levi satu persatu.</p>

<p>“Syukurlah, Ren kita khawatir banget. Lima jam kita cari-cari dan nunggu lo.” Porco membuka suaranya seraya menatap Eren sama leganya seperti yang lain. Kemudian Levi segera melepas cengkeraman di bahunya dan berjalan menjauh membelakanginya.</p>

<p>Apa katanya? Lima jam? Lidahnya tiba-tiba kelu dan otaknya kesulitan mencerna omongan Porco yang seperti omong kosong. Segera saja ia mengecek jam tangannya, dan ternyata benar. Jarum jam pendek sudah tiba-tiba saja menunjuk ke angka empat. Jam empat sore? Dia merasa tidak berjalan selama itu? Dia tersesat hanya sekitar setengah jam? Tidak sampai satu jam. Fenomena apa ini. Ia tidak berani mengungkapkan hal ini, takutnya lebih membuat gaduh.</p>

<p><em>Shit</em> umpatnya dalam hati. Kejadian <em>carrier</em>, kejadian tersesat membuat mentalnya mulai mengerut. Seakan tanpa henti kesialan terus menarget dirinya. Apa sebabnya? Yang bisa Eren lakukan adalah memendamnya dan melupakan kejadian ini begitu saja untuk sementara waktu.</p>

<p>“Ayo jalan, sampai di pos lima. Kita akan bermalam di sana.” Suara Levi kembali menyapa pendengarannya. Mereka semua pun mengangguk dan kembali berjalan. Dengan jarak yang sangat rapat bahkan hanya satu meter. Pos lima tidak terlalu jauh dari titik mereka mulai berjalan lagi.
Rupa pos ini cukup lapang di sisi kanan dan kiri rute jalan, memang seperti disiapkan untuk bermalam. Tanah yang landai cukup luas dan tanah landai tersebut seakan dipayungi pohon berkayu tua yang masih kokoh berdiri.</p>

<p>“Reiner dan Berthold bisa dirikan tenda yang terbesar. Eren dan Floch bisa dirikan tenda yang kecil. Historia dan Pieck bisa persiapan untuk masak. Saya akan survey dulu sekeliling pos lima ini.” Levi memberi perintah untuk semuanya dan secara serempak mereka mulai melakukan tugasnya. Tidak ada kesulitan yang berarti.</p>

<p>Tenda yang besar mereka bangun berhadapan dengan tenda yang kecil dengan jarak yang dekat. Tenda besar diperuntukkan untuk tempat istirahat laki-laki sedangkan tenda kecil digunakan untuk tidur perempuan. Kedua tenda itu, memiliki dua lapisan, sebelum tepat masuk ke pintu tenda, terdapat <em>flysheet</em> yang melindunginya sehingga di dalam tenda suhu udaranya tidak terlalu ekstrem dibandingkan di luar tenda.</p>

<p>Pieck dan Historia pun mulai memasak makanan, makanan yang mereka masak kali ini adalah nasi dengan mi rebus dan juga sosis serta telur. Keempat pria yang telah selesai membangun tenda pun menghampiri Pieck dan Historia lalu membantu mereka memasak. Tidak berselang lama Levi kembali dengan raut datar dan lebih kaku dari biasanya. Eren mengamati rahang pria itu tampak mengeras dan rautnya seakan memikirkan sesuatu. Levi hanya memperhatikan mereka sekilas dari jauh lalu duduk di atas batu yang cukup besar. Pandangannya kemudian ia alihkan tidak menatap rekannya, tetapi menatap sekelilingnya.
Bau mie instan rebus rasa soto yang wangi mulai tercium. Masakan mereka satu persatu telah matang. Selanjutnya, Pieck menatanya dengan rapi di atas mangkok dan piring. Setelah masakan sudah siap semuanya, Eren berinisiatif menghampiri Levi dan mengajaknya untuk segera makan bersama.</p>

<p>“Pak Levi, makannya sudah siap.” Levi menoleh dengan cepat sesaat telinganya mendengar suara Eren. Pandangannya terlihat frustrasi saat manik hitam itu menatap manik hijau cerah. Keduanya seakan tenggelam dalam suasanya yang abu-abu, penuh rasa yang terlalu bercampur menyesakkan. Terlihat pandangan Levi mulai khawatir, takut. Eren seakan bisa menerima semua itu, ia mengerti. Eren paham kalau pria ini memang benar-benar ada rasa tulus untuk dirinya. Sesuai perasaannya yang ia telah sampaikan ke Zeke waktu itu, terlihat Levi sangat mengkhawatirkannya apalagi setelah kejadian ia sempat tersesat tadi. Walau Eren juga merasa heran, Levi yang ia kenal selama ini kaku dan kuat mental, menunjukkan sisi yang lain pada dirinya saat ini. Sesaat kemudian Levi memutus pandangan mereka.</p>

<p>“Oh ya, ayo makan,” balasnya singkat. Ia kemudian berjalan mendahului Eren.</p>

<p>Mereka akhirnya makan bersama, dengan satu sama lain yang menceritakan pengalaman mereka saat bekerja atau kuliah. Sama sekali tidak ada yang menanyai Eren mengenai kejadian tersesat yang dialaminya. Terasa mereka pun sangat berhati-hati untuk tidak menyenggol Eren untuk bercerita. Eren pun tidak masalah, ia bahkan merasa tenang karena jujur saja apabila ditanyai, kemungkinan dirinya untuk mengungkapkan hal yang dirasa janggal akan semakin besar.</p>

<p>                                                      ***</p>

<p>Hari telah berganti, regu Reksa saat ini sedang bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Tidak ada kejadian yang berarti, malam kemarin karena hujan deras yang mengguyur membuat mereka beristirahat dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi mereka sudah sarapan dan tinggal berjalan ke puncak. Perjalanan mereka tidak berniat untuk menaklukkan titik tertinggi dari gunung ini. Namun, hanya sebatas bisa melihat patokan batu yang sangat besar yang bisa terlihat dari titik yang tinggi. Batu besar itu akan digunakan sebagai penunjuk untuk mengambil jalan menuju ke tempat di mana pendaki yang tersesat sempat menemukan keberadaan bunga Reksa itu. Semua anggota membawa tas kecil seperlunya, dengan logistik yang cukup. Mereka hanya sebentar menuju puncak dan harus kembali lagi ke pos lima. Tenda masih dibiarkan berdiri.</p>

<p>Batas vegetasi mulai tampak, hingga ke atas hanya terlihat pasir dan kerikil, terjal sehingga mereka harus berhati-hati dalam melangkah. Kemiringan gunung cukup curam jika hilang keseimbangan sekilas saja, nyawa akan jadi taruhan. Berthold, Reiner, dan Floch melakukan tugasnya, mereka memberi tanda dengan memanjat pohon dan mengalungkan bendera besar. Tujuannya nanti agar saat pulang, turun dari puncak, mereka mengambil jalan yang benar. Bergeser sedikit saja dalam pengambilan jalan, akan merepotkan karena semakin ke bawah lingkar gunung semakin lebar sehingga memungkinkan mereka memasuki pintu hutan yang salah. Bukan tepat di jalur pendakian.</p>

<p>Mereka mulai menaiki puncak, seketika merasa cukup tinggi dan mendapat sedikit area landau di sana. Reiner langsung mengambil alih komando.</p>

<p>“Berhenti, kita akan coba liat batu itu dari sini.” Perintah Reiner dibalas anggukan dan mereka pun mengikuti.
Floch dan Berthold telah mengeluarkan teropongnya. Mencoba mencari batu besar itu.</p>

<p>“Floch, ketemu batunya?” Floch hanya menggeleng.</p>

<p>Reiner kemudian mengeluarkan teropongnya. Mengatur alat optik itu agar mampu melihat batu yang dicari-cari.</p>

<p>“Batunya kira-kira di mana? Gue lupa, Rei.”</p>

<p>Reiner berhenti mengamati teropongnya, menengok ke arah Floch. “Seinget gue, di sekitar pos empat dan lima.”</p>

<p>“Berarti gue cari pohon tua itu ya, yang mayungin tenda kita.” Floch membalasnya dengan cepat.</p>

<p>“Nah bener. Estimasi dari sini ke tenda kita satu kilo kurang kayanya. Zoom yang bener.” Reiner menyuruh Floch. Saat ketiga orang tersebut asik melakukan kegiatannya. Anggota tim yang lain hanya diam dan memandang hutan di bawah sana. Memang sangat rimbun. Untuk mereka memang ini gunung masih sangat asri sehingga biodiversitas di dalamnya pun sangat beragam dan kuat.</p>

<p>“Ketemu!” Seruan Berthold mengagetkan semuanya.</p>

<p>“Mana Berth. Gue belum nemuin,” ucap Reiner dan Floch hampir bersamaan.</p>

<p>“Cari pohon yang mayungin tenda, terus zoom lagi sedikit. Geser teropong kalian, sekitar tujuh derajat ke kanan. Ada putih keabuan gede banget, batu kan itu?”</p>

<p>“Bentar Berth. Gue cari dulu.”</p>

<p>“Gue juga udah nemu. Fix itu pasti batunya.”</p>

<p>“Oh bener, gue juga nemu. Cukup deket sama pos lima kita.”</p>

<p>“Sudah nemu patokannya?” tanya Levi setelah mendengar diskusi mereka.
“Sudah, Pak. Selanjutnya bagaimana?”</p>

<p>“Kamu ambil alih dahulu baiknya bagaimana, atau ada saran silakan diutarakan saja.”</p>

<p>“Mungkin, kita langsung turun saja. Kembali ke pos lima, diskusi di sana, baru kita sampai di batunya mencari tanaman itu.”</p>

<p>“Oke, ide yang bagus.” Levi pun menuruti ide yang disampaikan Reiner sebelumnya. Mereka pun kembali turun dengan hati-hati. Ada Reiner, Berthold, dan Floch terasa sangat membantu perjalanan mereka. Ketiga orang itu memang sangat kompeten di bidang seperti ini. Floch yang memimpin perjalanan turun pun tidak ada kesulitan yang berarti. Ia berhasil membawa timnya ke jalan pendakian yang benar. Mereka kemudian melepas bendera sebagai patokan yang dipasang ke pohon besar tadi.</p>

<p>                                                 ***</p>

<p>“Untuk timnya bagi dua saja Pak. Ada yang ke tenggara dan barat laut. Karena seingat saya juga pendaki itu menemukan tanaman tersebut di atas dari batu arah barat laut dan bawah arah tenggara.”</p>

<p>“Boleh saja seperti itu. Pembagian tim bagaimana? Kalau misal ditimbang dari aspek kalian. Menurut kalian, baiknya bagaimana?”</p>

<p>Reiner kembali menjelaskan. “Mungkin seperti ini saja Pak. Di tim ini, utamanya adalah Pak Levi dan Eren yang memang kompeten di kultur jaringan. Paling tidak satu tim ada Eren dan tim lain ada Pak Levi sendiri. Lalu Historia dan Pieck juga akan dipisah tentunya.”</p>

<p>Eren melihat itu, perubahan secuil dari ekspresi Levi.</p>

<p>“Lanjutkan,” balas Levi.</p>

<p>“Katakanlah tim satu, ada saya, Porco, Pieck, dan Eren. Lalu, ada tim dua ada Floch, Pak Levi, Historia, dan Berthold. Begitu Pak, bagaimana?”</p>

<p>Levi terlihat berpikir sebentar. Eren memperhatikan raut semuanya, tampak setuju. Dirinya pun juga, terlepas dari memang keinginannya agar satu tim bersama Levi. Namun, paling tidak saran Reiner sangatlah logis.</p>

<p>“Baik, saya setuju. Kita akan berangkat satu jam lagi, bagaimana?”</p>

<p>“Boleh Pak. Sekarang juga baru jam 10.”</p>

<p>“Tenda dibiarkan saja, Pak Levi?”</p>

<p>“Biarkan saja, estimasinya cukup dekat kan jarak tanaman itu dari batu dan dari tenda kita? Kita bawa <em>carrier</em> yang kecil, isi dengan logistik pastikan jumlahnya dilonggarkan untuk jaga-jaga.”</p>

<p>“Baik Pak.”</p>

<p>Mereka pun istirahat, hanya bercengkerama dan duduk atau tidur sebentar di tenda untuk kembali mengisi tenaga mereka.</p>

<p>“Eren bisa bicara sebentar?”</p>

<p>“Baik, Pak Levi.”</p>

<p>                                                         ***</p>

<p>Mereka telah sampai di patokan batu besar itu. Tim Eren bergerak menuju ke barat laut dan tim Levi bergerak ke arah tenggara. Reiner sebagai ketua tim satu sekaligus navigator dan untuk tim dua, Floch sebagai navigator dan Levi sebagai ketua tim. Mereka pun kemudian berpisah dan berjanji untuk kembali lagi ke batu ini setelah menemukan tanaman itu atau setelah tiga jam kemudian dengan tangan kosong.</p>

<p>Tim Eren bergerak ke arah barat laut, dengan urutan formasi Reiner, Eren, Pieck, dan Porco. Mereka berjalan sambil memberi tanda berupa pita warna pink ke dahan pohon. Mereka terus berjalan dengan hati-hati. Ilalang tinggi menjadi hambatan mereka. Terasa beberapa duri turut menusuk dan lolos dari fabrik celana yang mereka pakai. Reiner sangat bekerja keras untuk ini, ia membuka jalan dengan memotong ilalang-ilalang dengan pisau seadanya. Eren turut membantu memotong ilalang di samping kanan dan kirinya.</p>

<p>Mereka sudah berjalan dan memutari area itu cukup lama. Hingga tercium wangi, wangi seperti campuran bunga melati dan mawar putih serta vanilla yang amat kuat. Reiner dan semuanya mengendus wangi itu, berjalan berhati-hati hingga ia membuka pintu ilalang dan nampak suatu daerah pekarangan penuh bunga. Di belakangnya terlihat Eren, Pieck, dan Porco yang menganga takjub.</p>

<p>“Reiner, ini bunganya kan?” Eren bergerak gelisah, tangannya dengan cepat membuka tas nya mencari handphone nya. Mencocokan gambar di ponselnya dengan bunga yang terlihat di depannya saat ini. Gambar yang sempat diambil langsung oleh si pendaki tersesat itu.</p>

<p>“100 persen ini Ren valid, mirip banget.”</p>

<p>“Porco, Pieck woi.” Reiner menyadarkan keduanya yang masih asik pandangi bunga-bunga itu.</p>

<p>“Hah, ya?” Kedua orang itu pun mendekati mereka. Melihat ponsel Eren yang ditunjukkan kepadanya kemudian beralih mengamati bunga yang asli itu lagi.</p>

<p>“Fix bener ini sih. Persis banget.” Ucapan Porco disambut anggukan antusias dari Pieck.</p>

<p>Pieck masih takjub seakan ia berada di alam lain. Bunga ini sangat banyak jumlahnya, bahkan sejauh mata menandang sampai ujung sana, bunga ini seakan tan terhingga. Tak pantas dikategorikan sebagai tanaman langka. Dirinya yang menyukai bunga harusnya cukup skeptis menemukan taman seperti ini di tengah-tengah hutan hujan tropis. Akan tetapi, jiwanya seakan tersedot hanya untuk memandang kemolekan mahkota dan wangi memabukkan dari kumpulan bunga Reksa yang sedang mekar. Bunga ini jika di ekstrak pasti akan menghasilkan wangi yang berkualitas dan bisa menjadi bahan baku utama parfum kelas dunia. Sebersit nafsu duniawi berhasil mengambil pikirannya secara singkat.</p>

<p>“Ayo Eren cepat lakuin tugas lo. Biar cepet balik.” Reiner berkata dan Eren mengangguk. Ia mencari tempat sedikit lapang dan terbuka.</p>

<p>*** Eren mengeluarkan tas kecil yang ada di dalam <em>carrier</em> kecil miliknya. Skalpel, alkohol, spiritus, aquades, cawan petri, dan talenan mini ia keluarkan. Beserta wadah yang telah berisi agar bernutrisi sebagai media kulturnya. Dengan telaten ia mencuci tangan dengan antiseptik, kemudian mencuci semua peralatan dengan alkohol dan meletakannya di wadah steril. Ia kemudian memetik bunga yang masih kuncup itu. Setelahnya, mencopoti kelopak bunga, dan ia isolasi bagian anternya.</p>

<p>Bagian eksplan akan disterilisasi kemudian akan ia masukkan ke media agarnya. Selain anternya, Eren juga memetik bagian daun dari tanaman Reksa. Ia lakukan hal yang sama, mempersiapkan daun tersebut kemudian eksplan daun berukuran satu centimeter persegi ia inokulasikan ke dalam botol yang lain dengan media agar yang sudah disiapkan. Ia kemudian menutup botolnya dan memasukkan ke kotak yang suhu dan cahaya di dalamnya bisa diatur sebagai manipulasi tempat tumbuh, supaya eksplan tersebut cepat tumbuh kalus atau jaringan muda.</p>

<p>Untuk mengantisipasi jika ada kontaminasi saat melakukan kegiatan kulturnya. Eren juga memetik beberapa bunga Reksa kemudian ia serahkan kepada Pieck dan Porco agar bunga tersebut ditangani sehingga bisa tahan dan tidak busuk sampai mereka ke lab untuk melakukan tahapan yang lebih sesuai prosedur.</p>

<p>“Akh,” teriakan Porco menghentikan kegiatan Eren yang sedang membereskan barang-barangnya.</p>

<p>“Kenapa?” tanyanya bersamaan dengan Reiner yang turut menghampiri Porco.</p>

<p>“Kena formalin kakinya.” Pieck yang mewakili untuk memberitahu keadaan Porco yang masih kesakitan. Mereka pun segera melakukan pertolongan pertama. Setelah dirasa cukup membaik, mereka berempat kemudian bergerak untuk balik ke batu itu. Porco yang agak kesulitan dalam berjalan, mau tidak mau harus ada yang membantunya. Porco tak bisa berjalan paling belakang sebagai sweeper. Oleh karena itu, keputusan paling logis yang bisa mereka dapat adalah Eren yang berjalan paling belakang. Dengan demikian formasi jalan mereka ialah Reiner, Porco dan Pieck, terakhir Eren. Porco akan dipapah oleh Pieck agar lebih memudahkannya dalam berjalan.</p>

<p>“Gimana Eren, mampu jadi <em>sweeper</em>?” Eren awalnya ragu, karena ia akan mengikari janjinya pada Levi tadi. Levi telah menitip pesan agar selalu fokus dan jangan berjalan paling belakang apa pun yang terjadi. Tapi di tengah kondisi seperti ini, sangat tidak memungkinkan untuknya egois bukan? Jika ia yang berjalan paling depan, akan menyulitkan jika ia tidak benar dalam mengambil arah, bisa-bisa tersesat dan Porco akan lebih kesakitan. Paling tidak, ia harus ke pos lima dahulu untuk beristirahat.</p>

<p>“Oke, bukan masalah.” Mereka pun kembali berjalan menuju ke titik batu besar sebagai patokan. Sejauh Reiner memandang setelah beberapa menit berjalan, ia melihat patokan batu besar itu, dengan tim dua yang sudah berkumpul di sana sedang duduk sambil memakan logistiknya. Memang sudah lebih dari tiga jam berlalu tepatnya hampir lima jam. Muka Reiner pun sumringrah. Ia yang sampai segera menunjukkan kesenangannya dan memberitahu kalau mereka berhasil mendapatkan apa yang dicari. Semua yang mendengar pun lega dan turut bergembira. Tak terkecuali Levi.
Setelah Reiner sampai, ekspektasi yang Levi dapat adalah menemukan Eren segera. Namun, lima menit kemudian, ia malah temukan Porco yang sedang berjalan dipapah oleh Pieck.</p>

<p>“Eren di mana Reiner?” Levi bertanya cepat setelah melihat bukan Eren yang berjalan setelah Reiner.</p>

<p>“Eren berjalan paling belakang. Porco, tadi, ia ada insiden jadi mau tidak mau Eren yang di belakang.” Levi sedikit menggeram marah. Ia berusaha untuk menahannya. Mencoba tetap berpegang teguh, Eren akan terlihat di matanya sebentar lagi.</p>

<p>Lima menit setelah sampainya Porco dan Pieck batang hidung orang yang disukainya belum tampak juga.</p>

<p>Sepuluh menit menunggu dan masih sama.</p>

<p>Tiga puluh menit berlalu, wajahnya sudah tidak tenang. Eren belum terlihat di matanya. Jika dilogika bukankah harusnya jarak Eren dengan Porco dekat? Apalagi dengan keadaan Porco yang sulit berjalan. Harusnya jarak dengan Eren yang berjalan normal pun dekat bukan? Hatinya khawatir lagi setengah mati setelah kejadian Eren tersesat dan kejadian <em>carrier</em> nya itu kembali datang ke pikirannya. Fakta bahwa saat ini pun mereka berada di luar jalur pendakian kemungkinan Eren tersesat menjauhi jalur semakin besar. Bagaimana jika Eren tersesat makin ke dalam hutan rimba sana.</p>

<p>Situasi kalut memenuhi hatinya, tak bisa menahan amarah kepada Reiner yang dimatanya tidak memperhatikan keselamatan Eren, hingga akhirnya Levi membentak dan mencengkeram kerah baju Reiner.</p>

<p>“Eren ada di mana, Reiner?!”</p>

<p>                        ****</p>

<blockquote><p>PS. Bagian bertanda bintang tiga, ngawur, demi plot cerita, tapi tahapannya kurang lebih begitu. Cuma kalau yang dilakuin Eren fix pasti gagal kena kontaminasi, lingkungannya aja ngawur begitu. Paling bener emang di laboratorium, pakai laminar air flow pas sterilisasi dan inokulasi eksplannya.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seedwaffle.writeas.com/babak-dua-journey</guid>
      <pubDate>Sun, 13 Mar 2022 05:31:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Babak Satu – Journey</title>
      <link>https://seedwaffle.writeas.com/babak-satu-the-journey?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Babak Satu (1/3)&#xA;&#xA;cw // myth &#xA;&#xA;Dini hari setelah istirahat semalaman di posko pendakian, semua orang yang bergabung dalam tim pencarian bunga Reksa sudah bersiap. Mereka akan naik sebentar lagi, setelah semua administrasi selesai dilakukan dan setelah semuanya menghabiskan sarapan masing-masing di warung Indomie dekat posko. Mereka semua saling bercengkrama sembari menikmati makanan yang hangat. Beberapa ada yang mengirim sanak keluarga kabar kalau mereka akan mendaki sebentar lagi, tak terkecuali, Eren. Setelah ia sudah menyempati mengirim kabar pada Zeke dan sahabat-sahabatnya, Eren kemudian menghabiskan kopi hangat yang masih tersisa sedikit di gelasnya. &#xA;&#xA;Semua persiapan telah selesai begitu pun masalah administrasi pencatatan data pendaki dan sarapan mereka. Setelahnya, mereka bergerak naik mendaki Gunung Koral. Gunung ini merupakan gunung yang masih asing untuk dijadikan ajang pendakian bagi pendaki, belum menjadi pilihan favorit. Sejauh mereka menginap dari semalam tidak ada pendaki lain yang datang, meskipun hari ini hari Sabtu, yang jika biasanya gunung lain sudah antre berjejeran para pendaki yang ingin menaklukan gunung tersebut hingga sampai puncak. &#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Masing-masing anggota tim Reksa telah menggendong tas carrier nya sendiri, bersiap untuk melangkah maju menuju pos satu. Perjalanan kali ini, Reiner menjadi navigator yang mana bertugas untuk berjalan paling depan, kemudian Levi di belakang Reiner yang bertugas sebagai leader dalam tim ini, kemudian di belakang Levi secara berurutan yaitu, Eren, Historia, dan Pieck. Porco berjalan di belakang Pieck dan Berthold sebagai logistik berjalan di belakang Porco. Berthold membawa carrier terberat dan terbesar. Dengan begitu, Floch menjadi orang yang berjalan paling belakang sekaligus bertugas sebagai sweeper. Untuk pendakian menuju pos satu, mereka berada di jarak yang dekat satu sama lain, tak lebih dari dua meter. &#xA;&#xA;Sejauh mereka melangkah, sudah sekitar 30 menit, pendakian dari basecamp belum terlalu melelahkan, karena jalanan terbilang landai walaupun penuh bebatuan. Di sekeliling track pendakian terlihat jelas perkebunan teh yang menyejukan mata dan semakin menuju atas, pemandangan berganti menjadi perkebunan sesayuran dan pangan khas dataran tinggi, seperti kol, kentang, wortel, brokoli, dan sebagainya. Beberapa kali saat berjalan, mereka bertemu dengan warga sekitar yang sudah pagi buta menuju ke lahan mereka untuk mengurus tanamannya. &#xA;&#xA;Sampailah mereka di sebuah gerbang yang ditandai dengan dua menara gagah saling berhadapan. Hal ini seperti tanda kalau mereka sudah memasuki dunia Gunung Koral, tanah yang mereka akan lalui benar-benar tanah langsung dari gunung ini. Eren memeriksa jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 06.30 hal ini berarti sudah sekitar satu jam mereka berjalan dari basecamp. Semakin memasuki gunung, nyanyian nyaring dari sekelompok serangga menemani perjalanan mereka. Cicada, jangkrik, dan siulan burung bersahutan keras dan tanpa henti, sesekali terdengar merdu, tetapi kadangkalanya menyakitkan telinga. Gunung Koral termasuk gunung yang tertutup, vegetasi-vegetasi cukup tinggi dan rute pendakian sudah terbilang sempit untuk perjalanan ke pos satu, karena kira-kira hanya bisa cukup untuk dua orang saja yang berjalan berdampingan. &#xA;&#xA;Regu Reksa memutuskan untuk tetap berjalan seperti formasi awal, tetapi jarak antar anggota yang dilebarkan. Untuk saat ini, jarak mereka sekitar lima meter satu sama lain. Terus berjalan dengan fokus, Eren memerhatikan setiap langkahnya dengan pasti. Aura gunung ini cukup mampu membuatnya sedikit bergidik ngeri. Namun, ia hiraukan saja. Selama masih ada teman-teman yang lain, ia hanya memikirkan hal yang bagus-bagus menghipnotis diri sendiri agar terus berpikiran positif. Sugesti itu cukup berguna untuk dirinya untuk sampai di pos satu. &#xA;&#xA;Sesampainya di pos satu mereka beristirahat sejenak atas perintah Levi, setelah ia melihat Historia yang cukup kepayahan. Mereka pun saling membantu untuk menggelar alas duduk. Reiner mengeluarkan termos berisi kopi panas yang tadi ia isi di warung dan menawarkan ke semuanya. &#xA;&#xA;“Ayo, kita jalan lagi.” &#xA;&#xA;Perintah Levi disambut persetujuan oleh semuanya. Setelah kurang lebih setengah jam beristirahat, mereka kembali bergegas melanjutkan perjalanan. Perjalanan mereka ke pos dua hampir mirip dengan perjalanan ke pos satu. Jalanan masih landai, meskipun terbilang licin; sedikit lebih menantang. Mereka harus berhati-hati dalam melangkah. Di sekeliling rute pendakian sangat terasa asing, penuh hijauan, dan lumut khas hutan hujan tropis. Pohon-pohon berkambium tebal menjulang sangat tinggi ke atas dengan daun-daunnya sangat lebar dan lebat hingga menghalangi penetrasi cahaya matahari untuk sampai ke tanah secara utuh. &#xA;&#xA;Cahaya yang menyinari mereka seperti lingkaran-lingkaran dari atas ke bawah yang saling menyambung dan tersebar acak seperti cahaya lampu jalan di malam hari yang diberi corong. Tidak jarang juga, mereka mendapati pohon kayu raksasa yang tumbang di sekelilingnya. Namun, dari suasana yang terasa misterius itu, bau alam tanpa polusi sangat terasa memanjakan paru-paru mereka. Bau tanah, bau pohon, bau air yang bercampur tanah dengan suhu udara yang terbilang dingin bercampur menjadi satu dengan sangat seimbang. Tidak pernah Eren rasakan udara sebersih ini dan seringan ini. Hidungnya seakan dicuci total. Kalau bisa, ia bahkan ingin menyimpan udara di sini untuk ia bawa pulang nanti. Akan tetapi, otaknya tiba-tiba langsung bersiaga khawatir memikirkan untuk mencari tanah yang cukup lapang bagi mereka untuk tidur di malam hari, karena pohon-pohon yang sangat rapat dan besar tersebar sangat merata seperti ini.&#xA;&#xA;Jarak antara pos satu dengan pos dua terbilang dekat, kurang dari tiga puluh menit mereka sudah sampai di titik ini. Levi kemudian berkata untuk berhenti sebentar. Setelah mengatakan itu, semua berkumpul mendekat. Terasa dia memandang satu persatu anggota, fokusnya terlihat untuk melihat Historia terlebih dahulu. Perempuan itu di mata Eren juga tidak nampak merasakan letih, tidak seperti sewaktu di pos satu. Terlihat Levi mengecek secara sekilas yang lain dan yang terakhir Eren. Levi memandang Eren cukup lama, ia mengecek Eren secara penuh, dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Setelah itu, ia langsung memerintahkan mereka lanjut berjalan ke pos tiga. Sebisa mungkin ia memangkas waktu agar proyek ini bisa selesai lebih cepat.&#xA;&#xA;Perjalanan dilanjutkan dan masih sama dengan formasi awal. Terasa berjalan semakin atas, rute pendakian semakin-semakin menantang. Jalanan tidak lagi landai, tetapi mulai terjal dan menaik. Jalanan juga licin dan banyak pohon tumbang di tengah jalan yang sudah lapuk, cukup membahayakan dan menguras fokus mereka. Dari rute ini, terasa juga sudah jelas jurang-jurang yang semakin mendekati rute. &#xA;&#xA;“Perhatikan jalan, hati-hati. Fokus.” Levi berkata cukup keras hingga seperti dapat didengar semua anggotanya. Eren akui ia sedikit kepayahan untuk menyusuri rute ini. Sebisa mungkin ia mempertahankan fokusnya seratus persen. Jalanan yang terjal itu, menjadikan jarak antara mereka kurang dari lima meter karena mereka sangat hati-hati. &#xA;&#xA;Reiner dan Levi terutama, tidak berjalan terlalu jauh dan cepat. Ketika ada tanjakan terjal, mereka akan membantu yang lain untuk naik. Sama seperti keadaan sekarang ini, nampak di depan mata, tanjakan yang cukup membuat Eren menciut. Levi mengulurkan tangannya, Eren ragu menerima, karena dia takut jatuh ke jurang di sebelah kirinya. Badannya ia tempelkan ke tebing yang menjulang tinggi di sebelah kananya. Jurang itu seakan terasa sangat dekat sekali dengannya, menarik tubuhnya. &#xA;&#xA;“Eren. Fokus, jangan perhatikan jurangnya. Perhatikan saya saja, cukup saya saja.” Mata Levi membius tepat di kedua matanya. Seakan mengalirkan rasa aman yang luar biasa. Ia kemudian menggapai tangan Levi dan menggenggam erat, mencoba naik. Susah payah, carrier yang digendongannya terlalu berat untuk bisa ia angkat ke atas. Levi, walaupun begitu, tidak nampak kepayahan. Lelaki itu sangat kuat sekali. &#xA;&#xA;“Eren, ayo.” &#xA;&#xA;“Berat Pak, saya tidak bisa.” &#xA;&#xA;“Bisa, saya kuat narik kamu.”&#xA;&#xA;“Tidak Pak. Carrier, saya gak kuat ngangkatnya.” &#xA;&#xA;“Turun Eren, balik sebentar.” Eren pun menurutinya, ia balik dan menapak ke tempat semula, dengan Historia dan Pieck yang sudah menunggu seperti sedang mengantre untuk naik. Levi melepaskan tangan Eren, begitu pun juga dengan carrier yang digendongnya. Secara tiba-tiba ia turun ke bawah, menyuruh Eren melepas carrier miliknya. Dengan cepat ia kemudian mengangkat carrier milik Eren dan mengopernya ke Reiner untuk ia bawa ke atas. Levi kembali turun, dan sekarang ini Reiner yang mengulurkan tangannya pada Eren. &#xA;&#xA;“Ayo Eren naik,” ucap Reiner. Eren segera menggapainya dan berusaha untuk naik ke atas. Ia kemudian menggendong kembali carrier merah miliknya itu. Terlihat dari atas tanjakan, Levi yang sedang memindahkan carrier Historia dan Pieck secara berurutan sendirian. Tidak ada kendala setelahnya. Untuk Porco bahkan dia bisa naik tanpa melepas carrier. Kecuali saat Bertold akan naik, tas carrier nya yang besar itu sangat menyusahkan. Memindahkannya ke atas pun Levi tak kuat mengopernya seorang diri pada Reiner dan Berhtold pun kepayahan jika sendirian. Untuk Floch, tidak ada kesulitan yang berarti. &#xA;&#xA;Setelah kejadian tanjakan yang cukup memakan waktu, rute pendakian tidak sesulit sebelumnya. Walaupun begitu jalanan masih licin dan mereka harus tetap fokus menapak. Sekitar satu jam setelahnya, mereka sampai di pos tiga. Levi memutuskan untuk beristirahat sejenak. Eren kembali mengecek jam tangannya, sampai di pos tiga ini sudah menunjukkan pukul 09.18. &#xA;&#xA;Mereka kemudian menggelar tikar tipis dan Floch mengeluarkan bekal logistiknya. Ia mengeluarkan gula merah, biskuit, dan protein bar.&#xA;&#xA;“Silakan dimakan, di hutan seperti ini jangan sampai perutnya kosong dan energinya juga kosong.” Semua orang mengangguk paham. Masing-masing memilih satu yang ditawarkan oleh Floch dan memakannya segera. Mereka beristirahat cukup lama kali ini karena memang perjalanan melewati dua pos cukup melelahkan. &#xA;&#xA;“Oh ada info, usahakan minum secukupnya. Jangan terlalu banyak dan sedikit. Harus menghemat logistik terutama air, untuk jaga-jaga saja.” Reiner berkata seperti itu setelah ia melihat Eren yang minum dengan rakusnya. Sebagai orang yang memang boros minum, terlebih melakukan perjalanan yang melelahkan, Eren harus minum dalam jumlah yang banyak agar kembali bugar. Akan tetapi, nasihat Reiner memang masuk akal dan dia pun tidak mau beragumen dengan Reiner. &#xA;&#xA;“Iya, Ner.” &#xA;&#xA;“No hard feeling ya, Ren.” Reiner berkata seperti itu sambil tersenyum setelah ia merasa khawatir jika nasihatnya menyinggung Eren. &#xA;&#xA;“Santai,” balas Eren ikut tersenyum. &#xA;&#xA;“Pak Levi, rencananya masih sama? Langsung summit hari ini?” Porco yang tiba-tiba menanyakan timeline perjalanan mereka saat semuanya sedang sibuk mengunyah makanan. &#xA;&#xA;“Sejauh ini begitu rencananya, karena sampai sekarang masih sesuai perkiraan.”&#xA;&#xA;“Baik Pak.” &#xA;&#xA;“Kita jalan 10 menit lagi,” ucap Levi setelah menilik jam tangannya. &#xA;&#xA;“Baik Pak.” Historia yang mewakili untuk menjawab, sedangkan yang lain hanya mengangguk paham. &#xA;&#xA;Pukul 09.45 mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, mereka mengalami perubahan formasi. Hanya posisi Floch dan Reiner saja yang berubah. Floch menjadi navigator berjalan paling depan dan Reiner menjadi sweeper yang berjalan di paling belakang. Jarak mereka antar satu sama lain cukup jauh sekitar 10 meter. Rute ke pos 4 tidak seekstrem tadi sehingga lebih memudahkan mereka berjalan, tetapi jalannya berlika-liku. &#xA;&#xA;Meskipun begitu, perjalanan ke pos 4 mulai terasa berat, bukan medannya saja, tetapi hawa yang dirasakan juga semakin berat. Entah kenapa Eren merasa lelah, sangat lelah hingga jalannya sangat pelan. Jarak ia antara Levi semakin jauh, sedangkan jaraknya dengan Historia semakin dekat. Hingga Eren berhasil disusul oleh Historia. &#xA;&#xA;“Eren, are you okay?” Historia bertanya dengan ekspresi khawatir. Sekilas Eren memandang Historia dan nampak sekali dia bahkan masih bugar. Padahal bisa dibilang fisik paling lemah diantara mereka semua ialah Historia. Hal ini membuat dirinya berpikir ada yang salah.&#xA;&#xA;“I’m okay,” balasnya singkat. &#xA;&#xA;“Istirahat dulu?” tawar Historia. Eren mengangguk dan mengambil bekal gula merah miliknya, memotongnya sedikit dan segera memakannya. Tidak terasa Pieck juga telah menyusul mereka, kemudian Porco, Berthold, dan bahkan Reiner. &#xA;&#xA;Mereka semua menunggu Eren membaik. Semuanya menatap khawatir padanya.&#xA;&#xA;“Bisa lanjut jalan lagi, Ren?” tanya Porco. Eren mengangguk. &#xA;&#xA;“Ok,” balasnya. &#xA;&#xA;“Pelan-pelan aja jalannya.” Saran dari Pieck. Eren pun kembali berdiri dibantu oleh Reiner dan Porco. Mereka pun kembali berjalan dengan formasi awal. Langkah Eren sangat terasa berat sekali. Walaupun ia baru melangkah belum terlalu jauh  seakan dia sudah melakukan lari marathon 10 kilometer. &#xA;&#xA;“Sebentar,” ucapnya meminta waktu sambil terengah-engah tak wajar. Semua yang di sana seakan memikirkan hal yang sama. Ada yang tidak beres berdasarkan apa yang dialami oleh Eren, tapi tentu mereka memendamnya sendiri. &#xA;&#xA;“Ya sudah, istirahat dulu aja.” Saran Porco. Mereka semua pun mencari tempat yang landai dan duduk saling dekat satu sama lain.&#xA;&#xA;“Eren, fokus. Pikiran hal positif aja. Oke?” &#xA;&#xA;“Iya, gue paham Ner.” Rasa lelah Eren seakan sangat lama menghilang. Hingga, terlihat Levi dan Floch yang kembali lagi menyusul, mendekati mereka. Raut panik dan khawatir sangat terlihat jelas di wajah keduanya. &#xA;&#xA;“Kenapa kok kalian malah istirahat? Gue sama Pak Levi khawatir nyariin kalian.” Tanya Floch dengan lirh secara cepat meminta penjelasan kepada Reiner dan Berthold. Reiner hanya memberi cue untuk melihat ke arah Eren. Seketika Floch terdiam, karena jelas, amat jelas Eren sangat terengah-engah mengambil napas. &#xA;&#xA;“Eren, kamu kenapa?” kali ini Levi yang bertanya. &#xA;&#xA;“Reiner, ada masalah?” lanjutnya bertanya pada Reiner. &#xA;&#xA;“Tidak Pak, Eren hanya butuh istirahat.” Sebisa mungkin Reiner tidak menyebut kata-kata sakral yang sudah kondang dihindari untuk diucapkan di kalangan pendaki, seperti lelah contohnya dan kata-kata lain yang bermakna untuk mengeluh. Mereka dengan sabar menunggu Eren hingga merasa lebih baik. Kali ini Levi memutuskan untuk mengganti formasi. Floch tetap di depan, sedangkan Levi akan bertukar tempat dengan Eren, selebihnya tetap sama, dan jarak mereka yang tidak boleh terlalu jauh antar satu dengan lainnya. &#xA;&#xA;Semuanya dengan cepat setuju. Dengan dibantu Levi, Eren berdiri dan mulai berjalan. Floch berjalan dengan sangat lambat kali ini, ia tidak akan meninggalkan timnya lagi. Begitu pun yang lain, sudah mengerti ada suatu hal yang aneh dan mereka tidak bisa menghiraukannya begitu saja. &#xA;&#xA;Eren berjalan dengan sangat amat pelan, ia bahkan membutuhkan tracking pole untuk membantunya melangkah. Terasa presensi Levi yang sangat dekat dengannya mengamati dari belakang secara intens. Ia merasa cukup membaik, paling tidak, dekat dengan Levi membuatnya tenang dan merasa aman. &#xA;&#xA;Hasilnya, perjalanan ke pos empat sangat lama, jauh dari perkiraan dan info yang mereka dapat dari petugas basecamp. Mereka menghabiskan waktu dua jam untuk sampai ke pos 4. Padahal untuk normalnya, hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam dari pos 3. Mereka sampai di pos 4 pada pukul 11.45. Sesampainya di pos 4, Levi mengecek Eren terutama karena dia yang paling berantakan dibanding semuanya.&#xA;&#xA;“Eren? Aman? Sudah lebih baik?” tanya Levi. &#xA;&#xA;“Sudah mendingan, Pak,” balasnya. Levi kemudian memandangi yang lain dan langsung memutuskan. &#xA;&#xA;“Oke, silakan minum dan makan bekal kalian. Kita istirahat 5 menit, kemudian langsung lanjut pos 5.” Levi berkata secara cepat. &#xA;&#xA;“Pak, bisakah lebih lama lagi istirahatnya?” tanya Berthold.&#xA;&#xA;“Kamu butuh istirahat lebih?” &#xA;&#xA;“Iya Pak,”&#xA;&#xA;“Reiner, tukar tempat dengan Bert. Carrier kamu juga tukar. Berthold mampu jadi sweeper kan? Reiner logistik dan Berthold jadi sweeper.” &#xA;&#xA;“Tolong kalau mampu jangan protes. Percaya saya, percaya insting saya. Kita akan beristirahat di pos lima saja.” Mereka semua mengangguk, tanpa banyak tanya. Semuanya seakan mengerti maksud Levi, tak lain dan tak bukan karena kejadian yang tadi menimpa Eren. &#xA;&#xA;  Hint: kalau ngeh kenapa Eren bisa begitu, sebenernya tadi dia udah sempat ngucap kata terlarang secara gak sadar.&#xA;&#xA;  Bocoran: babak dua gue mulai buka dramanya, babak tiga bakal dibuka karater Levi aslinya sama  fokus ke hubungan Eren Levi lagi, mau dibawa kemana sama mereka.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Babak Satu (1/3)</strong></p>

<p><em>cw // myth</em></p>

<p>Dini hari setelah istirahat semalaman di posko pendakian, semua orang yang bergabung dalam tim pencarian bunga Reksa sudah bersiap. Mereka akan naik sebentar lagi, setelah semua administrasi selesai dilakukan dan setelah semuanya menghabiskan sarapan masing-masing di warung Indomie dekat posko. Mereka semua saling bercengkrama sembari menikmati makanan yang hangat. Beberapa ada yang mengirim sanak keluarga kabar kalau mereka akan mendaki sebentar lagi, tak terkecuali, Eren. Setelah ia sudah menyempati mengirim kabar pada Zeke dan sahabat-sahabatnya, Eren kemudian menghabiskan kopi hangat yang masih tersisa sedikit di gelasnya.</p>

<p>Semua persiapan telah selesai begitu pun masalah administrasi pencatatan data pendaki dan sarapan mereka. Setelahnya, mereka bergerak naik mendaki Gunung Koral. Gunung ini merupakan gunung yang masih asing untuk dijadikan ajang pendakian bagi pendaki, belum menjadi pilihan favorit. Sejauh mereka menginap dari semalam tidak ada pendaki lain yang datang, meskipun hari ini hari Sabtu, yang jika biasanya gunung lain sudah antre berjejeran para pendaki yang ingin menaklukan gunung tersebut hingga sampai puncak.</p>



<p>Masing-masing anggota tim Reksa telah menggendong tas <em>carrier</em> nya sendiri, bersiap untuk melangkah maju menuju pos satu. Perjalanan kali ini, Reiner menjadi navigator yang mana bertugas untuk berjalan paling depan, kemudian Levi di belakang Reiner yang bertugas sebagai <em>leader</em> dalam tim ini, kemudian di belakang Levi secara berurutan yaitu, Eren, Historia, dan Pieck. Porco berjalan di belakang Pieck dan Berthold sebagai logistik berjalan di belakang Porco. Berthold membawa <em>carrier</em> terberat dan terbesar. Dengan begitu, Floch menjadi orang yang berjalan paling belakang sekaligus bertugas sebagai <em>sweeper</em>. Untuk pendakian menuju pos satu, mereka berada di jarak yang dekat satu sama lain, tak lebih dari dua meter.</p>

<p>Sejauh mereka melangkah, sudah sekitar 30 menit, pendakian dari <em>basecamp</em> belum terlalu melelahkan, karena jalanan terbilang landai walaupun penuh bebatuan. Di sekeliling <em>track</em> pendakian terlihat jelas perkebunan teh yang menyejukan mata dan semakin menuju atas, pemandangan berganti menjadi perkebunan sesayuran dan pangan khas dataran tinggi, seperti kol, kentang, wortel, brokoli, dan sebagainya. Beberapa kali saat berjalan, mereka bertemu dengan warga sekitar yang sudah pagi buta menuju ke lahan mereka untuk mengurus tanamannya.</p>

<p>Sampailah mereka di sebuah gerbang yang ditandai dengan dua menara gagah saling berhadapan. Hal ini seperti tanda kalau mereka sudah memasuki dunia Gunung Koral, tanah yang mereka akan lalui benar-benar tanah langsung dari gunung ini. Eren memeriksa jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 06.30 hal ini berarti sudah sekitar satu jam mereka berjalan dari <em>basecamp</em>. Semakin memasuki gunung, nyanyian nyaring dari sekelompok serangga menemani perjalanan mereka. Cicada, jangkrik, dan siulan burung bersahutan keras dan tanpa henti, sesekali terdengar merdu, tetapi kadangkalanya menyakitkan telinga. Gunung Koral termasuk gunung yang tertutup, vegetasi-vegetasi cukup tinggi dan rute pendakian sudah terbilang sempit untuk perjalanan ke pos satu, karena kira-kira hanya bisa cukup untuk dua orang saja yang berjalan berdampingan.</p>

<p>Regu Reksa memutuskan untuk tetap berjalan seperti formasi awal, tetapi jarak antar anggota yang dilebarkan. Untuk saat ini, jarak mereka sekitar lima meter satu sama lain. Terus berjalan dengan fokus, Eren memerhatikan setiap langkahnya dengan pasti. Aura gunung ini cukup mampu membuatnya sedikit bergidik ngeri. Namun, ia hiraukan saja. Selama masih ada teman-teman yang lain, ia hanya memikirkan hal yang bagus-bagus menghipnotis diri sendiri agar terus berpikiran positif. Sugesti itu cukup berguna untuk dirinya untuk sampai di pos satu.</p>

<p>Sesampainya di pos satu mereka beristirahat sejenak atas perintah Levi, setelah ia melihat Historia yang cukup kepayahan. Mereka pun saling membantu untuk menggelar alas duduk. Reiner mengeluarkan termos berisi kopi panas yang tadi ia isi di warung dan menawarkan ke semuanya.</p>

<p>“Ayo, kita jalan lagi.”</p>

<p>Perintah Levi disambut persetujuan oleh semuanya. Setelah kurang lebih setengah jam beristirahat, mereka kembali bergegas melanjutkan perjalanan. Perjalanan mereka ke pos dua hampir mirip dengan perjalanan ke pos satu. Jalanan masih landai, meskipun terbilang licin; sedikit lebih menantang. Mereka harus berhati-hati dalam melangkah. Di sekeliling rute pendakian sangat terasa asing, penuh hijauan, dan lumut khas hutan hujan tropis. Pohon-pohon berkambium tebal menjulang sangat tinggi ke atas dengan daun-daunnya sangat lebar dan lebat hingga menghalangi penetrasi cahaya matahari untuk sampai ke tanah secara utuh.</p>

<p>Cahaya yang menyinari mereka seperti lingkaran-lingkaran dari atas ke bawah yang saling menyambung dan tersebar acak seperti cahaya lampu jalan di malam hari yang diberi corong. Tidak jarang juga, mereka mendapati pohon kayu raksasa yang tumbang di sekelilingnya. Namun, dari suasana yang terasa misterius itu, bau alam tanpa polusi sangat terasa memanjakan paru-paru mereka. Bau tanah, bau pohon, bau air yang bercampur tanah dengan suhu udara yang terbilang dingin bercampur menjadi satu dengan sangat seimbang. Tidak pernah Eren rasakan udara sebersih ini dan seringan ini. Hidungnya seakan dicuci total. Kalau bisa, ia bahkan ingin menyimpan udara di sini untuk ia bawa pulang nanti. Akan tetapi, otaknya tiba-tiba langsung bersiaga khawatir memikirkan untuk mencari tanah yang cukup lapang bagi mereka untuk tidur di malam hari, karena pohon-pohon yang sangat rapat dan besar tersebar sangat merata seperti ini.</p>

<p>Jarak antara pos satu dengan pos dua terbilang dekat, kurang dari tiga puluh menit mereka sudah sampai di titik ini. Levi kemudian berkata untuk berhenti sebentar. Setelah mengatakan itu, semua berkumpul mendekat. Terasa dia memandang satu persatu anggota, fokusnya terlihat untuk melihat Historia terlebih dahulu. Perempuan itu di mata Eren juga tidak nampak merasakan letih, tidak seperti sewaktu di pos satu. Terlihat Levi mengecek secara sekilas yang lain dan yang terakhir Eren. Levi memandang Eren cukup lama, ia mengecek Eren secara penuh, dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Setelah itu, ia langsung memerintahkan mereka lanjut berjalan ke pos tiga. Sebisa mungkin ia memangkas waktu agar proyek ini bisa selesai lebih cepat.</p>

<p>Perjalanan dilanjutkan dan masih sama dengan formasi awal. Terasa berjalan semakin atas, rute pendakian semakin-semakin menantang. Jalanan tidak lagi landai, tetapi mulai terjal dan menaik. Jalanan juga licin dan banyak pohon tumbang di tengah jalan yang sudah lapuk, cukup membahayakan dan menguras fokus mereka. Dari rute ini, terasa juga sudah jelas jurang-jurang yang semakin mendekati rute.</p>

<p>“Perhatikan jalan, hati-hati. Fokus.” Levi berkata cukup keras hingga seperti dapat didengar semua anggotanya. Eren akui ia sedikit kepayahan untuk menyusuri rute ini. Sebisa mungkin ia mempertahankan fokusnya seratus persen. Jalanan yang terjal itu, menjadikan jarak antara mereka kurang dari lima meter karena mereka sangat hati-hati.</p>

<p>Reiner dan Levi terutama, tidak berjalan terlalu jauh dan cepat. Ketika ada tanjakan terjal, mereka akan membantu yang lain untuk naik. Sama seperti keadaan sekarang ini, nampak di depan mata, tanjakan yang cukup membuat Eren menciut. Levi mengulurkan tangannya, Eren ragu menerima, karena dia takut jatuh ke jurang di sebelah kirinya. Badannya ia tempelkan ke tebing yang menjulang tinggi di sebelah kananya. Jurang itu seakan terasa sangat dekat sekali dengannya, menarik tubuhnya.</p>

<p>“Eren. Fokus, jangan perhatikan jurangnya. Perhatikan saya saja, cukup saya saja.” Mata Levi membius tepat di kedua matanya. Seakan mengalirkan rasa aman yang luar biasa. Ia kemudian menggapai tangan Levi dan menggenggam erat, mencoba naik. Susah payah, carrier yang digendongannya terlalu berat untuk bisa ia angkat ke atas. Levi, walaupun begitu, tidak nampak kepayahan. Lelaki itu sangat kuat sekali.</p>

<p>“Eren, ayo.”</p>

<p>“Berat Pak, saya tidak bisa.”</p>

<p>“Bisa, saya kuat narik kamu.”</p>

<p>“Tidak Pak. <em>Carrier</em>, saya gak kuat ngangkatnya.”</p>

<p>“Turun Eren, balik sebentar.” Eren pun menurutinya, ia balik dan menapak ke tempat semula, dengan Historia dan Pieck yang sudah menunggu seperti sedang mengantre untuk naik. Levi melepaskan tangan Eren, begitu pun juga dengan <em>carrier</em> yang digendongnya. Secara tiba-tiba ia turun ke bawah, menyuruh Eren melepas <em>carrier</em> miliknya. Dengan cepat ia kemudian mengangkat <em>carrier</em> milik Eren dan mengopernya ke Reiner untuk ia bawa ke atas. Levi kembali turun, dan sekarang ini Reiner yang mengulurkan tangannya pada Eren.</p>

<p>“Ayo Eren naik,” ucap Reiner. Eren segera menggapainya dan berusaha untuk naik ke atas. Ia kemudian menggendong kembali <em>carrier</em> merah miliknya itu. Terlihat dari atas tanjakan, Levi yang sedang memindahkan <em>carrier</em> Historia dan Pieck secara berurutan sendirian. Tidak ada kendala setelahnya. Untuk Porco bahkan dia bisa naik tanpa melepas <em>carrier</em>. Kecuali saat Bertold akan naik, tas <em>carrier</em> nya yang besar itu sangat menyusahkan. Memindahkannya ke atas pun Levi tak kuat mengopernya seorang diri pada Reiner dan Berhtold pun kepayahan jika sendirian. Untuk Floch, tidak ada kesulitan yang berarti.</p>

<p>Setelah kejadian tanjakan yang cukup memakan waktu, rute pendakian tidak sesulit sebelumnya. Walaupun begitu jalanan masih licin dan mereka harus tetap fokus menapak. Sekitar satu jam setelahnya, mereka sampai di pos tiga. Levi memutuskan untuk beristirahat sejenak. Eren kembali mengecek jam tangannya, sampai di pos tiga ini sudah menunjukkan pukul 09.18.</p>

<p>Mereka kemudian menggelar tikar tipis dan Floch mengeluarkan bekal logistiknya. Ia mengeluarkan gula merah, biskuit, dan protein bar.</p>

<p>“Silakan dimakan, di hutan seperti ini jangan sampai perutnya kosong dan energinya juga kosong.” Semua orang mengangguk paham. Masing-masing memilih satu yang ditawarkan oleh Floch dan memakannya segera. Mereka beristirahat cukup lama kali ini karena memang perjalanan melewati dua pos cukup melelahkan.</p>

<p>“Oh ada info, usahakan minum secukupnya. Jangan terlalu banyak dan sedikit. Harus menghemat logistik terutama air, untuk jaga-jaga saja.” Reiner berkata seperti itu setelah ia melihat Eren yang minum dengan rakusnya. Sebagai orang yang memang boros minum, terlebih melakukan perjalanan yang melelahkan, Eren harus minum dalam jumlah yang banyak agar kembali bugar. Akan tetapi, nasihat Reiner memang masuk akal dan dia pun tidak mau beragumen dengan Reiner.</p>

<p>“Iya, Ner.”</p>

<p>“<em>No hard feeling</em> ya, Ren.” Reiner berkata seperti itu sambil tersenyum setelah ia merasa khawatir jika nasihatnya menyinggung Eren.</p>

<p>“Santai,” balas Eren ikut tersenyum.</p>

<p>“Pak Levi, rencananya masih sama? Langsung <em>summit</em> hari ini?” Porco yang tiba-tiba menanyakan <em>timeline</em> perjalanan mereka saat semuanya sedang sibuk mengunyah makanan.</p>

<p>“Sejauh ini begitu rencananya, karena sampai sekarang masih sesuai perkiraan.”</p>

<p>“Baik Pak.”</p>

<p>“Kita jalan 10 menit lagi,” ucap Levi setelah menilik jam tangannya.</p>

<p>“Baik Pak.” Historia yang mewakili untuk menjawab, sedangkan yang lain hanya mengangguk paham.</p>

<p>Pukul 09.45 mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, mereka mengalami perubahan formasi. Hanya posisi Floch dan Reiner saja yang berubah. Floch menjadi navigator berjalan paling depan dan Reiner menjadi sweeper yang berjalan di paling belakang. Jarak mereka antar satu sama lain cukup jauh sekitar 10 meter. Rute ke pos 4 tidak seekstrem tadi sehingga lebih memudahkan mereka berjalan, tetapi jalannya berlika-liku.</p>

<p>Meskipun begitu, perjalanan ke pos 4 mulai terasa berat, bukan medannya saja, tetapi hawa yang dirasakan juga semakin berat. Entah kenapa Eren merasa lelah, sangat lelah hingga jalannya sangat pelan. Jarak ia antara Levi semakin jauh, sedangkan jaraknya dengan Historia semakin dekat. Hingga Eren berhasil disusul oleh Historia.</p>

<p>“<em>Eren, are you okay?</em>” Historia bertanya dengan ekspresi khawatir. Sekilas Eren memandang Historia dan nampak sekali dia bahkan masih bugar. Padahal bisa dibilang fisik paling lemah diantara mereka semua ialah Historia. Hal ini membuat dirinya berpikir ada yang salah.</p>

<p>“<em>I’m okay</em>,” balasnya singkat.</p>

<p>“Istirahat dulu?” tawar Historia. Eren mengangguk dan mengambil bekal gula merah miliknya, memotongnya sedikit dan segera memakannya. Tidak terasa Pieck juga telah menyusul mereka, kemudian Porco, Berthold, dan bahkan Reiner.</p>

<p>Mereka semua menunggu Eren membaik. Semuanya menatap khawatir padanya.</p>

<p>“Bisa lanjut jalan lagi, Ren?” tanya Porco. Eren mengangguk.</p>

<p>“Ok,” balasnya.</p>

<p>“Pelan-pelan aja jalannya.” Saran dari Pieck. Eren pun kembali berdiri dibantu oleh Reiner dan Porco. Mereka pun kembali berjalan dengan formasi awal. Langkah Eren sangat terasa berat sekali. Walaupun ia baru melangkah belum terlalu jauh  seakan dia sudah melakukan lari marathon 10 kilometer.</p>

<p>“Sebentar,” ucapnya meminta waktu sambil terengah-engah tak wajar. Semua yang di sana seakan memikirkan hal yang sama. Ada yang tidak beres berdasarkan apa yang dialami oleh Eren, tapi tentu mereka memendamnya sendiri.</p>

<p>“Ya sudah, istirahat dulu aja.” Saran Porco. Mereka semua pun mencari tempat yang landai dan duduk saling dekat satu sama lain.</p>

<p>“Eren, fokus. Pikiran hal positif aja. Oke?”</p>

<p>“Iya, gue paham Ner.” Rasa lelah Eren seakan sangat lama menghilang. Hingga, terlihat Levi dan Floch yang kembali lagi menyusul, mendekati mereka. Raut panik dan khawatir sangat terlihat jelas di wajah keduanya.</p>

<p>“Kenapa kok kalian malah istirahat? Gue sama Pak Levi khawatir nyariin kalian.” Tanya Floch dengan lirh secara cepat meminta penjelasan kepada Reiner dan Berthold. Reiner hanya memberi <em>cue</em> untuk melihat ke arah Eren. Seketika Floch terdiam, karena jelas, amat jelas Eren sangat terengah-engah mengambil napas.</p>

<p>“Eren, kamu kenapa?” kali ini Levi yang bertanya.</p>

<p>“Reiner, ada masalah?” lanjutnya bertanya pada Reiner.</p>

<p>“Tidak Pak, Eren hanya butuh istirahat.” Sebisa mungkin Reiner tidak menyebut kata-kata sakral yang sudah kondang dihindari untuk diucapkan di kalangan pendaki, seperti lelah contohnya dan kata-kata lain yang bermakna untuk mengeluh. Mereka dengan sabar menunggu Eren hingga merasa lebih baik. Kali ini Levi memutuskan untuk mengganti formasi. Floch tetap di depan, sedangkan Levi akan bertukar tempat dengan Eren, selebihnya tetap sama, dan jarak mereka yang tidak boleh terlalu jauh antar satu dengan lainnya.</p>

<p>Semuanya dengan cepat setuju. Dengan dibantu Levi, Eren berdiri dan mulai berjalan. Floch berjalan dengan sangat lambat kali ini, ia tidak akan meninggalkan timnya lagi. Begitu pun yang lain, sudah mengerti ada suatu hal yang aneh dan mereka tidak bisa menghiraukannya begitu saja.</p>

<p>Eren berjalan dengan sangat amat pelan, ia bahkan membutuhkan <em>tracking pole</em> untuk membantunya melangkah. Terasa presensi Levi yang sangat dekat dengannya mengamati dari belakang secara intens. Ia merasa cukup membaik, paling tidak, dekat dengan Levi membuatnya tenang dan merasa aman.</p>

<p>Hasilnya, perjalanan ke pos empat sangat lama, jauh dari perkiraan dan info yang mereka dapat dari petugas <em>basecamp</em>. Mereka menghabiskan waktu dua jam untuk sampai ke pos 4. Padahal untuk normalnya, hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam dari pos 3. Mereka sampai di pos 4 pada pukul 11.45. Sesampainya di pos 4, Levi mengecek Eren terutama karena dia yang paling berantakan dibanding semuanya.</p>

<p>“Eren? Aman? Sudah lebih baik?” tanya Levi.</p>

<p>“Sudah mendingan, Pak,” balasnya. Levi kemudian memandangi yang lain dan langsung memutuskan.</p>

<p>“Oke, silakan minum dan makan bekal kalian. Kita istirahat 5 menit, kemudian langsung lanjut pos 5.” Levi berkata secara cepat.</p>

<p>“Pak, bisakah lebih lama lagi istirahatnya?” tanya Berthold.</p>

<p>“Kamu butuh istirahat lebih?”</p>

<p>“Iya Pak,”</p>

<p>“Reiner, tukar tempat dengan Bert. <em>Carrier</em> kamu juga tukar. Berthold mampu jadi <em>sweeper</em> kan? Reiner logistik dan Berthold jadi <em>sweeper</em>.”</p>

<p>“Tolong kalau mampu jangan protes. Percaya saya, percaya insting saya. Kita akan beristirahat di pos lima saja.” Mereka semua mengangguk, tanpa banyak tanya. Semuanya seakan mengerti maksud Levi, tak lain dan tak bukan karena kejadian yang tadi menimpa Eren.</p>

<blockquote><p><em>**Hint: kalau ngeh kenapa Eren bisa begitu, sebenernya tadi dia udah sempat ngucap kata terlarang secara gak sadar.</em>**</p>

<p><em>**Bocoran: babak dua gue mulai buka dramanya, babak tiga bakal dibuka karater Levi aslinya sama  fokus ke hubungan Eren Levi lagi, mau dibawa kemana sama mereka.</em>**</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seedwaffle.writeas.com/babak-satu-the-journey</guid>
      <pubDate>Tue, 01 Mar 2022 04:47:27 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>